3 Laga Yang Berpotensi Curi Perhatian Di ONE SAMURAI 1
Meski empat laga Kejuaraan Dunia menjadi sorotan utama di ONE SAMURAI 1, deretan laga pendukungnya tak kalah menarik.
Pada Rabu, 29 April, organisasi seni bela diri terbesar di dunia akan mengguncang Ariake Arena, Tokyo, Jepang, dengan ajang penuh aksi dari awal hingga akhir. Para atlet tampil tengah merasa lapar akan pembuktian dan siap merebut sorotan dari laga utama.
ONE SAMURAI 1 berpotensi menjadi salah satu event terbesar tahun ini. Namun sebelum semuanya dimulai, berikut tiga pertarungan bergengsi yang bisa mencuri perhatian.
Kaito Ono Vs. Marat Grigorian
Pertarungan dua gaya yang kontras akan jadi pusat perhatian saat bintang kickboxing featherweight Jepang, Kaito Ono, berhadapan dengan ikon striking Armenia, Marat Grigorian. Tensi panas bahkan sudah terasa jauh sebelum bel berbunyi.
Keduanya sejatinya dijadwalkan bertemu di ONE 172 tahun lalu, namun Kaito menolak bertarung setelah Grigorian gagal memenuhi batas berat badan, meski hanya selisih tipis. Insiden itu memicu perang kata di media sosial, dan kini, rivalitas tersebut akhirnya akan terselesaikan di Tokyo.
Kaito dikenal dengan pendekatan striking yang sangat analitis. Dilatih langsung oleh ayahnya sepanjang karier, ia menjalani hidup layaknya seorang petarung dengan disiplin tinggi. Ia mengandalkan akurasi ciamik serta kontrol jarak yang presisi untuk membongkar lawan.
Namun, semua itu akan diuji habis-habisan oleh kekuatan brutal milik Grigorian. Mantan penantang Juara Dunia ONE ini terkenal dengan tekanan tanpa henti, dagu baja, dan kombinasi pukulan yang menghancurkan.
Grigorian bahkan secara terbuka meragukan kelayakan Kaito berada di ring bersamanya. Ia juga bertekad menembus pertahanan lawannya untuk meraih knockout di depan publik tuan rumah.
Jika Kaito mampu meredam badai, ini akan jadi pertunjukkan teknis masterclass. Tapi jika Grigorian menemukan momentumnya, laga ini bisa selesai tanpa campur tangan juri. Potensi “Fight of the Night” sangat nyata.
Hyu Vs. Taiki Naito
Rivalitas panas telah memuncak saat fenomena tak terkalahkan “Mister Pepper” Hyu menghadapi teknisi berpengalaman Taiki “Silent Sniper” Naito dalam duel flyweight kickboxing tiga ronde.
Pertarungan ini menyajikan benturan generasi yang dibumbui oleh perang kata-kata di media sosial.
Hyu datang dengan rekor sempurna dan dikenal lewat gaya karate eksplosif dengan serangan bertenaga besar. Ia tak ragu soal ambisinya untuk menumbangkan Naito dan menandai pergantian era di Jepang.
Dengan lima kemenangan beruntun di ONE, momentum jelas ada di pihaknya. Tapi Naito melihat dirinya sebagai sosok yang tepat untuk menghentikan laju tersebut.
Tantangan serta pernyataan pedas dari Hyu justru membangkitkan api dalam diri petarung 30 tahun itu. Ia merasa diremehkan dan menilai gaya agresif Hyu memiliki celah besar dalam pertahanannya.
Sebagai salah satu petarung paling berpengalaman di ONE, Naito akan mengandalkan kecerdikan dan jam terbang tinggi untuk mengendalikan tempo dan membuktikan dirinya masih relevan di peta perebutan gelar.
Dengan Hyu memburu penyelesaian spektakuler dan Naito menunggu momen untuk melancarkan serangan balik mematikan, duel sesama petarung Jepang ini hampir pasti menghadirkan pesta kembang api sejak awal.
Shimon Yoshinari Vs. Johan Ghazali
Jangan sampai berkedip saat jagoan Jepang, Shimon Yoshinari, berhadapan dengan atlet sensasional Malaysia, Johan “Jojo” Ghazali.
Ghazali adalah superstar muda yang membangun reputasi lewat kehancuran yang ia ciptakan di setiap pertarungan. Di usia 19 tahun, ia sudah dikenal sebagai finisher berbahaya dengan gaya “gaspol tanpa rem.” Jagoan asal Sarawak ini menyerang dengan pukulan keras, sikutan tajam, dan tempo tanpa henti.
Berlaga di bawah arahan Superbon dan Nong-O Hama di Bangkok, ia datang membawa tekanan konstan yang jarang memberi ruang bernapas bagi lawan. Itulah sebabnya, saat ia bertemu Shimon di ONE SAMURAI 1, pertukaran serangan eksplosif hampir pasti terjadi di setiap detik pertarungan.
Di sisi lain, Yoshinari akan tampil dengan dukungan penuh publik Tokyo. Ia bertekad melanjutkan catatan tak terkalahkannya di ONE.
Dengan bertarung di kandang sendiri, ia memiliki motivasi ekstra untuk mengganggu ritme agresif lawannya dan memaksa Ghazali masuk ke pertarungan yang lebih dalam dan terukur.
Namun satu hal pasti: setiap kali Ghazali berada di dalam ring, kekacauan hampir selalu terjadi.
Dengan daya tarik besar dari kedua petarung muda ini, laga ini berpotensi menjadi perang terbuka yang membuat penonton terus berada di ujung kursi hingga detik terakhir.