Fitur

Sejarah Yang Mendefinisikan Kejuaraan Dunia ONE Strawweight

Hari Jumat, 8 November ini, Juara Dunia ONE Strawweight Joshua “The Passion” Pacio akan mempertahankan gelar melawan kompatriot Filipina Rene “The Challenger” Catalan di Mall Of Asia Arena, Manila.

Kedua seniman bela diri campuran divisi strawweight ini akan tampil di laga utama ajang ONE: MASTERS OF FATE, yang akan menandai ajang terakhir ONE Championship di Filipina untuk 2019.

Jelang laga yang sangat dinantikan ini, mari kita lihat kembali sejarah dari gelar Juara Dunia ONE Strawweight tersebut.

Juara Dunia Muay Thai Jadi Penguasa Strawweight Pertama

Pada Mei 2015, laga perdana perebutan gelar Juara Dunia ONE Strawweight mengambil tempat pada ajang ONE: WARRIOR’S QUEST di Singapura.

Pria yang tiga kali menjadi Juara Dunia Lumpinee Stadium Muay Thai Dejdamrong Sor Amnuaysirichoke menantang spesialis tinju Filipina Roy “The Dominator” Doliguez dalam laga pendukung utama malam itu.

Kedua pejuang ini bertukar serangan keras selama lima ronde penuh perjuangan, dengan atlet Thailand yang berbasis di Singapura itu mengungguli lawannya baik di pertukaran serangan stand-up dan di ground.

Sebuah serangan tak disengaja mengenai mata Doliguez, yang menghentikan aksi ini dengan 91 detik tersisa pada stanza kelima dan terakhir.

Laga ini pun beralih ke kartu penilaian para juri, dimana ketiganya memberi kemenangan mutlak dan gelar Juara Dunia ONE Strawweight — bagi Dejdamrong.

“Nobita” Merebut Sabuk Emas Strawweight Di Bangkok

Setelah laga pertahanan gelar perdana melawan atlet Brasil Yago Bryan, Dejdamrong kembali ke Bangkok, Thailand untuk mempertahankan gelarnya melawan Juara Dunia Shooto Yoshitaka “Nobita” Naito di ajang ONE: KINGDOM OF CHAMPIONS, Mei 2016.

Sayangnya bagi atlet Thailand ini, itu bukanlah sebuah penampilan yang diharapkannya.

Grappler tak terkalahkan asal Jepang itu bertukar serangan dengan Dejdamrong pada babak pembuka, namun ia mulai menyarangkan takedown saat laga berlanjut.

Naito tetap mencari posisi menguntungkan dan mengancam lawannya melalui pukulan keras dan beberapa percobaan submission.

Dengan satu menit tersisa pada ronde keempat, ia akhirnya berhasil mendapatkan tap-out melalui kuncian rear-naked choke demi merebut emas.

Juara Dunia BJJ Menjadi Penguasa Strawweight

Naito sukses mempertahankan gelarnya melawan penantang yang saat itu tak terkalahkan, Joshua Pacio, di ajang ONE: STATE OF WARRIORS pada Oktober 2016, dimana ia mampu memaksa perwakilan Team Lakay ini untuk tap-out melalui kuncian rear-naked choke pada ronde ketiga.

Hanya satu tahun kemudian, “Nobita” kembali ke ibukota Thailand dan berlaga melawan Juara Dunia Brazilian Jiu-Jitsu Alex “Little Rock” Silva — rekan satu tim Dejdamrong di Evolve pada ajang ONE: WARRIORS OF THE WORLD di bulan Desember 2017.

Laga ini diharapkan menjadi pertemuan antara dua grappler elit, namun Silva mementahkan berbagai percobaan takedown lawannya dan menghujaninya dengan serangan keras dalam kontes ini.

Petarung Jepang itu terlihat lebih efektif dengan teknik grappling-nya pada akhir laga, namun “Little Rock” tidak pernah benar-benar terancam.

Setelah lima ronde, para juri memberi keputusan mutlak bagi kontes ini bagi Silva dan memberinya sabuk emas Juara Dunia ONE Strawweight.

Pertukaran Keberuntungan

Untuk tahun 2018, perebutan gelar Juara Dunia ONE Strawweight melibatkan tiga pria, dimana tiap atlet ini memiliki giliran memegang gelar tersebut.

Silva mencetak pertahanan gelarnya melawan Naito pada sebuah pertemuan ulang di laga utama ajang ONE: GRIT & GLORY pada Mei 2018.

Kali ini, “Nobita” memasuki Jakarta, Indonesia dengan game plan yang jauh lebih baik. Ia menampilkan gerakan yang lebih mengalir, secara konstan berada di hadapan atlet Brasil itu, serta menggunakan kemampuan grappling miliknya demi merebut kembali sabuk emas melalui sebuah kemenangan melalui keputusan terbelah (split decision).

Namun, kejayaan kedua Naito itu hanya berlangsung sesaat.

“The Passion” Cetak Sejarah Baru

Setelah mencetak tiga penyelesaian sensasional yang menjadi sorotan, termasuk sebuah kemenangan submission inovatif dimana ia memperlihatkan “The Passion Lock” untuk pertama kalinya, Pacio menerima laga ulang melawan Naito di ajang ONE: CONQUEST OF HEROES.

Laga yang berlangsung pada September 2018 di Jakarta itu menjadi saksi akan dimensi baru dari kemampuan Pacio yang telah jauh berkembang.

Pacio menghantam rivalnya asal Jepang itu dengan tendangan ke arah tubuh dan kaki, melakukan sprawl untuk keluar dari berbagai percobaan takedown, serta bahkan memperlihatkan sebuah kewaspadaan luar biasa saat “Nobita” mampu menyeretnya turun ke atas kanvas.

Atlet Filipina ini meningkatkan striking-nya pada ronde-ronde kejuaraan, yang memberinya kemenangan mutlak dan pernghargaan sebagai Juara Dunia ONE Strawweight termuda dalam sejarah, pada usianya yang ke-22.

Persaingan Baru Dimulai

Seperti pada tahun 2018, tahun ini juga melihat persaingan keras antara beberapa rival yang sama kuatnya.

Pacio memulai kalender pertandingan di tahun 2019 dengan mempertahankan gelarnya saat menghadapi Juara Dunia Shooto Strawweight Yosuke “The Ninja” Saruta di ajang ONE: ETERNAL GLORY, di Jakarta, Januari lalu.

Ini menjadi pertukaran serangan tanpa henti, namun sang bintang Jepang itu merebut sabuk emas itu melalui keputusan terbelah.

Namun, sebuah pertemuan ulang telah dipersiapkan dalam laga pendukung utama ajang ONE: ROOTS OF HONOR di Manila, pada bulan April, demi melihat hasil yang lebih definitif lagi.

Kesimpulan tersebut jelas terlihat saat Pacio mencetak KO luar biasa. Separuh jalan memasuki ronde keempat, pahlawan tuan rumah ini melepaskan sebuah tendangan, namun walau tulang keringnya tidak menyelesaikan tugas tersebut, lututnya mengenai kepala Saruta dan segera menjatuhkan rivalnya itu.

Dengan itu, sabuk Juara Dunia ONE Strawweight kembali melingkar di pinggang Pacio.

Masa Depan Di Saat Ini

Tanggal 8 November, Pacio akan mempertahankan gelarnya melawan Catalan dalam ajang ONE: MASTERS OF FATE di ibukota Filipina itu.

Sang veteran berpengalaman ini memiliki kemampuan untuk menjatuhkan rival mudanya dan menambahkan sabuk emas itu ke dalam catatan pencapaiannya. Ia beranjak dari enam kemenangan beruntun, dimana separuh dari seluruh kemenangan itu datang melalui submission atau TKO (technical knockout).

Jika Catalan mengalahkan Pacio, ia akan melanjutkan rangkaian penampilannya sebagai atlet strawweight terpanas di “The Home Of Martial Arts.” Namun, jika “The Passion” berhasil mempertahankan gelarnya, ini akan memastikan bahwa sang penguasa divisi ini layak menjadi Juara Dunia divisi strawweight terbaik di dunia.

Baca juga: 5 Alasan Mengapa Anda Wajib Menyaksikan ONE: MASTERS OF FATE