‘Menjadi Stamp Yang Dulu’ – Stamp Fairtex Janjikan Versi Yang Lebih Baik Di ONE Fight Night 47
Mantan Juara Dunia ONE tiga disiplin Stamp Fairtex mengakui bahwa dirinya belum sepenuhnya kembali menjadi sosok yang dulu sejak turun bertanding lagi. Namun, ia bertekad mengubah itu saat mendapat sorotan utama di ONE Fight Night 47.
Ia akan menghadapi Juara Dunia WBC Muay Thai dua kali Selina “Teep Queen” Flores dalam laga atomweight Muay Thai yang disiarkan langsung pada jam tayang utama Amerika Serikat pada Sabtu, 5 September, dari Lumpinee Stadium di Bangkok.
Megabintang Thailand itu memburu kemenangan kedua secara beruntun setelah mengungguli Cynthia Flores di The Inner Circle 20 pada Juni lalu. Tangannya memang terangkat lewat keputusan terbelah malam itu, tetapi Stamp sendiri mengakui bahwa penampilannya masih jauh dari memuaskan.
Stamp tak pernah menjadi sosok yang bersembunyi di balik hasil akhir, dan kali ini pun demikian. Ia terbuka tentang bagian mana yang terasa menurun, sekaligus apa yang ia pelajari dari penampilan tersebut.
Ia berkata:
“Laga terakhir saya buruk. Itu adalah momen ketika saya paling kecewa pada diri sendiri setelah bertanding. Saya membaca beberapa komentar yang bilang Stamp sudah tidak punya killer instinct lagi, dan menurut saya ada sedikit benarnya karena saat itu saya memang tidak merasa segar.
“Tapi saya tidak akan menyalahkan siapa pun. Saya menyalahkan diri sendiri karena saya kurang tidur dan tidak makan dengan baik untuk laga itu. Saya juga gugup karena itu pertama kalinya saya kembali ke Muay Thai dalam enam tahun.”
Sepanjang sebagian besar enam tahun jauh dari Muay Thai, fokus Stamp hampir sepenuhnya beralih ke mixed martial arts.
Perubahan arah itu kemudian melahirkan salah satu malam terbaik dalam kariernya. Ia menghentikan Ham “Hamzzang” Seo Hee lewat TKO untuk merebut Gelar Juara Dunia ONE Women’s Atomweight MMA sekaligus melengkapi pencapaian langka sebagai Juara Dunia ONE tiga disiplin.
Namun, mendaki kembali menuju puncak ternyata bukan perkara sederhana. Mengembalikan kepercayaan terhadap tubuhnya sendiri sama beratnya dengan membangun lagi seluruh ketajaman bertarung yang pernah ia miliki.
Ia berkata:
“Saya juga membaca beberapa komentar, lalu berpikir, ‘Oke, saya akan menerimanya dan menjadikannya bahan untuk berkembang di laga berikutnya.’ Tapi hasil itu tidak memengaruhi saya sampai membuat saya berpikir, ‘Memangnya seburuk itu?’ Para juri jelas melihat saya sebagai pemenang, jadi artinya saya memang menang.
“Saat melihat kembali laga itu, saya merasa ingin menjadi Stamp yang dulu lagi. Saya mencoba memaksa diri, tetapi masih ada suara kecil yang berkata, ‘Bagaimana kalau saya cedera lagi?’ Jadi sebagian diri saya merasa lebih baik bermain aman dan bertarung lebih cerdas.”
Versi Stamp seperti itulah yang belum sepenuhnya kembali terlihat. Setiap kali wakil Fairtex Training Center tersebut naik ke panggung global, para penggemar berharap bisa kembali menyaksikan sosok eksplosif yang dahulu membuat namanya begitu dicintai.
Atlet yang berbasis di Pattaya itu memahami kerinduan tersebut, bahkan merasakannya sendiri. Namun, ia juga sadar bahwa Stamp yang lama tidak bisa kembali hanya dalam semalam. Masa panjang jauh dari kompetisi memberinya satu pelajaran yang tak pernah bisa diajarkan pemusatan latihan mana pun: terkadang kesabaran lebih berharga daripada hasil instan.
Perspektif itulah yang ia bawa menuju ONE Fight Night 47:
“Sejujurnya, ada banyak tekanan untuk laga ini karena banyak orang berharap saya kembali seperti dulu. Bahkan saya sendiri juga mengharapkan itu. Saya ingin bertarung seperti dulu dan menjadi versi diri saya yang saat itu. Tapi banyak hal sudah berubah.
“Saya jauh dari kompetisi selama dua atau tiga tahun, jadi dari situlah saya mulai melambat dan kehilangan sebagian insting sebagai petarung. Rasanya seperti harus memulai lagi dari nol. Sekarang saya sedang berusaha membangun diri kembali dan terus menjadi lebih baik.”
Tak Hanya Lebih Keras, Stamp Juga Ingin Lebih Cerdas
Memulai lagi dari nol membuat Stamp Fairtex memilih jalan berbeda. Sejak mengalami cedera, ia memasuki setiap pemusatan latihan dengan pola pikir yang baru.
Jika dahulu latihannya identik dengan volume tinggi dan ketangguhan tanpa kompromi, kini sang megabintang tiga disiplin memilih pendekatan yang lebih terukur. Perubahan itu lahir dari kebutuhan, karena tubuhnya tak lagi bisa menerima beban yang dulu seolah dapat ia abaikan begitu saja.
Stamp pun tak menutupi seperti apa perubahan tersebut dijalankan dalam keseharian.
Ia berkata:
“Dulu, saat latihan, saya melakukan semuanya habis-habisan. Apa pun akan saya lakukan. Tapi sekarang, setelah cedera, seperti yang saya bilang, saya harus berlatih dengan lebih cerdas.
“Apa maksudnya berlatih lebih cerdas? Artinya menggunakan sports science untuk membantu latihan saya. Kalau ada sesuatu yang bisa disesuaikan untuk melengkapi latihan lari saya, saya akan memasukkannya. Dengan begitu, saya bisa membangun kekuatan lewat cara lain.”
Meski begitu, pendekatan baru tersebut belum menghapus seluruh tantangan. Beberapa dampak fisik dari masa panjang tanpa bertanding membutuhkan waktu lebih lama untuk benar-benar ditinggalkan.
Kondisi fisik menjadi salah satu ujian terbesarnya. Jarak antara kemampuan tubuhnya dahulu dan kondisi saat ini ternyata lebih sulit dipangkas daripada yang semula ia bayangkan, sekaligus menjadi proses yang mengajarkannya banyak hal.
Ia menambahkan:
“Yang saya sadari setelah pulih dari cedera dan kembali adalah saya mudah lelah. Terlalu lama jauh dari kompetisi memengaruhi kardio, otot, kecepatan, semuanya. Kepercayaan diri saya juga.”
Terlepas dari seluruh proses tersebut, Stamp datang ke laga ini dengan kondisi yang jauh lebih baik. Flores sendiri bukan lawan yang bisa dipandang sebelah mata. Sang Juara Dunia WBC Muay Thai dua kali tengah membawa lima kemenangan beruntun dan hadir sebagai ancaman nyata di partai utama.
Namun, sebesar apa pun bahaya yang dibawa atlet Amerika tersebut, Stamp mengakui bahwa lawan terberatnya pekan ini mungkin masih sosok yang ia lihat sendiri di depan cermin.
Atlet berusia 28 tahun itu menutup:
“Tantangan terbesar saya sekarang adalah menjadi Stamp yang dulu lagi. Itulah tantangan terbesarnya. Semua orang mengharapkan itu, dan saya juga mengharapkannya dari diri sendiri. Saya sudah berusaha sangat keras untuk kembali semaksimal mungkin menjadi Stamp yang dikenal semua orang.”