Baatarkhuu Vs. Alyshov: 4 Kunci Kemenangan Dalam Perebutan Gelar Juara Dunia ONE Bantamweight MMA Di The Inner Circle 24
Setelah mencetak sejarah bagi olahraga tarung Mongolia, Juara Dunia ONE Bantamweight MMA “The Tormentor” Enkh-Orgil Baatarkhuu kembali memasuki ring untuk menulis babak berikutnya. Namun, penantang yang tengah melesat, Elbek Alyshov, bertekad kuat untuk memastikan pertahanan gelar pertama sang juara bertahan juga menjadi yang terakhir.
Pahlawan olahraga Mongolia itu akan bentrok dengan sang petarung tak terkalahkan Azerbaijan-Rusia dalam laga puncak The Inner Circle 24. Ajang akbar tersebut akan berlangsung pada jam tayang utama Asia secara eksklusif via live.onefc.com dari Lumpinee Stadium di Bangkok pada Jumat, 31 Juli.
Perjalanan Baatarkhuu menuju takhta seolah berasal dari naskah film Hollywood. Penampilannya dalam serial populer Netflix, Physical: Asia, langsung disusul malam terhebat dalam karier profesionalnya. Kemenangan submission atas Fabricio “Wonder Boy” Andrade pada ronde keempat menjadikannya petarung kedua dari Mongolia yang meraih Gelar Juara Dunia ONE, mengikuti jejak sang mentor, mantan Juara Dunia ONE Featherweight MMA Narantungalag “Tungaa” Jadambaa.
Di sudut berlawanan berdiri seorang predator lapar yang bertekad merebut sorotan. Alyshov membawa rekor sempurna 10-0 dan rasio finis sebesar 90 persen. Dua penampilannya di ONE menjadi pernyataan tegas, Ia menaklukkan Jeremy “The Juggernaut” Pacatiw dan Carlo “The Bull” Bumina-ang lewat submission dalam dua ronde.
Berikut hal-hal yang harus dilakukan kedua petarung untuk membawa pulang sabuk emas seberat 12 kg pada Jumat malam nanti.
#1 Tekanan Tanpa Henti Dan Kontrol Clinch Baatarkhuu
Permainan Baatarkhuu yang mengerikan dibangun di atas fondasi sederhana, tetapi efektif. Ia terus maju, menyerap serangan rival tanpa ragu, lalu mengikis lawannya sedikit demi sedikit hingga semangat mereka benar-benar runtuh. Kombinasi unik antara dagu kokoh dan permainan clinch yang menyiksa itulah yang membawanya ke puncak divisi bantamweight.
Strategi tersebut terlihat jelas dalam penampilan perebutan Gelar Juara Dunia melawan Andrade. Baatarkhuu dengan percaya diri menerobos serangan-serangan terbaik bintang Brasil itu, lalu secara perlahan mematahkan perlawanannya sepanjang empat ronde sebelum mengamankan kuncian.
Dari clinch inilah serangan grappling berbahayanya bermula. Begitu atlet berusia 37 tahun itu menempel rapat dada dengan dada dan mendapatkan underhook dalam, jalur menuju kanvas pun terbuka. Dari sana, rangkaian cekikannya menjadi ancaman terbesar.
Menghadapi penantang yang sangat mengandalkan gulat seperti Alyshov, menguasai area tersebut menjadi sangat penting. Memulai pertarungan clinch bahkan sebelum laga benar-benar berlanjut ke ground dapat menetralkan upaya masuk milik sang penantang.
#2 Judo Elite Dan Takedown Eksplosif Alyshov
Alyshov tidak sekadar menjatuhkan lawan. Ia melempar mereka secara paksa.
Penantang yang belum mengenal kekalahan itu membanting lawan-lawannya dengan daya hancur dan kecepatan luar biasa yang membuat mereka kehilangan orientasi bahkan sebelum pertarungan ground benar-benar dimulai.
Perpaduan eksplosif antara judo dan gulat menjadi ciri utama sepanjang karier profesionalnya, dan panggung global ONE Championship semakin mempertajam eksekusinya. Ia melempar Pacatiw ke berbagai sisi ring sebelum memaksanya menyerah, lalu mengandalkan kekuatan fisik untuk menghantam Bumina-ang sebelum meraih kuncian kilat.
Selain itu, upaya masuk gulatnya jauh dari satu dimensi. Atlet berusia 27 tahun tersebut menggunakan striking dengan cerdas untuk memancing reaksi bertahan lawan, menurunkan level dengan kecepatan mengecoh, lalu melancarkan lemparan dan sapuan dari posisi yang tidak diperkirakan lawan. Begitu ia mulai mencengkeram, lawan hampir tidak pernah berhasil melepaskan diri.
Tekanan maju tanpa henti Baatarkhuu mungkin menjadi senjata terbesarnya, tetapi strategi tersebut juga memiliki risiko. Setiap langkahnya bisa membuka kesempatan bagi Alyshov untuk masuk secara eksplosif. Satu bantingan saja bisa langsung menempatkan sang raja Mongolia dalam ancaman.
#3 Pengalaman Juara Baatarkhuu
Ada satu aspek penting dalam permainan Baatarkhuu yang tidak bisa digambarkan sepenuhnya melalui statistik, dan hal tersebut bisa menjadi faktor penentu saat laga memasuki ronde-ronde kejuaraan yang menguras tenaga.
Wakil Shandas MMA dan Team Tungaa itu telah diuji di level tertinggi. Ia pernah berbagi ring dengan para atlet terbaik di divisi bantamweight, bertahan menghadapi segala jenis ancaman, lalu menemukan cara untuk menyelesaikan atau mengungguli mereka. Kedalaman pengalaman seperti itu tidak dapat digantikan.
Sebaliknya, dua penampilan Alyshov di ONE hanya berlangsung selama total 10 menit 31 detik. Meski sangat impresif di atas kertas, atlet Azerbaijan-Rusia itu belum pernah dipaksa menyesuaikan strategi di tengah tekanan berat atau menghadapi tuntutan fisik luar biasa pada ronde-ronde akhir dalam laga perebutan Gelar Juara Dunia.
Daya tahan Baatarkhuu yang nyaris tidak masuk akal telah ditempa melalui berbagai situasi sulit. Ketika fenomena berbakat Jhanlo Mark “The Machine” Sangiao menjatuhkannya, ia hanya bangkit, kembali maju, dan menyelesaikan pekerjaannya. Semakin lama laga berisiko tinggi ini berlangsung, semakin berbahaya “The Tormentor.”
#4 Kuncian Maut Milik Alyshov
Variasi kuncian Alyshov bukan sekadar alat untuk menyelesaikan laga. Ancaman tersebut selalu membayangi dan terus memaksa lawan membuat keputusan tergesa-gesa dalam kepanikan.
Setiap momen pertarungan jarak dekat membawa laga langsung ke area yang menguntungkan Alyshov. Kesalahan kecil saat menghadapi sang algojo kuncian sekaliber dirinya hampir selalu berakibat fatal.
Kemampuan jiu-jitsu sang penantang terstruktur secara rapi dan dinamis. Ia menahan Pacatiw dari posisi atas yang menyesakkan, lalu menghabisinya lewat arm-triangle choke yang nyaris tidak memberi ruang bernapas bagi atlet Filipina tersebut. Bumina-ang kemudian menyadari bahwa sang judoka sama berbahayanya saat berada di posisi bawah setelah terperangkap dalam guillotine choke tanpa menemui jalan keluar.
Meski belum ada lawan yang berhasil menaklukkan Baatarkhuu lewat kuncian, atlet Azerbaijan-Rusia itu punya modal kuat untuk meruntuhkan rekor tersebut. Ground-and-pound keras dapat perlahan merusak pertahanan sang juara dan secara alami membuka celah bagi rangkaian kuncian licinnya.
Jika Alyshov berhasil mendapatkan posisi dominan pada Jumat malam nanti, kejutan besar bisa tercipta. Dan Azerbaijan akhirnya akan memiliki Juara Dunia ONE MMA pertamanya.