‘Kekuatan Alami Saya Kembali’ – Ratchasiesan Ungkap Alasan Naik Divisi Jelang The Inner Circle 1 Mei
Motivasi “Left Meteorite” Ratchasiesan Laochokcharoen sedang berada di titik tertinggi.
Petarung kidal berusia 27 tahun yang sebelumnya dikenal sebagai Kulabdam Sor Jor Piek Uthai itu akan menghadapi jagoan Rusia yang nyaris tak terkalahkan, Elbrus “The Samurai” Osmanov, dalam partai utama The Inner Circle yang digelar di Lumpinee Stadium, Bangkok, pada Jumat, 1 Mei.
Kedua petarung akan menjalani debut mereka di divisi featherweight Muay Thai, dan bintang asal Thailand tersebut yakin keputusan naik kelas akan membawa dampak besar bagi kariernya, sekaligus membawanya lebih dekat pada kontrak bernilai miliaran dan tempat di roster global ONE Championship.
Ratchasiesan, Juara Dunia dua-divisi Lumpinee Stadium, benar-benar mencerminkan istilah “new year, new me.”
Ia membuka tahun 2026 dengan nama baru di ring, menjalani kamp latihan baru di PK Saenchai Muaythaigym dan Somboon Farm, serta kini menjabat sebagai anggota pemerintahan di kampung halamannya.
Selain itu, ia juga berhasil mengembalikan momentum kariernya. Setelah kehilangan ritme pada Desember lalu, ia bangkit tiga bulan kemudian dengan kemenangan KO ronde ketiga atas petarung Uzbekistan, Uzair Ismoiljonov, dalam laga Muay Thai bantamweight di ONE Friday Fights 147.
Meski meraih kemenangan meyakinkan, “Left Meteorite” menyadari bahwa mempertahankan berat badan di kelas bantamweight semakin sulit.
Karena itu, ia memutuskan naik kelas dan akan menjalani debut di featherweight Muay Thai melawan Osmanov. Yang terpenting, Ratchasiesan yakin dirinya akan tampil jauh lebih berbahaya di divisi ini.
Ia menjelaskan:
“Keputusan naik ke featherweight memang dipengaruhi oleh laga terakhir saya, di mana saya kesulitan dengan berat badan. Tapi ada faktor lain juga. Tubuh saya sudah tidak bisa bertahan di berat lama. Saya sudah bertarung di kelas itu selama bertahun-tahun, tapi sekarang rasanya tubuh saya mulai melawan.
“Saya melihat divisi 70 kilogram, memang para petarungnya lebih besar dan tinggi, itu normal untuk petarung luar negeri. Tapi dari segi kekuatan, seharusnya tidak jauh berbeda. Saya adalah petarung dengan pukulan keras, jadi saat bertarung di berat yang nyaman dan sehat, kekuatan alami saya kembali. Pukulan saya pasti akan lebih berat kali ini.”
Osmanov tampil dominan sepanjang kariernya dengan rekor profesional 14-1. Satu-satunya kekalahan tersebut datang dari penantang Gelar ONE Bantamweight Kickboxing terbaru, Yuki Yoza, dalam pertarungan tiga ronde yang berlangsung sengit.
Setelah kekalahan itu, Osmanov beralih dari kickboxing ke Muay Thai dan langsung menunjukkan hasil positif. Petarung berusia 24 tahun tersebut mencatat dua kemenangan beruntun, dengan KO atas Kampeetewada Sitthikul serta kemenangan tipis atas mantan penantang Gelar Dunia ONE, Saemapetch Fairtex.
Ratchasiesan mengakui lawannya memiliki footwork yang licin, tangan yang cepat, dan kebiasaan melancarkan kombinasi serangan dalam volume tinggi. Namun, ia yakin memiliki daya pukul yang lebih besar, serta pengalaman Muay Thai yang jauh lebih matang.
Ia mengatakan:
“Saya akan fokus pada pukulan keras. Kalau dia terlalu cepat dan menjaga jarak, saya akan mulai dengan menghancurkan kakinya. Kalau pergerakannya hilang, kecepatannya tidak akan berarti lagi. Saat kakinya sudah rusak, dia akan melambat, dan di situlah kami akan bertukar serangan. Saya yakin pukulan saya lebih keras, jadi saya punya keunggulan di situ.
“Selain itu, saya sudah bertarung di Muay Thai sepanjang hidup saya. Saya punya pengalaman lebih dalam semua aspek, terutama di clinch dengan sikutan. Kalau ada kesempatan untuk mendaratkan sikutan, saya pasti akan melakukannya.”
Ratchasiesan Termotivasi Meraih Kontrak Bernilai Miliaran
Ada satu alasan lain yang membuat Ratchasiesan Laochokcharoen semakin bersemangat menghadapi Elbrus Osmanov – mimpinya untuk mendapatkan kontrak bernilai miliaran dan tempat di roster global ONE Championship.
Petarung Thailand itu sebenarnya sudah beberapa kali mendekati pencapaian tersebut, dengan membangun kemenangan beruntun sebelum akhirnya terpeleset di momen penting. Ia sempat meraih empat kemenangan beruntun sebelum kalah tipis lewat majority decision dari PTT Apichart Farm pada Desember lalu.
Kekalahan itu justru membakar semangatnya, dan kini ia bertekad meninggalkan Lumpinee Stadium pada 1 Mei dengan kemenangan spektakuler yang akan membawanya selangkah lebih dekat ke kontrak impian.
Ia menutup:
“Target saya di laga ini adalah knockout karena saya benar-benar menginginkan kontrak itu. Saya sempat punya kesempatan saat melawan PTT, tapi gagal. Sekarang usia saya juga semakin bertambah, jadi saya tidak bisa lagi menyia-nyiakan peluang seperti ini.”