Ada Atlet Indonesia, Ini 3 Alasan Wajib Nonton The Inner Circle 32 Pada 25 September
Aksi seni bela diri kelas dunia kembali hadir di ibu kota Thailand pada Jumat, 25 September, saat The Inner Circle 32 tayang live dan eksklusif via live.onefc.com dari arena bersejarah Lumpinee Stadium di Bangkok.
Dua Juara Dunia Muay Thai ternama akan menjajal ranah kickboxing demi menambah warisan panjang mereka. Di sisi lain, sederet striker ambisius mendapat peluang berharga untuk memperkenalkan diri di panggung global.
Berikut tiga alasan mengapa edisi terbaru dari serial mingguan ini wajib masuk daftar tontonan Jumat nanti.
#1 ‘The Angel Warrior’ Lanjutkan Kebangkitan Di Kickboxing
“The Angel Warrior” Panpayak Jitmuangnon merupakan salah satu figur Muay Thai Thailand paling berprestasi sekaligus dicintai penggemar. Kini, pada usia 30 tahun, ia sedang menulis babak baru lewat disiplin olahraga yang berbeda.
Juara Dunia Muay Thai Lumpinee Stadium dan Rajadamnern Stadium tujuh kali itu membawa kemampuan striking kelas elite ke panggung global, tempat ia memulai kiprah di ONE dengan rekor impresif 5-2 dari Muay Thai dan kickboxing.
Namun, kekalahan knockout mengejutkan dari Egor Bikrev dan Juara Dunia ONE Flyweight Muay Thai saat ini Asadula “The Dagestan Ninja” Imangazaliev membuatnya beralih dari “seni delapan tungkai.” Kickboxing justru terbukti cocok dengan permainannya, karena pertahanan solid dan kombinasi presisinya semakin efektif dengan sarung tinju 8-ons.
Dengan semangat baru dan fokus penuh, perwakilan Jitmuangnon Gym itu kembali ke performa terbaik lewat kemenangan keputusan meyakinkan atas Othman “The Ironside” Rhouni dan Anuar Cisneros.
Namun, kemenangan ketiga secara beruntun menuntut disiplin tinggi saat menghadapi kompatriotnya, Lamnamoonlek Torfunfarm. Perwakilan TDed99 itu datang ke partai utama sesama Thailand dengan tekad mengembalikan momentum setelah rentetan tiga kemenangannya terhenti.
Pada akhirnya, kemenangan meyakinkan akan semakin menegaskan kebangkitan Panpayak sekaligus membawanya naik dalam persaingan menuju Juara Dunia ONE Flyweight Kickboxing “The Kicking Machine” Superlek.
#2 Kongthoranee Jajal Kickboxing Kontra Talenta Berbahaya China
Mantan Juara Dunia Rajadamnern Stadium Muay Thai dua kali Kongthoranee Sor Sommai mengikuti langkah Panpayak dengan menjajal wilayah baru demi menghidupkan kembali perburuannya menuju sabuk emas seberat 26 pon.
Kongthoranee meraih kontrak enam digit lewat tujuh kemenangan beruntun yang luar biasa, termasuk hasil impresif atas Jaosuayai Mor Krungthepthonburi, Nakrob Fairtex, dan mantan Juara Dunia ONE Bantamweight Muay Thai Nong-O Hama.
Namun, setelah itu jagoan berusia 29 tahun tersebut menelan empat kekalahan beruntun dalam laga-laga penting, yang terakhir terjadi pada duel triloginya melawan Nong-O.
Demi mencari awal baru, Kongthoranee membawa naluri counter-striking kelas tingginya ke flyweight kickboxing. Namun, tak ada laga pemanasan baginya. Yang sudah menunggu adalah talenta China berusia 23 tahun Yuan Pengjie, yang datang dengan rekor keseluruhan impresif 40-4.
Sebagai salah satu nama muda paling menarik di divisi yang sarat talenta, perwakilan Sitsongpeenong itu sudah membuktikan kualitasnya lewat kemenangan meyakinkan atas dua veteran Thailand, Lamnamoonlek dan Jaosuayai. Jika mampu menyelesaikan Kongthoranee secara meyakinkan, kemenangan itu akan menjadi pencapaian terbesar dalam kariernya sekaligus bisa membuka jalan menuju kontrak senilai US$100.000 (Rp1,8 miliar).
Dari sisi gaya, duel ini menawarkan benturan yang menarik antara presisi terukur Kongthoranee dan volume serangan dinamis milik Yuan. Seorang veteran yang ingin membuktikan diri akan menghadapi talenta muda dengan peluang besar di depan mata.
#3 Susanti Ndapataka Debut Untuk Wakili Indonesia
Di luar dua laga utama, kartu ini juga dihuni sederet petarung yang memburu kemenangan yang bisa mengubah arah karier mereka.
Di garis terdepan ada jagoan Prancis-Aljazair berusia 25 tahun Enzo Kartoum. Sang Juara Dunia ISKA Kickboxing datang ke ONE Championship dengan delapan kemenangan beruntun, tetapi debutnya tidak berjalan sesuai rencana. Kekalahan kompetitif lewat keputusan mutlak dari Mamuka Usubyan dalam laga kickboxing di ONE Friday Fights 158 pada Juni lalu menjadi pelajaran penting sekaligus mengubah rekornya menjadi 16-3.
Sejak saat itu, perwakilan Venum Training Camp dan Team Mehdi Zatout tersebut terus bekerja keras dan kini beralih ke featherweight Muay Thai untuk menghadapi Konstantin Shakhtarin, sebuah disiplin yang bisa memberi ruang lebih besar bagi naluri penyelesaiannya di panggung global.
Selain itu, atlet top asal Swiss, Zoe Neuschwander, memburu kemenangan ketiga beruntun di ONE setelah tampil klinis melawan Yara Saleh dan Taylor “Tay-Tay” McClatchie. Seniman bela diri asal Phuket Fight Club itu ingin merusak debut jagoan Indonesia yang belum terkalahkan sekaligus peraih medali emas Asian Kickboxing Championship 2024, Susanti Ndapataka, dalam laga flyweight Muay Thai wanita.
Striker Kazakhstan tak terkalahkan Arsen Soiyrkas juga mengincar kesan pertama yang kuat ketika menghadapi spesialis volume serangan asal Jepang Jin Mandokoro dalam laga strawweight kickboxing.
Bagi mereka semua, kontrak yang bisa membuka pintu menuju level berikutnya masih tersedia untuk direbut. Tanggal 25 September bisa menjadi malam yang mengubah segalanya.