5 Alasan Wajib Nonton ONE Fight Night 48: Erdogan Vs. Elliott
ONE Championship membuka rangkaian jam tayang utama Amerika Serikat untuk kuartal keempat 2026 lewat ONE Fight Night 48: Erdogan vs. Elliott.
Disiarkan langsung dari Lumpinee Stadium yang ikonik di Bangkok, Thailand, pada Jumat, 2 Oktober, kartu pertandingan ini menghadirkan sembilan laga menarik dalam Muay Thai, MMA, kickboxing, dan submission grappling.
Deretan pertandingan tersebut mempertemukan para pemburu Gelar Juara Dunia, finisher berbahaya, serta seniman bela diri yang membawa taruhan besar ke dalam laga. Dari bel pertama hingga terakhir, banyak aksi yang sayang dilewatkan.
Berikut lima alasan ONE Fight Night 48 wajib masuk daftar tontonan Anda.
#1 Badai Heavyweight MMA Dengan Taruhan Gelar Juara Dunia
Jagoan Turki tak terkalahkan Shamil Erdogan telah melibas setiap lawan yang menghadangnya di panggung global, dan ia bertekad menjaga rekor sempurna tersebut dalam partai utama heavyweight MMA melawan Paul “King of the North” Elliott.
Erdogan menuntaskan seluruh laganya di ONE dengan cara spektakuler, termasuk dua knockout dalam waktu kurang dari semenit atas “The Burmese Python” Aung La N Sang dan Gilberto Galvao.
Ia memulai karier di middleweight sebelum naik kelas untuk mencari tantangan lebih besar, tetapi daya hancur kedua tangannya tetap sama berbahayanya di heavyweight.
Tambahkan daya tahan luar biasa yang sejauh ini belum benar-benar digoyahkan, dan tak sulit memahami kenapa petarung berusia 36 tahun tersebut membawa rekor sempurna 13-0 menuju laga ini. Satu kemenangan besar lagi dapat membawanya ke ambang kesempatan memperebutkan Gelar Juara Dunia ONE Heavyweight MMA yang lowong, meski Elliott tentu datang dengan rencana berbeda.
“King of the North” juga memiliki tingkat penyelesaian 100 persen di ONE dan tampaknya tengah berada dalam performa terbaik menjelang duel ini. Setelah mengawali kiprahnya dengan sulit, atlet berusia 34 tahun tersebut mencatat dua penyelesaian beruntun atas “Rising Rock Star” Ryugo Takeuchi dan Regan Upshaw.
Kemenangan terakhirnya bahkan datang lewat tendangan kepala hanya dalam enam detik di ONE Fight Night 44 pada Juni lalu.
Saat dua raksasa dengan daya hancur seperti ini bertemu, benturannya saja sudah menjadi alasan kuat untuk menyaksikan laga.
#2 Deretan Laga Dengan Potensi Finis
Selain dua raksasa heavyweight yang mengoleksi total 16 knockout sepanjang karier, sisa kartu ONE Fight Night 48 juga dipenuhi para algojo berbahaya.
Striker Inggris Charlie Guest datang dengan 15 kemenangan knockout. Ia langsung membuktikan reputasi tersebut dalam debut ONE di ONE Fight Night 44 dengan menghentikan Sam Fitzgerald pada ronde kedua lewat aturan tiga knockdown, dengan kombinasi pukulan di sudut ring menjadi serangan terakhir.
Di laga lain, Nakrob Fairtex dan Parham Gheirati membawa naluri penyelesaian serupa ke duel bantamweight Muay Thai. Keduanya sama-sama telah mencatat lima penyelesaian di ONE.
Melengkapi deretan tersebut ada Yu Yau Pui, yang sudah terbiasa menghadirkan momen spektakuler di panggung global. Bintang Hong Kong itu akan memburu penyelesaian kelimanya di ONE saat menghadapi jagoan Inggris-Irlandia Marie “The Celtic Queen” McManamon dalam laga atomweight Muay Thai.
#3 Sorotan Besar Untuk Divisi Featherweight Muay Thai
Divisi featherweight Muay Thai mendapat panggung khusus lewat dua laga di kartu ini, dan keduanya membawa taruhan penting.
Luke “The Chef” Lessei akan menghadapi Charlie Guest dalam partai pendukung utama, dengan keduanya membawa motivasi besar.
Lessei belum mampu mencatat kemenangan beruntun sejak bergabung dengan ONE, dan striker Amerika itu ingin akhirnya membangun momentum yang selama ini belum berhasil ia pertahankan.
Guest, di sisi lain, datang dengan kepercayaan diri tinggi setelah menjalani debut impresif. Ia melihat duel ini sebagai langkah berikutnya dalam ambisi untuk melesat cepat menuju jajaran teratas divisi.
Di laga lain, Arian “Destroyer” Esparza dan Sam Fitzgerald menghadirkan benturan gaya yang tak kalah menarik. Keduanya merupakan petarung teknis yang piawai melakukan counter, tetapi juga mampu meningkatkan tempo saat dibutuhkan.
Kemenangan bagi Esparza yang berusia 23 tahun akan membawanya kembali ke jalur kemenangan, sementara hasil positif bagi Fitzgerald dapat membantunya melupakan kekalahan dari Guest pada Juni lalu.
Apa pun hasil kedua laga tersebut, Juara Dunia ONE Featherweight Muay Thai “King of the North” Nico Carrillo hampir pasti akan mengamati perkembangan para calon penantangnya.
#4 Para Penantang Gelar Juara Dunia Masa Depan Bisa Bermunculan
Sejumlah nama yang tampil di ONE Fight Night 48 memiliki kesempatan nyata untuk merangsek ke persaingan Gelar Juara Dunia jika mampu meninggalkan Lumpinee Stadium dengan kemenangan.
Jagoan Iran Parham Gheirati diam-diam berkembang menjadi salah satu nama paling menarik di divisi. Ia mencatat rekor 7-1 di ONE, dengan satu-satunya kekalahan datang lewat knockout dari Rambolek Chor Ajalaboon.
Berbicara awal pekan ini, talenta berusia 22 tahun tersebut menegaskan ambisinya untuk menjalani laga ulang melawan petarung Thailand itu, membalas kekalahan, lalu menantang Juara Dunia ONE Bantamweight Muay Thai Yod-IQ Or Pimolsri.
Di laga lain, Elbrus “The Samurai” Osmanov kembali ke kickboxing setelah mencatat rekor dominan 3-0 dalam Muay Thai sepanjang setahun terakhir.
Jagoan Rusia tersebut sempat mengawali kiprahnya dalam kickboxing di organisasi seni bela diri terbesar di dunia dengan sangat impresif sebelum mengalami kekalahan pertama dalam karier dari mantan Juara K-1 Yuki Yoza.
Namun, kemenangan meyakinkan atas Yi Yuxuan dapat membawanya menuju kesempatan memperebutkan sabuk bantamweight kickboxing, entah gelar tersebut masih berada di tangan Jonathan “The General” Haggerty atau berpindah saat ia menghadapi Hiroki Akimoto di ONE SAMURAI 4 di Tokyo, Jepang, pada Sabtu, 17 Oktober.
#5 Duel Grappling Penuh Teknik Dan Presisi
Sebagian besar bintang kelas dunia di ONE Fight Night 48 membawa ancaman besar lewat striking, tetapi Shoya Ishiguro dan Ruan Alvarenga menawarkan jenis bahaya berbeda di ibu kota Thailand pada Jumat ini, yakni permainan leverage, posisi, dan perburuan submission tanpa henti.
Ishiguro telah mengantongi empat kemenangan di ONE berkat kemampuan teknis yang sangat lengkap. Petarung berusia 30 tahun itu mampu mengungguli sesama sabuk hitam Jepang lewat volume teknik, tetapi juga telah membuktikan kemampuannya menyelesaikan laga lebih cepat.
Ia menaklukkan Bruno “Macaco” Azevedo lewat inside heel hook yang rapat dan memaksa Denny Sisti menyerah melalui neck crank.
Prestasinya di luar ONE juga tak kalah mentereng. Ishiguro meraih medali perak IBJJF European Championship 2025 dan perunggu di IBJJF World Championship pada tahun yang sama.
Sementara itu, Alvarenga langsung membuat pernyataan besar dalam debut ONE dengan mengungguli Juara Dunia IBJJF dua kali Meyram Maquine, rival yang sebelumnya juga pernah ia kalahkan di sirkuit regional.
Ia membawa rekor 21-6 serta permainan top position dominan yang dibangun lewat kontrol posisi tanpa henti. Namun, saat menghadapi Maquine, Alvarenga juga menunjukkan bahwa dirinya sanggup bekerja melewati scramble untuk tetap mendapatkan kemenangan.
Apa pun hasil duel featherweight submission grappling ini, bersiaplah menyaksikan pertarungan taktik antara dua maestro yang mampu merangkai submission dalam sekejap di atas kanvas.