Gaya Hidup

PlayStation Dan Inspirasi Masa Kecil Adrian Mattheis Menuju ONE

26 Jun 2020

Bagi sebagian orang, konsol PlayStation bukanlah sekedar permainan biasa, karena pastinya ada kisah tersendiri dari mereka yang menghabiskan masa kecilnya dengan permainan ini.

Salah satu bintang Indonesia yang bersinar, Adrian “Papua Badboy” Mattheis, juga tak luput dari kenangan ini. Perwakilan Tigershark Fighting Academy yang memiliki rangkaian kemenangan submission dan KO luar biasa ini juga memiliki berbagai cerita yang jarang diketahui – terlepas dari kesibukannya berlatih – saat ia masih kanak-kanak.

Di sini, pria kelahiran Ternate ini berbagi masa kecil yang tak kalah ramai dengan prestasinya dalam divisi strawweight bela diri campuran saat ini.

Harapan Besar Bagi Adrian Mattheis Dari Sang Pelatih Di Tigershark

Sementara kini Adrian berada di Jakarta, pria yang dibesarkan di Sorong, Papua Barat ini dahulu dikelilingi oleh alam liar, dan tertawa saat mengenang masa-masa dirinya menangkap ular dan buaya.

Tetapi, nyatanya ia sudah mengenal dunia kompetisi sejak kecil, bukan melalui kerasnya jalanan atau di dalam arena, tetapi melalui permainan konsol Playstation (PS).

“Paling cuma main game Tekken, Mortal Kombat, dan terutama FIFA, bola,” kenang atlet berusia 27 tahun ini.



Terkait dengan permainan Tekken, yang mengedepankan olahraga tarung satu lawan satu yang berlatar belakang berbagai disiplin bela diri, Adrian jelas memiliki favoritnya sendiri.

“Karakter favorit saya itu (Marshall) Law yang seperti Bruce Lee, itu jagoanku,” katanya. “Saya juga menggunakan Hwoarang [karakter dengan latar belakan taekwondo]. Saya suka Eddy [Gordo], karena dia itu [menggunakan] capoeira. Biasa juga dengan yang berambut panjang [dan] biasa jadi polisi, Lei [Wulong].”

Terinspirasi Layar Kaca

Jika permainan sepak bola di PS berhasil membawa Adrian masuk ke klub sepak bola Persiram Raja Ampat junior, maka Tekken menjadi penghubung “Papua Badboy” dengan karirnya sebagai atlet seni bela diri – walau hal ini tidak pernah diduganya.

“Saya tidak terbayangkan kalau nantinya jadi seperti mereka,” sebut Adrian. “Saya hanya suka meniru gerakan mereka.”

Dirinya sudah menyukai permainan ini sejak duduk di bangku Sekolah Dasar dulu. Lahir dari keluarga sederhana, Adrian kecil seringkali menghabiskan waktunya di rental PS.

“Wah, saya mulai main game dari kecil, mungkin SD kelas 5 sampai SMP kelas 2. Pulang sekolah, kita janjian dengan teman-teman. Itu di Sorong, kita patungan, baru bermain sama-sama,” katanya.

Julukan “Papua Badboy” pun agaknya memang diawali dari perangainya saat kecil, terlebih jika itu terkait dengan bermain PS. Tak jarang, sang ibu memarahi Adrian kecil. Tetapi, ia beruntung karena orang tuanya akhirnya melihat ambisi ini dan mendaftarkannya ke kelas karate.

Walau kecintaannya akan permainan video ini tidak lagi menjadi hal yang utama, itu tetap berada dalam pikirannya.

“Walau itu tidak langsung mempengaruhi saya, permainan ini telah menunjukkan gerakan-gerakan bela diri dan kemampuan pertahanan diri,” sebutnya.

Menjalani Dunia Nyata

Mendengar cerita Adrian, mungkin sedikit banyak menyegarkan ingatan di masa kecil, terutama bagi kalian yang menggilai video game sampai lupa waktu.

Hanya, siapa sangka bahwa Adrian ternyata berhasil mewujudkan kegemaran masa kecilnya itu di panggung dunia “The Home of Martial Arts.” Pada tahun 2013, Adrian bertemu dengan pelatih dan mantan atlet ONE Zuli “The Shark” Silawanto. Anak muda ini berlatih di sasananya, Tigershark Fighting Academy, dan mulai diasuhnya.

Ia pun memulai debutnya di bulan Agustus 2016, menaklukkan dua lawan berat pada malam yang sama dan menjuarai Kejuaraan ONE Strawweight Indonesia Tournament.

Sejak saat itu, ia memantapkan posisinya sebagai bintang berbakat dalam organisasi bela diri terbesar di dunia ini, dan mungkin akan tampil saat kalender ajang ONE untuk tahun 2020 berlanjut.

Bertahun-tahun setelah ia menemukan kesukaan memainkan karakter favoritnya, “Papua Badboy” telah menjadi bintang bela diri – dan mungkin menjadi salah satu yang akan ditampilkan sebagai karakter di sebuah video game nantinya.

Adrian memang tidak menyangka bahwa ia dapat hadir di sini, tetapi ia pun tidak melupakan jalur yang dimulai dengan kegemaran masa kecil yang sederhana.

“Saya hanya dapat mengatakan bahwa pekerjaan Tuhan itu sungguh luar biasa,” tegasnya. “Saya bersyukur menjadi diri saya saat ini. Saya telah melewati jalan panjang demi mencapai titik ini.”

Mungkin, itulah mengapa penting untuk tidak pernah berhenti bermimpi dan bekerja keras demi impian kita.

Baca juga: Adrian Mattheis Inginkan Laga Ulang Demi Jadi Yang Terbaik Di Indonesia