Fitur

5 Trilogi MMA Yang Penggemar Ingin Lihat Di ONE Championship

Beberapa rivalitas terhebat di ONE Championship telah terangkum dalam beberapa laga trilogi luar biasa, namun ada sesuatu yang spesial tentang babak tambahan pemecah kedudukan imbang itu.

Laga Shinya “Tobikan Judan” Aoki vs. Eduard “Landslide” Folayang dan Adriano “Mikinho” Moraes vs. Geje “Gravity” Eustaquio adalah dua contoh dari rangkaian tiga laga yang terjadi di atas panggung dunia — dimana laga ketiga yang menjadi penentu itu menarik perhatian dengan intrik tersendiri.

Banyak yang harus diperjuangkan saat kedudukan berimbang di 1-1, termasuk kesempatan untuk menutup rivalitas itu secara empatik.

Oleh karena itu, berikut kami sajikan lima laga trilogi bela diri campuran yang akan ingin kita simak untuk mengetahui siapa dari para bintang dunia ini yang unggul di dalam Circle.

#1 Angela Lee Vs. Xiong Jing Nan

“Unstoppable” Angela Lee dan “The Panda” Xiong Jing Nan masing-masing memiliki sebuah kemenangan – serta penyelesaian dramatis – dalam dua laga Kejuaraan Dunia yang menegangkan.

Pada pertemuan pertama mereka di ONE: A NEW ERA, Maret 2019 lalu, Lee naik satu divisi dari atomweight untuk menantang gelar Juara Dunia ONE Women’s Strawweight milik bintang Tiongkok itu – dan hampir merebutnya.

Namun, Xiong menggunakan kekuatan luar biasa untuk bertahan dari submission rapat pada ronde keempat sebelum mencetak penyelesaian TKO di stanza akhir dan memberi kekalahan perdana bagi Lee.

Kemudian, keduanya meningkatkan tensi dalam laga ulang di ONE: CENTURY PART I pada Oktober 2019, dimana gelar Juara Dunia ONE Women’s Atomweight milik Lee dipertaruhkan saat itu.

Xiong menjatuhkan “Unstoppable” ke atas kanvas pada ronde keempat, tetapi Lee bangkit untuk mendominasi pada stanza akhir, dan mengamankan rear-naked choke untuk mencetak submission atas rivalnya hanya dengan 12 detik tersisa dalam laga.

Dengan dua percobaan yang gagal karena penyelesaian pada saat-saat terakhir, kedudukan keduanya memang sangat seimbang. Hanya pertemuan ketiga yang dapat memisahkan kedua bintang wanita terbaik ini — dan hal itu mungkin akan terjadi dalam waktu dekat.

#2 Joshua Pacio Vs. Yosuke Saruta

Setelah kemenangan debut mengejutkan dalam laga dengan pemberitahuan singkat atas Alex “Little Rock” Silva di ONE: DESTINY OF CHAMPIONS pada Desember 2018, Yosuke “The Ninja” Saruta masuk untuk menantang Joshua “The Passion” Pacio dalam Kejuaraan Dunia ONE Strawweight.

Hanya satu bulan kemudian, di ONE: ETERNAL GLORY pada Januari 2019, bintang Jepang ini menampilkan tekanan keras dan teknik gulatnya untuk menjadi Juara Dunia via keputusan terbelah.

Namun, keduanya kembali berlaga demi sabuk emas itu tiga bulan kemudian di ajang ONE: ROOTS OF HONOR, dan pria Filipina itu menyeimbangkan kedudukan dengan KO luar biasa pada stanza keempat.

Saruta menjatuhkan rivalnya di awal laga, dan laga ini berlangsung sangat tipis sampai “The Passion” meluncurkan tendangan tinggi ke arah lawannya. Lututnya tersambung di rahang, dan memisahkan “The Ninja” dari kesadarannya.

Sejak itu, Pacio dua kali mempertahankan gelarnya, sementara Saruta juga merangkum kemenangan beruntun.

Nampaknya ini menjadi waktu yang tepat bagi laga perebutan gelar Juara Dunia ONE Strawweight mereka yang ketiga – sebuah laga yang juga diharapkan oleh Pacio.

#3 Aung La N Sang Vs. Vitaly Bigdash

Rivalitas Aung La “The Burmese Python” N Sang dan Vitaly Bigdash dimulai pada bulan Januari 2017 di ONE: QUEST FOR POWER saat pria Rusia itu meraih kemenangan mutlak rivalnya asal Myanmar ini.

Setelah masuk ke dalam laga Kejuaraan Dunia ONE Middleweight dengan pemberitahuan singkat dua minggu sebelumnya, “The Burmese Python” yakin ia dapat beraksi lebih baik, dan pada ajang ONE: LIGHT OF A NATION di bulan Juni 2017, ia melakukan itu.

Di hadapan para penonton tuan rumah di Yangon, “The Burmese Python” mengungguli atlet Rusia ini setelah beraksi keras selama 25 menit untuk merebut sabuk itu dan menjadi Juara Dunia pertama dari negaranya.

Laga trilogi itu telah dua kali dijadwalkan sejak itu, karena mereka ingin menutup persaingan mereka di kedua laga yang tipis itu, tetapi cedera dan pandemi COVID-19 menangguhkan laga mereka.

Karena “The Burmese Python” kehilangan dua gelar Juara Dunia miliknya, dan Bigdash yang beristirahat cukup lama, keduanya dapat kembali bertemu dalam waktu dekat dalam laga keras lainnya.



#4 Martin Nguyen Vs. Marat Gafurov

Dengan gelar Kejuaraan Dunia ONE Featherweight Interim dipertaruhkan pada ONE: ODYSSEY OF CHAMPIONS di bulan September 2015, Martin “The Situ-Asian” Nguyen yang masih tergolong baru mendapatkan pelajaran berharga dari Marat “Cobra” Gafurov.

Atlet Vietnam-Australia itu mengambil laga lewat pemberitahuan singkat ini ketika sang Juara Dunia saat itu, Narantungalag “Tungaa” Jadambaa, terpaksa mundur, tetapi Gafurov meraih kemenangan submission hanya dalam waktu 41 detik via rear-naked choke andalannya.

Dua tahun dan empat kemenangan kemudian, ditambah dengan empat penyelesaian ronde pertama, Nguyen berada di posisi yang lebih baik untuk menantang “Cobra” sekali lagi. Sejarah nampak seperti akan terulang saat pria Rusia itu meraih punggung lawannya pada ronde pertama, namun pria Australia itu mampu meloloskan diri.

Di ronde kedua, Nguyen memiliki kesempatan besar untuk melepaskan senjata favoritnya, dan ia pun mencetak KO atas Gafurov dengan overhand kanan keras untuk menjadi Juara Dunia ONE Featherweight.

Setelah laga itu, Nguyen berlanjut menjalani laga berikut dan mencetak KO atas Folayang untuk merebut sabuk divisi lightweight dan menjadi Juara Dunia dua divisi ONE yang pertama dalam sejarah. Tetapi, ia selalu mengincar laga ketiga melawan Gafurov agar dapat menentukan siapa yang lebih unggul.

#5 Adriano Moraes Vs. Kairat Akhmetov

Juara Dunia ONE Flyweight Adriano Moraes adalah kekuatan paling dominan dalam sejarah divisinya, namun ia sempat harus bangkit dari kekalahan untuk memastikan warisan tersebut.

Salah satu kekalahannya berasal dari pria yang saat itu tak terkalahkan, Kairat “The Kazakh” Akhmetov, di ajang ONE: DYNASTY OF CHAMPIONS (BEIJING II) pada November 2015, ketika Akhmetov memanfaatkan teknik gulatnya untuk meraih keputusan terbelah yang tipis setelah lima ronde.

Moraes meraih kesempatan demi sebuah penebusan dengan sepasang kemenangan submission beruntun, termasuk untuk merebut sabuk emas interim divisinya. Lalu, ia dengan efektif mematahkan “The Kazakh” demi sebuah kemenangan mutlak yang tegas – yang memberi rivalnya kekalahan perdana dalam kariernya dan merebut sabuk emas itu kembali di ONE: KINGS & CONQUERORS, Agustus 2017.

Setelah kemenangan monumental atas Demetrious “Mighty Mouse” Johnson di ajang “ONE on TNT I” bulan April ini, “Mikinho” membutuhkan sebuah tantangan lainnya.

Dan dengan tiga kemenangan beruntun, Akhmetov dapat menjadi lawan yang tepat, karena kedua petarung ini ingin membuktikan kemampuan mereka dalam sebuah laga trilogi.

Rivalitas Spesial: Eddie Alvarez Vs. Shinya Aoki

Pictures from the fight between Eduard Folayang and Shinya Aoki from "ONE on TNT IV"

Persaingan Eddie “The Underground King” Alvarez dan Shinya “Tobikan Judan” Aoki memang termasuk yang paling lama, dimana laga awal mereka terjadi di Jepang pada tahun 2008.

Aoki mencetak submission atas atlet AS ini dalam waktu 92 detik saat mereka pertama kali bertemu, namun pada bulan April 2012, Alvarez mendapatkan pembalasan di Amerika Serikat. Walau ia membutuhkan waktu yang lebih lama — 134 detik — ia menghentikan “Tobikan Judan” melalui sebuah TKO.

Sepasang atlet ini belum pernah bertemu di ONE Championship, namun kedua veteran tersebut dapat mengakhiri persaingan mereka dalam laga ketiga di panggung terbesar dunia ini.

Baca juga: Rivalitas ONE: Angela Lee Vs. Denice Zamboanga

Muat Lebih Banyak

Ikuti perkembangannya

Bawa ONE Championship kemana pun anda pergi! Daftarkan diri untuk mendapatkan akses ke berita terbaru, berbagai tawaran spesial dan kursi terbaik dalam gelaran langsung kami.
Dengan mengirimkan formulir ini, anda menyetujui pengumpulan, penggunaan dan pembukaan informasi anda berdasarkan Privacy Policy kami. Anda dapat membatalkan (unsubscribe) dari jenis komunikasi ini kapan saja.