Fitur

7 Seniman Bela Diri Filipina Terbaik Dalam Sejarah ONE Championship

3 Nov 2019

Setelah peluncuran ONE Championship pada bulan September 2011, Filipina memiliki peranan tersendiri dalam memberikan para atlet terbaik dalam dunia bela diri campuran.

Sebelum kembalinya ajang promosi ini ke Mall Of Asia Arena di Manila, untuk gelaran ONE: MASTERS OF FATE pada hari Jumat, 8 November, mari kita melihat tujuh seniman bela diri terbaik Filipina yang pernah berlaga di dalam Circle.

Karena semua pejuang ini sangat berbakat dan memiliki pencapaian tersendiri, sulit menempatkan mereka dalam peringkat tertentu. Itulah mengapa kita menempatkan mereka dalam urutan nama.

#1 Brandon “The Truth” Vera

Dibesarkan di Norfolk, Virginia, Brandon “The Truth” Vera adalah seorang atlet yang alami.

Atlet Filipina-Amerika ini awalnya berkompetisi sebagai pegulat di kampus dan, setelah bergabung dengan Angkatan Udara Amerika Serikat (United States Air Force), ia masuk ke tim gulat Greco-Roman.

Brandon mencetak debutnya dalam bela diri campuran pada bulan Juni 2002, serta berkompetisi di organisasi terbesar di Amerika Utara sebelum bergabung dengan ONE Championship pada tahun 2014.

Perwakilan Alliance Training Center ini mencetak sejarah saat ia mengalahkan Paul Cheng di ONE: SPIRIT OF CHAMPIONS bulan Desember 2015, serta meraih gelar Juara Dunia ONE Heavyweight perdana.

Dengan postur tinggi besar, Brandon adalah pencetak KO yang fenomenal. Atlet divisi heavyweight ini memenangkan empat dari lima laga sebelumnya melalui KO pada ronde pertama.

Serta, ia telah menjadi salah satu atlet dan selebriti yang paling dikenal di Filipina. “The Truth” juga masuk ke dalam dunia akting, dimana ia baru saja mendapatkan peran di film blockbuster berjudul BuyBust.

Penampilan luar biasa dan kepribadiannya yang menarik – baik di luar maupun di dalam Circle – akan tetap memberinya fans baru di seluruh dunia.

#2 Eduard “Landslide” Folayang

Eduard “Landslide” Folayang adalah ikon bela diri di Filipina.

Kisah tentang bagaimana ia mengatasi tragedi masa kecil untuk menjadi seorang Juara Dunia telah membuatnya dikenal oleh jutaan publik Filipina di negara tersebut.

Ia memulai perjalanan bela dirinya dengan kickboxing pada usia yang ke-16, serta akhirnya menerima beasiswa wushu di Universitas Cordilleras, dan menjadi kompetitor yang luar biasa. Faktanya, ia memenangkan 11 medali dalam kompetisi wushu, termasuk tiga medali emas di SEA Games.

Hanya tiga tahun setelah debut bela diri campuran profesional-nya pada bulan Juni 2007, “Landslide” meraih gelar Juara Dunia Martial Combat Superfight Lightweight. Namun, penampilan terbaiknya belum terjadi saat itu.

Atlet asal Baguio ini menjadi pahlawan nasional pada bulan November 2016 saat ia mengalahkan legenda Jepang Shinya “Tobikan Judan” Aoki melalui TKO untuk merebut gelar Juara Dunia ONE Lightweight. Walau ia kehilangan sabuknya itu pada tahun berikutnya, ia merebutnya kembali pada bulan November 2018.

Saat ini, dengan ambisi kembali mengejar sabuk divisi lightweight, Eduard akan berlaga melawan Amarsanaa “Spear” Tsogookhuu dalam laga co-main event di ajang ONE: MASTERS OF FATE.

#3 Geje “Gravity” Eustaquio

Lahir di Benguet, Geje “Gravity” Eustaquio mulai berlatih wushu pada usia 14 tahun.

Ia mendapatkan beasiswa di Universitas Cordilleras, berlatih di bawah Mark Sangiao, dan memenangkan kejuaraan nasional wushu Filipina.

Sebagai anggota dari sasana Team Lakay yang terkenal, pengetahuan Geje tentang jarak dan penempatan posisi tidak tertandingi. Kemampuan feint dan slip miliknya dapat dieksekusi dengan baik untuk memancing reaksi dari lawannya, sementara kemampuannya menghindari serangan menjadikannya seorang target yang sulit dicapai.

Sebagai pemegang dua gelar akademis, “Gravity” memiliki karir yang sukses saat ia mengajar, namun ia meninggalkan sekolah untuk masuk ke dalam Circle. Ia memperkuat keputusan itu saat ia memenangkan gelar Juara Dunia ONE Flyweight tak terbantahkan pada bulan Juni 2018.

Walau ia tidak lagi memegang sabuk emas, ia akan berusaha kembali ke jalur kemenangan saat ia bertemu lawannya, Toni Tauru, di ajang ONE: MASTERS OF FATE.

#4 Honorio “The Rock” Banario

Pria asal Mankayan, sebuah kota pertambangan kecil di provinsi Benguet, Honorio “The Rock” Banario mengabaikan mimpi masa kecilnya untuk menjadi penegak hukum demi seni bela diri.

“The Rock” menerima beasiswa untuk bergabung bersama Cordillera Career Development College dan berkompetisi dalam tim wushu amatir yang baru dibentuk.

Segera setelah itu, ia masuk ke dalam tim wushu junior nasional di bawah pionir bela diri Mark Sangiao, serta kemudian bertransisi ke dalam seni bela diri campuran.

Setelah bergabung dengan Mark di Team Lakay, Honorio menjalani debut profesionalnya pada tahun 2010. Ia memenangkan enam laga pertamanya sebelum bergabung dengan ONE Championship.

Ia memiliki prestasi sebagai Juara Dunia ONE Featherweight yang pertama, sebuah  accolade he earned after defeating his compatriot Eric “The Natural” Kelly di ajang ONE: RETURN OF WARRIORS bulan Februari 2013.

Awal karir Honorio yang sederhana, beserta komitmennya untuk seni bela diri, telah menjadikannya panutan bagi para publik Filipina.

#5 Joshua “The Passion” Pacio

Lahir di La Trinidad, Benguet, Joshua “The Passion” Pacio berjuang dengan obesitas saat ia kecil, namun ia menunjukkan minat besar pada olahraga tarung.

Saat ia berusia 11 tahun, pamannya memperkenalkannya pada disiplin Muay Thai dan kickboxing, yang melengkapinya dengan kemampuan striking luar biasa dan membantunya mengurangi berat badan. Lalu, ia bertransisi ke wushu dan meraih kesuksesan.

Joshua berkompetisi dalam turnamen nasional dan saat ia memasuki Universitas Cordilleras untuk meraih gelar akademis dalam Manajemen Hospitality, ia bergabung dengan tim wushu sekolah itu di bawah bimbingan Mark Sangiao. Dari sana, ia berlatih bersama Team Lakay dan beralih ke dunia bela diri campuran.

Setelah debut profesional yang sukses pada bulan Desember 2013, “The Passion” mendominasi kompetisi ini. Walau ia mengalami beberapa kekalahan, ia belajar dari kesalahannya dan pada akhirnya merebut gelar Juara Dunia ONE Strawweight di bulan September 2018. Ia sempat kehilangan sabuk tersebut, namun merebutnya kembali bulan April lalu.

Ditambah lagi, Joshua adalah pencipta dari kuncian khas bernama “Passion Lock,” sebuah kuncian hammerlock yang dimodifikasi dan mendapatkan penghargaan ‘Submission Of The Year’ in 2018.

Mematikan di dalam permainan stand-up dan sangat ahli dalam permainan ground, Juara Dunia ONE Strawweight ini adalah seniman bela diri elit alami yang memang patut berada di atas panggung dunia. Ia ingin membuktikan hal tersebut sekali lagi dalam laga utama ONE: MASTERS OF FATE pada hari Jumat nanti.

#6 Kevin “The Silencer” Belingon

Saat ia bertumbuh di desa Kiangan, provinsi Ifugao, Kevin “The Silencer” Belingon diperkenalkan pada gaya gulat tradisional bernama bultong dan sangat terpengaruh oleh Bruce Lee sebelum ia memulai latihan bela diri.

Ia menemukan wushu saat masuk ke Universitas Cordilleras dan mempelajari seni bela diri tersebut di bawah bimbingan Mark Sangiao.

Bulan Juni 2007, ia bertransisi ke dunia bela diri campuran dan menjalani debut profesionalnya. Setelah itu, Kevin memenangkan sembilan laga berikutnya dan bergabung bersama ONE pada bulan Maret 2012.

Dikenal dari tendangan memutar yang menjadi ciri khasnya dan gerakan hebat lainnya, “The Silencer” adalah atlet yang sangat eksplosif dan berstamina luar biasa. Ini ditambah dengan figur dirinya yang menjadi panutan dan favorit bagi publik Filipina di negara tersebut.

Sebagai pria di klan Belingon, ia memiliki motivasi untuk memberikan penghormatan atas kenangan paman dan kakeknya yang telah tiada.

Dalam momen terbaiknya, ia merebut gelar Juara Dunia ONE Bantamweight dengan mengalahkan Juara Dunia paling dominan dalam sejarah ONE – Bibiano “The Flash” Fernandes – pada bulan November 2018.

#7 Rene “The Challenger” Catalan

Pendiri dan pemilik Catalan Fighting System di Makati, Filipina, Rene “The Challenger” Catalan mulai berlatih tinju saat ia belajar di Western Institute Of Technology.

Sebagai anggota dari tim wushu nasional, Rene meraih medali emas di Asian Games, SEA Games dan Kejuaraan Dunia Wushu.

Sayangnya, sebuah tragedi menimpa “The Challenger” saat ia kehilangan istrinya karena kanker pada tahun 2013. Walau patah hati, pria asal Iloilo ini mencetak debutnya dalam seni bela diri campuran hanya dua minggu setelah ia menguburkan istrinya.

Rene bertahan dari penderitaannya tidak hanya untuk mengenang istrinya, namun juga bagi anak-anaknya dan para atlet muda yang berada di Catalan Fighting System.

Walau ia memulai perjalanannya bersama “The Home Of Martial Arts” dengan kesulitan luar biasa, ia kini menemukan dirinya mencetak enam kemenangan beruntun dan akan menantang Juara Dunia ONE Strawweight Joshua “The Passion” Pacio demi sabuk emas dalam laga utama di ajang ONE: MASTERS OF FATE.

Kisahnya yang menaklukkan kesulitan hidup tetap menjadi inspirasi dan harapan bagi publik Filipina sampai saat ini.

Manila | 8 November | MASTERS OF FATE | TV: Periksa daftar tayangan lokal untuk siaran global | Tiket: http://bit.ly/onefate19