‘Saya Tidak Lagi Terbawa Emosi’ – Tak Lagi Remaja, Zhang Peimian Kini Memasuki Masa Terbaiknya

Zhang Peimian gets ready for his fight at ONE Friday Fights 142

Terakhir kali “Fighting Rooster” Zhang Peimian menghadapi Jonathan Di Bella, ia baru berusia 19 tahun, sedang memburu gelar Juara Dunia ONE, dan belum benar-benar siap menghadapi seluruh tekanan yang menyertainya.

Hampir empat tahun kemudian, versi Zhang yang lama sudah tidak ada.

Pada Jumat, 17 Juli, petarung Tiongkok itu akan menantang Juara Dunia ONE Strawweight Kickboxing Jonathan Di Bella dalam partai utama The Inner Circle 22 di Lumpinee Stadium yang ikonik di Bangkok, Thailand. Ajang tersebut akan disiarkan secara eksklusif bagi member melalui live.onefc.com.

Laga ulang ini terjadi setelah penantian lebih dari tiga setengah tahun. Kali ini, petarung Tiongkok yang masuk ke dalam ring telah berkembang jauh dibanding remaja yang tampil dalam perebutan gelar Juara Dunia ONE Strawweight Kickboxing yang lowong di ONE 162 pada Oktober 2022.

Pertemuan pertama mereka berlangsung dalam perang lima ronde yang sesungguhnya. Zhang, yang saat itu sudah dianggap sebagai salah satu striker muda paling berbakat di ONE Championship, mampu meladeni permainan petarung kidal Italia-Kanada tersebut dan memaksanya bekerja keras sepanjang laga. Hook kiri dan low kick andalannya berulang kali menemukan sasaran.

Kemudian tibalah ronde kelima.

Di Bella mendaratkan tendangan ke kepala yang menghasilkan knockdown krusial dan mengubah momentum pertandingan. Momen tersebut akhirnya menjadi pembeda saat para juri memberikan kemenangan mutlak kepada petarung asal Montreal itu.

Malam tersebut berakhir dengan kekalahan bagi “Fighting Rooster,” sabuk Juara Dunia ONE yang gagal diraih, serta pelajaran yang hanya bisa diperoleh lewat pengalaman pahit.

Kini, menjelang kesempatan keduanya merebut gelar, Zhang memiliki cukup waktu untuk melihat kembali sosok remaja yang tampil pada laga tersebut dan memberikan sesuatu yang belum ia miliki saat itu: perspektif.

Petarung berusia 22 tahun itu berkata:

“Saya akan mengatakan kepadanya bahwa tidak ada kemenangan sebelum bel terakhir berbunyi. Berikan seluruh kemampuanmu sampai detik terakhir.”

Di Bella memasuki laga ulang ini dalam performa terbaik. Petarung berusia 29 tahun itu membawa rekor 15-1 dan sedang menikmati tiga kemenangan beruntun yang menegaskan statusnya sebagai salah satu striker paling komplet di dunia.

Pertemuan pertama mereka bukan sekadar duel antara dua kickboxer elite. Sepanjang laga, Di Bella berusaha mengusik mental Zhang, dan strateginya berhasil memancing reaksi dari petarung muda Tiongkok yang saat itu belum siap menghadapinya.

Hampir empat tahun yang dipenuhi pengalaman, kegagalan, dan perkembangan telah menutup kelemahan tersebut sepenuhnya. Kemampuan Zhang memang terus diasah di sasana, tetapi perubahan yang paling ia hargai jauh melampaui peningkatan teknis.

Ia berkata:

“Senjata saya semakin tajam dan mental saya semakin kuat. Dia terus mengejek saya sepanjang pertarungan, dan saat itu saya terpancing. Hal itu tidak akan terjadi lagi.”

Zhang Telah Tumbuh Di Luar Ring Dan Tak Lagi Membutuhkan Pengakuan

Tahun-tahun yang memisahkan dua laga perebutan gelar Juara Dunia ONE Strawweight Kickboxing melawan Jonathan Di Bella tidak hanya membentuk Zhang Peimian sebagai petarung. Periode tersebut juga mengubahnya sebagai pribadi.

Masa-masa awal kariernya di ONE Championship, ketika bakatnya membuat Zhang begitu dicintai dan setiap gerakannya mendatangkan perhatian serta pujian, kemudian berubah menjadi periode panjang penuh sorotan negatif yang mungkin akan menghancurkan banyak atlet muda.

Saat Zhang menjalani fase tersulit dalam kariernya, para penggemar di media sosial berbalik menyerangnya dengan keras selama hampir dua tahun. Ia awalnya merasa marah, kemudian mencoba memahami semuanya, sebelum akhirnya mencapai ketenangan yang tak pernah dibayangkan oleh dirinya yang lebih muda.

“Fighting Rooster” berkata:

“Ketika pertama kali masuk lima besar di ONE Championship, orang-orang sangat menyukai saya. Saya bahkan tidak bisa makan sendiri karena banyak orang mengantre untuk makan malam bersama saya. Kemudian saya mulai mengalami rentetan kekalahan, dan kebencian yang saya terima di media sosial sungguh luar biasa.

“Hal itu berlangsung selama dua tahun. Awalnya saya marah, lalu mencoba memahaminya, tetapi akhirnya saya justru menikmatinya. Sekarang setelah saya kembali mencatat kemenangan beruntun dan mendapat kesempatan perebutan gelar, semakin banyak orang kembali menunjukkan dukungan. Namun, saya tidak lagi terbawa emosi. Saya rasa mental saya sudah banyak berubah sejak terakhir kali kami bertarung.”

Selengkapnya di Berita

Jaradchai Maxjandee punches Othman Rhouni at ONE Friday Fights 161
Petsiam Jor Patreeyakelasiamsurin punches Ryuki Matsuda at ONE Friday Fights 130
Joshua Pacio celebrates his ONE World Title victory over Mansur Malachiev at The Inner Circle 21
Shozo Isojima punches Eduard Folayang at The Inner Circle 21
Jonathan Haggerty faces former king Hiroki Akimoto in Tokyo
Joshua Pacio faces off with Mansur Malachiev ahead of their rematch at The Inner Circle 21
Photo collage of Lito Adiwang and Antonio Cesar
Johan Ghazali and Ramadan Ondash 1 scaled
Rifdean Masdor celebrates his win against Nongbia LaoLaneXang at ONE Friday Fights 107.
ramboIQ
Numsurin Chor Ketwina showed no mercy against Songchainoi Kiatsongrit at ONE Friday Fights 160.
British Muay Thai fighter George Jarvis punches Rungrawee Sitsongpeenong to the head