Muay Thai

Eko Roni Saputra: Rodtang Dan Petchdam Miliki Peluang Setara

Saat dua atlet muda Muay Thai terbaik saling berhadapan, sangat sulit untuk bisa memprediksi hasil akhirnya.

Tajuk utama ONE: NO SURRENDER pada 31 Juli di Bangkok, Thailand, akan menyuguhkan laga perebutan gelar Juara Dunia ONE Flyweight Muay Thai antara juara bertahan Rodtang “The Iron Man” Jitmuangnon, 23, melawan Petchdam Petchyindee Academy, yang berusia setahun lebih muda.

Laga ini berpeluang tercatat dalam sejarah sebagai salah satu laga perebutan gelar paling memesona.

Bagi Eko Roni Saputra, seniman bela diri campuran asal Indonesia yang tengah berlatih di Singapura bersama Evolve MMA, salah satu aspek paling menarik dari laga ini adalah kemampuan berimbang yang dimiliki kedua atlet.

Dengan kemampuan teknis dan kematangan mental yang berada pada level yang sama, maka kapabilitas dalam membaca dan beradaptasi terhadap jalannya laga akan menjadi vital.

“Bagi saya, susah untuk memprediksi siapa yang akan menang. Memang ketika sudah di atas ring itu susah ditebak,” tutur Eko Roni.



Meski berusia relatif muda, kedua atlet asal Thailand ini memiliki rekor ciamik dalam dunia olahraga kombat. Rodtang telah menjadi Juara Dunia ONE Flyweight Muay Thai sebanyak tiga kali, sementara Petchdam merupakan mantan pemegang sabuk Juara Dunia ONE Flyweight kickboxing.

Catatan mereka secara keseluruhan pun terbilang impresif. Rodtang telah bertanding sebanyak lebih dari 300 kali dalam laga Muay Thai dengan rekor 261-41-10. Sementara Petchdam memiliki rekor 95-15-7 dalam Muay Thai dan Kickboxing.

Menurut Eko Roni, meski Rodtang nampak memiliki keunggulan dari segi statistik, hal ini tidak otomatis membuatnya menjadi unggulan. Ada faktor teknis seperti taktik dan strategi bertanding yang bisa menentukan hasil akhir dari sebuah laga.

“Petchdam juga bagus. Ketika di ring, tidak selamanya yang kuat itu menang. Tidak mudah bagi saya untuk menebak, tapi yang pasti ini akan seru,” jelas Eko Roni.

Tak terkalahkan dalam tujuh laga sejak menjalani debut dalam ONE Super Series pada September 2018 lalu, Rodtang dianggap memiliki keunggulan dari segi kekuatan serta daya tahan tubuh saat menerima serangan.

Menurut Eko Roni, ia bisa menahan deretan pukulan tanpa mundur. Sementara, Petchdam bisa bermain taktis dan tidak mudah terpancing emosi saat mendapat provokasi lawan.

“Rodtang memang agak tahan pukul, tapi belum tentu juga kuat menahan pukulan, apalagi dia ketemu sama-sama dari Thailand. Menurut saya mereka sama-sama yang terbaik di Thailand saat ini, dan Petchdam pernah pegang sabuk juga,” ungkap Eko Roni.

Sebelum laga ini, keduanya pernah bertarung sebanyak dua kali dengan hasil imbang. Masing-masing pernah saling mengalahkan, sehingga laga trilogi mendatang akan menjadi penentuan.

Pada pertemuan pertama tahun 2017 silam, Petchdam mampu keluar sebagai pemenang lewat putusan juri. Namun setahun kemudian, supremasi Rodtang mampu membuat skor kembali berimbang.

“Petchdam pasti punya motivasi buat dapat gelar juga. Rodtang punya power, tapi dia pun gak akan selalu bisa menahan serangan lawan. Petchdam nampaknya enggak akan mau main jarak dekat, karena itu area Rodtang,” pungkas Eko Roni.

Baca juga: Priscilla: Stamp Fairtex Perlu Waspadai Kejutan Dari Sunisa Srisen