‘Hormati Semua Orang Tanpa Takut Pada Siapa Pun’ – Didikan Keras Sang Ibu Membentuk Regian Eersel Menjadi Juara Dunia ONE
Bagi dunia olahraga tarung, Juara Dunia ONE dua disiplin Regian “The Immortal” Eersel adalah seniman bela diri yang sulit dihentikan berkat dominasi di luar nalar. Namun, di balik sosok menakutkan tersebut terdapat prinsip hidup yang dibentuk tanpa kompromi oleh seorang ibu.
Eersel akan mempertahankan Gelar Juara Dunia ONE Lightweight Muay Thai melawan George “G-Unit” Jarvis dalam partai utama The Inner Circle 33 pada Jumat, 2 Oktober. Ajang tersebut disiarkan eksklusif bagi member lewat live.onefc.com dari Lumpinee Stadium di Bangkok.
Jelang laga akbar pada jam tayang utama Asia tersebut, sang juara bertahan membuka sedikit cerita tentang hubungannya dengan sang ibu, serta pelajaran yang baru ia pahami setelah bertahun-tahun melewati pengalaman sulit.
Dibesarkan Dengan ‘Cara Suriname’
Jauh sebelum sabuk juara dan panggung global hadir dalam hidupnya, karakter Eersel ditempa di rumah yang penuh kedisiplinan.
Pengaruh sang ibu begitu dalam. Ia memegang prinsip tegas yang dirancang untuk mempersiapkan putranya menghadapi kerasnya kehidupan.
Didikan tersebut memang berat. Kasih sayang selalu ada, tetapi tak pernah mengorbankan standar yang harus dipenuhi.
Sang juara dua disiplin berkata kepada onefc.com:
“Dia membesarkan saya dengan cara Suriname. Ibu Anda bukan teman Anda, kan? Kedengarannya memang keras, tetapi itulah kenyataannya. Ibu Anda ada untuk mengajarkan aturan hidup, dan bagi seorang anak, itu sangat sulit.”
Prinsip tersebut tak berhenti di dalam rumah. Nilai-nilai yang ditanamkan sang ibu tetap menjadi fondasi Eersel saat bertanding dan menjalani kehidupan hingga hari ini.
Setiap prinsip yang ia pegang selalu dapat ditelusuri kembali kepada sang ibu.
Ia berkata:
“[Saya belajar untuk] bangga dengan siapa diri saya, dan menunjukkan kepada semua orang kenapa saya ingin berada di sini. Dan tentu saja, menunjukkan kepada semua orang siapa diri saya.
“Hormati semua orang, tak takut pada siapa pun. Perlakukan hampir semua orang seperti Anda ingin diperlakukan. Tak peduli jabatan mereka, warna kulit, ukuran tubuh, atau pekerjaan mereka. Tetap berpegang pada aturan Anda sendiri.”
Ultimatum Untuk Eersel
Namun, saat itu keduanya belum menyadari bahwa hubungan mereka perlahan mendekati titik kritis. Ketika Eersel mulai memasuki usia dewasa, aturan ketat sang ibu terasa lebih seperti penghalang daripada fondasi.
Sebagai remaja keras kepala, ia berulang kali melawan dan menguji batas. Sang ibu tetap teguh hingga akhirnya memberikan pilihan tanpa jalan tengah.
Pria yang kini menetap di Amsterdam itu berkata:
“Saya bertengkar dengannya soal aturan di rumah ketika masih remaja. Saya tidak mengikuti aturan di rumah. Saya keras kepala. Jadi dia berkata, ‘Kalau kamu tidak mau mengikuti aturan, kamu harus pindah.’ Saat itu saya berusia 18 tahun.”
Perpecahan itu akhirnya dipicu sesuatu yang terdengar sederhana, yakni pulang melewati batas waktu.
Didorong oleh gengsi dan keras kepala, Eersel muda mengemasi barang-barangnya lalu meninggalkan rumah.
Ia berkata:
“Saya melanggar banyak aturan, tetapi yang saya langgar saat itu adalah pulang terlambat. Jadi bagi dia, itu sudah menjadi batas terakhir.
“Itu menjadi pelajaran hidup. Dan karena kepala saya keras, saya pindah karena saat itu saya berpikir, ‘Sudahlah, saya pergi saja.’”
Dipaksa Dewasa Dalam Sekejap
Setelah itu, hubungan ibu dan anak tersebut benar-benar terputus. Sosok yang selalu hadir dalam kehidupan Eersel mendadak tak lagi ada di sisinya.
Ia harus menghadapi konsekuensi dari kebebasan penuh dan mendadak menjalani kerasnya kehidupan orang dewasa. Segala kenyamanan di rumah yang sebelumnya ia anggap biasa hilang, digantikan tuntutan untuk mengurus semuanya sendiri.
“The Immortal” berkata:
“Saya tidak berbicara dengannya selama sekitar dua atau tiga tahun. Dan percayalah, itu masa yang berat.
“Tiba-tiba saya harus membayar sewa, membeli makanan sendiri, memasak makan malam sendiri, mengurus semuanya, hal-hal biasa yang sebelumnya dilakukan orang tua saya. Dan itu berat.”
Ironisnya, prinsip-prinsip yang dulu ingin ia tinggalkan justru menjadi pegangan utama yang membantunya bertahan.
Meski mereka tak saling bicara, suara sang ibu tetap hidup dalam pikirannya. Disiplin yang selama bertahun-tahun ditanamkan kepadanya menjadi tenaga pendorong yang mencegah Eersel menyerah di bawah tekanan.
Ia berkata:
“Saya harus bekerja sekitar 40 jam seminggu. Saya tetap berlatih karena saat berusia 18 tahun, saya sudah menjadi petarung profesional. Tetapi saat itu saya belum menghasilkan cukup uang dari bertarung untuk membiayai hidup.
“Jadi, masa itu cukup berat, dan saya memang keras kepala. Saya ingin membuktikan kepada diri sendiri, tetapi juga kepada orang tua saya, bahwa saya bisa melakukan semua ini sendiri.”
Telepon Yang Selalu Ia Lakukan
Waktu dan kedewasaan pada akhirnya menyembuhkan jarak yang tercipta karena pemberontakan masa muda.
Tahun-tahun berat ketika mereka terpisah perlahan berganti menjadi rasa saling menghormati, hingga sesuatu yang dulu memisahkan keduanya justru berubah menjadi ikatan kuat yang dipenuhi rasa syukur.
Kini, saat Eersel menguasai dua disiplin dengan total 52 pon sabuk emas di pundaknya, orang yang membentuk mentalitasnya tetap menjadi sosok pertama yang ia pikirkan setelah setiap laga. Sebelum perayaan dimulai, selalu ada satu ritual yang harus ia lakukan.
Sang raja lightweight berkata:
“Dia menonton [pertandingan saya] setelah saya meneleponnya dan mengatakan bahwa saya baik-baik saja dan tidak mengalami cedera serius. Setelah itu, barulah dia bisa menonton ulang pertandingannya.
“Bagi dia, saya tetap anak laki-laki kecilnya. Tetapi di sisi lain, saya juga seorang pria yang membanggakan, suami yang membanggakan, dan ayah yang membanggakan. Saya rasa dia akan mengatakan itu.”
Yang dibawa Eersel saat ini bukanlah rasa kecewa, melainkan pemahaman.
Kini setelah menjadi seorang ayah, ia akhirnya memahami apa yang sejak awal diketahui sang ibu.
Karena itu, ketika menghadapi Jarvis pada Jumat ini, nilai-nilai sang ibu, standar yang ia tanamkan, serta kasih sayang tanpa kompromi tersebut juga akan dibawa Eersel ke dalam ring.
Ia berkata:
“Saya masih membawa semua pelajaran yang dia ajarkan. Saya bersyukur dia melakukan semua itu karena saya bisa menjadi diri saya yang sekarang, dan saya puas dengan siapa diri saya. Saya mencintainya, dia mencintai saya. Dan saya sudah menjadi lebih dari sosok pria yang dulu dia harapkan.”