Bela Diri Campuran

Sunoto Impikan Laga Hadapi Juara Dunia

30 Jun 2020

Sebagai salah satu atlet Indonesia dengan jumlah kemenangan terbanyak di ONE Championsip, karier “The Terminator” Sunoto di pentas global merupakan sebuah pencapaian luar biasa.

Namun, masih ada banyak mimpi yang ingin ia capai, termasuk menghadapi Juara Dunia dan membawa pulang sabuk emas ke Tanah Air.

Sunoto telah mencatatkan rekor profesional 12-7-0 dan menembus panggung dunia ONE Championship sejak 2015. Ia percaya pengalaman serta jumlah kemenangan yang telah ditorehkan mampu membawanya pada tangga tertinggi.

“Yang pasti semua impian atlet ya [menjadi] Juara Dunia, mestinya itu,” tutur pria asal Blora ini.

“Itu pasti sesuatu yang berat sekali, karena banyak petarung tangguh. ONE Championship itu kan aktornya dari seluruh dunia.”

“The Terminator” tidak sekadar bermimpi, ia telah memantapkan hatinya untuk menjadi atlet Indonesia pertama yang mampu meraih kesempatan menantang Juara Dunia di ONE Championship.

“[Saya ingin menghadapi] Bibiano Fernandes. Kita punya keinginan. Kalau kita bisa mengalahkan juaranya berarti kita juara. Ya mungkin salah satunya itu ingin melawan Juara Dunia. Alasan kedua, saya belum pernah ketemu atlet Brasil, orang-orang Brasil kan terkenal luar biasa jiu-jitsunya,” sebut pria berusia 35 tahun ini.



Sebagai Juara Dunia ONE Bantamweight, “The Flash” telah membukukan catatan fenomenal. Pria berusia 40 tahun ini memiliki rekor profesional 24-4-0 sejak memulai kiprahnya dalam dunia bela diri campuran profesional 16 tahun silam.

Setelah menjalani debut di ONE pada tahun 2012, “The Flash” semakin tak terbendung. Ia meraih supremasi tertinggi dengan meraih sabuk emas sebanyak 11 kali. Selain itu, sejarah hanya mencatat satu kekalahan dari 13 laga yang telah ia lakoni di panggung global.

Sunoto menaruh rasa hormat yang tinggi atas pencapaian atlet asal Brasil tersebut, namun ia pun menanggung harapan besar di pundaknya.

Para generasi muda kini tengah melihatnya sebagai seorang hero, yang memaknai pertempuran bukan hanya dari hasil akhir, melainkan dari keringat perjuangan yang mengiringi mimpinya.

Pria berusia 35 tahun ini tengah merajut mimpi untuk menciptakan generasi penerus dari kampung halamannya.

“Saya ingin membantu berbagi ilmu bagi mereka yang mau berkarier, terutama di jalur seni bela diri campuran. Saya juga ingin mengabdikan kontribusi buat daerah saya, salah satunya lewat jalur yang saya bisa,” cerita sang pendiri Terminator Top Team ini.

Sunoto tumbuh dengan berbagai keterbatasan, dan ia tak berharap para penerusnya harus menghadapi rintangan yang sama. Kini, ia tengah membangun sasana di tempat asalnya demi terbukanya akses yang lebih luas bagi para pengejar mimpi.

“Pas saya latihan bela diri, ada tim dari Jakarta yang menawarkan saya latihan. Soalnya waktu itu di kota kecil lainnya belum ada. Kalau mau belajar bela diri campuran harus ke Jakarta. Di Jakarta, saya enggak ada yang kenal dengan uang yang pas pasan. [Waktu itu] serba nekat,” kenangnya

Sunoto mengerti bahwa kini, ia tak menggenggam mimpi sendirian. Ada generasi penerus yang berharap mampu menyamai atau bahkan melampaui pencapaiannya.

“Jadi, untuk para kawula muda atau yang baru yang ingin berkecimpung di dunia seni bela diri campuran, nomor satu niatnya harus benar dulu; mau berprestasi dan bukan untuk gaya-gayaan. Yang kedua harus disiplin,” saran Sunoto.

“Selain itu harus pantang menyerah. Biasanya kalau pemula akan banyak hambatannya. Bukan hanya diri sendiri, juga dari orang luar juga.”

“Yang terakhir jangan lupa berdoa, harus disiplin, kerja keras dan doa. Perjuangan dan doa kalau kata bang Haji [Rhoma Irama.]”

Baca juga: PlayStation Dan Inspirasi Masa Kecil Adrian Mattheis Menuju ONE