Gaya Hidup

Bermain Video Game Bantu Martin Nguyen Tetap Berada Di Puncak

Berlatih untuk mempertahankan gelar Juara Dunia ONE Featherweight di atas panggung dunia memang sangat menantang, namun Martin “The Situ-Asian” Nguyen menggunakan permainan video, atau video game, untuk membantunya bersantai dan melepaskan beban sehari-hari.

Seperti kebanyakan rekan-rekannya, atlet pencetak KO keturunan Vietnam-Australia ini dibesarkan dengan konsol permainan. Ia pertama kali bermain Sega Mega Drive (yang juga dikenal sebagai konsol Sega Genesis), dan beralih ke Nintendo 64 dan Sony Playstation.

“Itu seperti pelarian. Anda hanya menjadi seorang anak-anak,” jelasnya.

“Di Sega Mega Drive, saya bermain Alex Kidd dan Sonic The Hedgehog, lalu di Nintendo 64, saya dulu bermain Mario Kart, GoldenEye 007 dan WrestleMania 2000 — permainan gulat itu adalah yang terbaik!”

“Lalu saya mulai bermain di laptop di sekolah menengah atas – saya banyak bermain Counter-Strike. saya berhenti karena saya menekuni rugby dan memiliki anak di rumah, maka saya tidak bermain.”



Diantara membesarkan tiga anak dengan istrinya, Brooke, dan mengembangkan karier bela diri campurannya, Nguyen jarang memiliki waktu untuk menyalakan laptop atau konsol video game lamanya.

Namun, baru-baru ini hal itu berubah.

Pada tahun 2018, Nguyen mendapatkan sebuah laptop dari rekanan ONE Esports, Razer. Sejak itu, ia menggunakan video game sebagai pelepasan dari jadwalnya yang sangat sibuk.

Ditambah lagi, atlet Vietnam-Australia ini secara rutin bermain bersama anaknya, Kai, melalui berbagai variasi aktivitas seperti rugby dan seni bela diri. Kini, ia dapat menambahkan video game ke dalam daftar tersebut, karena keduanya bermain beberapa permainan, termasuk Fortnite dan Minecraft.

Baik saat ia berada di rumah, di Sydney, Australia, atau ketika berlatih di Florida, Amerika Serikat, “The Situ-Asian” beralih ke dunia virtual kapan pun ia memiliki kesempatan.

“Saya mendapatkan laptop dari Razer pada tahun 2018, dan sejak itu saya terlibat lebih banyak dalam gaming. Itu ada bersama saya kemana pun saya pergi,” jelasnya.

“Jika saya di rumah, saya menunggu sampai Brooke dan anak-anak tertidur, lalu saya bermain. Saat saya berlatih di luar negeri dan bersantai di akhir minggu, saya akan bermain game.”

“Di rumah, saya memiliki PS4 dan akan bermain Grand Theft Auto atau FIFA. Di laptop saya, saya menyukai Call Of Duty, Counter-Strike dan Overwatch.”

Video game memberi beberapa hal bagi sang penguasa divisi featherweight itu.

Tidak hanya hal ini memberinya kesempatan untuk beralih dari kegiatan sehari-hari, namun itu juga menjadi sarana untuk bersosialisasi dengan teman-temannya secara daring, serta teman di luar sasananya.

“Saya tidak ingin bermain untuk menjadi yang terbaik di dunia. Saya bermain untuk menghabiskan waktu, atau untuk membuat pikiran saya memikirkan sesuatu yang lain daripada apa yang sedang saya jalani. Itu seperti sebuah pelarian,” tegas atlet berusia 31 tahun ini.

“Jika saya bermain secara daring, itu seperti bercengkerama dengan teman-teman – kecuali bahwa anda tidak melakukannya [dalam kehidupan nyata]. Anda online, tetapi anda masih berbicara dengan mereka dan merasa seperti berada di sana secara fisik untuk berkumpul.”

“Saya bermain dengan seluruh rekan latihan saya, lalu memiliki jaringan sosial lainnya dimana saya juga bermain di sana. Mereka mengetahui siapa saya karena saya menjelaskannya pada mereka. Namun saat kami baru memulai, saya hanyalah orang biasa.”

Ada juga satu Juara Dunia ONE yang menantang warga Sydney ini, walau tantangan itu berada di luar Circle.

“[Juara Dunia ONE Flyweight] Adriano Moraes selalu menyuruh saya untuk masuk ke PUBG [PlayerUnknown’s Battlegrounds]. Saya memainkannya, tetapi itu sangat memusingkan, maka saya berkata padanya, ‘Saya tidak bagus di game ini,’” katanya sambil tertawa.

“Adriano baru saja mengunduh Call Of Duty: Warzone, yang baru keluar, maka saya dan dirinya akan segera bermain — saya akan mengalahkan pria ini!”

Dengan banyak dari atlet jajaran teratas ONE Championship memasuki dunia video game dan esports, selalu ada kesempatan bagi para penggemar untuk bertemu salah satu dari mereka secara daring.

Namun, jangan berharap “The Situ-Asian” akan terpancing oleh apa pun, karena ia menyebutkan bahwa salah satu dampak positif dari bermain game ini adalah kesabaran yang bertambah, tidak seperti rekan sepermainannya.

“Satu hal yang beri pada saya adalah kesempatan untuk bertemu orang baru,” tambahnya.

“Bagaimana saya bertemu dengan jaringan sosial saya di luar pertandingan itu cukup beragam — satu orang sedang bermain dan anda seperti, ‘Hei, mari kita bermain lagi, saya akan undang teman-teman saya.’ Sesaat kemudian, ada lima atau enam orang yang bermain game bersama tiap malam.”

“Itu juga benar-benar memberi saya kesabaran. Banyak orang menjadi gila demi sebuah permainan komputer. Saya dapat melihat alasannya saat sesuatu kesalahan terjadi, seperti saat ada ‘lag’ atau saat internet mati. Namun bagi saya, itu seperti, ‘Baiklah, yang berikutnya!”

Baca juga: Akar Dari Kesuksesan Bersejarah Martin Nguyen