Nabati Vs. Nontachai: 4 Kunci Kemenangan Dalam Partai Utama ONE Bantamweight Muay Thai Di The Inner Circle 31
Setelah beberapa kali tertunda, Kiamran Nabati dan Nontachai Jitmuangnon akhirnya akan bentrok dalam laga bantamweight Muay Thai di The Inner Circle 31. Partai utama yang telah lama dinantikan ini berlangsung langsung pada jam tayang utama Asia, Jumat, 18 September, dari Lumpinee Stadium yang ikonik di Bangkok, Thailand, dan disiarkan eksklusif bagi pelanggan live.onefc.com.
Setelah menelan kekalahan profesional pertamanya dalam 22 laga dari Juara Dunia ONE Bantamweight Muay Thai baru Yod-IQ Or Pimolsri, Nabati datang dengan hasrat besar untuk menebus hasil tersebut.
Di sisi lain, Nontachai memasuki laga ini dalam performa terbaiknya sejauh ini. Berbekal tiga kemenangan beruntun, jagoan Thailand tersebut ingin mempercepat jalannya menuju kesempatan memperebutkan sabuk emas ONE Championship.
Dengan motivasi tinggi dari kedua petarung, berikut empat faktor yang bisa menentukan siapa yang keluar sebagai pemenang pada Jumat malam.
#1 Serangan Lutut Tajam Nontachai
Senjata paling berbahaya milik Nontachai tak diragukan lagi adalah serangan lututnya, baik saat bertarung dalam clinch maupun sebagai counter cepat ketika lawan masuk dengan kombinasi.
Jagoan Bangkok itu memanfaatkan postur panjangnya dengan sangat baik untuk menutup ruang gerak lawan dan melancarkan serangan keras dari jarak dekat. Saat menghadapi Soner “Golden Boy” Sen, ia berulang kali menghujamkan lutut ke bagian tengah tubuh ketika sang lawan terlalu agresif, perlahan meruntuhkan pertahanan hingga membuka jalan menuju penyelesaian.
Pendekatan serupa juga menghancurkan Semih Sah Cindir. Nontachai membombardir lawannya dengan serangan keras dari jarak dekat untuk mencetak tiga knockdown sebelum memastikan kemenangan TKO ronde ketiga.
Teknik yang rapi dan timing tajam menjadi buah dari latar belakang Muay Femur elite miliknya. Hal itu membuat Nontachai mampu membaca jarak dengan akurat serta berpindah target antara kepala dan tubuh dalam sekejap.
Kemampuan tersebut membuat serangan jarak dekatnya sangat berbahaya bagi petarung yang gemar menekan maju. Setiap kali Nabati menerjang untuk memangkas jarak, ia berisiko langsung masuk ke jalur serangan lutut yang dilepaskan pada waktu sempurna.
#2 Kombinasi Sulit Dibaca Milik Nabati
Nabati membangun reputasi mengerikan lewat rangkaian kombinasi tak lazim yang membuat lawan terus kehilangan ritme.
Petarung berusia 31 tahun itu merangkai berbagai senjata dalam urutan yang sulit ditebak dan kerap bertentangan dengan pola striking tradisional. Ia memadukan tendangan keras, lutut tajam, kombinasi tinju, hingga masuk ke clinch secara tiba-tiba dalam ritme yang jarang ditemui petarung Thailand ketika berlatih.
Secara teori, gaya kacau tersebut mungkin terlihat menabrak prinsip-prinsip dasar striking. Namun, dalam praktiknya, justru itu yang membuat Nabati sangat efektif karena lawan selalu dipaksa ragu saat menentukan respons bertahan.
Ketidakpastian tersebut terlihat jelas ketika ia menghadapi veteran Nong-O Hama, mantan Juara Dunia ONE sekaligus legenda hidup Muay Thai yang membangun karier lewat kemampuan membaca dan mematikan permainan lawan. Bahkan petarung dengan pengalaman setinggi Nong-O beberapa kali dibuat kesulitan oleh rangkaian serangan tak biasa dari perwakilan Archangel Michel selama tiga ronde.
Bagi counter-striker cerdas seperti Nontachai, menghadapi kombinasi yang nyaris tak mengikuti pola akan terasa seperti bertarung dalam gelap.
#3 Variasi Tendangan Nontachai
Berasal dari Jitmuangnon Gym, tempat yang juga menaungi mantan Juara Dunia ONE Flyweight Muay Thai Rodtang “The Iron Man” Jitmuangnon dan Juara Dunia Muay Thai berkali-kali Panpayak “The Angel Warrior” Jitmuangnon, Nontachai memiliki fondasi tendangan yang lahir dari lingkungan elite.
Kualitas itu sudah terbukti lewat hasil nyata. Kemenangan knockout bersih atas Dmitrii “The Silent Assassin” Kovtun menunjukkan bahwa kakinya bukan sekadar alat untuk mengumpulkan poin, tetapi benar-benar mampu mengakhiri laga.
Dengan tinggi 178 sentimeter di divisi bantamweight, jangkauannya memberi leverage besar dan memungkinkan Nontachai menyerang dari jarak yang membuat tekanan maju Nabati menjadi jauh lebih berisiko.
Variasinya pun sulit ditebak. Teep tajam dapat memutus momentum, roundhouse ke tubuh bisa mengurangi volume pukulan lawan, sementara high kick membawa ancaman penyelesaian yang tak bisa diabaikan begitu saja.
Lutut menghukum Nabati dari jarak dekat, sementara tendangan bisa menggerusnya dari luar. Jika Nontachai mampu menerapkan permainan lengkap tersebut sejak awal, fondasi serangan sang jagoan Rusia perlahan bisa runtuh.
#4 Kemampuan Nabati Memotong Ring
Tangan kiri bertenaga dan kombinasi tak lazim Nabati baru menjadi separuh dari ancaman sebenarnya. Yang membuat semuanya jauh lebih berbahaya adalah caranya menciptakan situasi untuk melepaskan serangan tersebut.
Petarung kelahiran Dagestan itu tidak sekadar maju lurus. Ia cerdas memotong sudut, menutup jalur keluar, dan secara sistematis menggiring lawan menuju sudut ring, tempat kombinasi kerasnya jauh lebih sulit dihindari.
Kemampuan membaca ruang itu terlihat sempurna ketika ia mengalahkan Suablack Tor Pran49 lewat knockout untuk meraih kontrak. Nabati memangkas jarak dalam sekejap, menutup seluruh jalur pelarian, lalu melepaskan kombinasi penentu.
Melawan Nontachai, yang banyak mengandalkan pergerakan lateral untuk menciptakan peluang counter, perebutan ruang bisa menjadi duel taktis terpenting malam itu. Begitu jalur geraknya tertutup, seluruh sistem permainan Nontachai bisa ikut goyah.
Daya tahan Nabati semakin memperbesar ancaman tersebut. Ia mampu menerima serangan tanpa kehilangan langkah, dan setiap upaya Nontachai untuk keluar dari tekanan justru berpotensi membawanya semakin dalam ke area kombinasi tempat Nabati paling berbahaya.