Berita

Aung La N Sang Katakan De Ridder Akan Hadapi Kejutan Besar

Juara Dunia dua divisi ONE Aung La “The Burmese Python” N Sang siap membayar seluruh waktu yang dihabiskannya di luar arena pertandingan.

Sudah satu tahun sejak ikon olahraga Myanmar ini memasuki Circle ONE untuk terakhir kalinya, namun penampilannya di Singapura ini akan layak ditunggu.

Hari Jumat, 30 Oktober nanti, Aung La N Sang akan mempertahankan gelar Juara Dunia ONE Middleweight miliknya melawan penantang teratas tak terkalahkan Reinier “The Dutch Knight” de Ridder dalam laga utama ajang ONE: INSIDE THE MATRIX.

Walau “The Burmese Python” bukanlah seorang peramal, ia melihat sebuah kegemparan luar biasa dalam atraksi utama malam itu.

“Saya melihat laga ini berakhir dengan penyelesaian yang sangat menarik,” kata bintang berusia 33 tahun ini.

Aung La N Sang memang dikenal memiliki cara tersendiri untuk mengalahkan lawan-lawannya. Ia memiliki tingkat penyelesaian 92 persen dalam kariernya, mengalahkan 12 lawan melalui submission dan selusin lainnya melalui KO.

Sejak merebut gelar Kejuaraan Dunia ONE Middleweight dari tangan Vitaly Bigdash pada bulan Juni 2017, dalam laga yang dinobatkan menjadi “Laga Terbaik Tahun Ini,” superstar Myanmar ini meraih enam kemenangan berikutnya melalui penyelesaian.

Hal ini termasuk kemenangan atas bintang dunia seperti Alain “The Panther” Ngalani, Alexandre “Bebezao” Machado, Ken Hasegawa dan penantang tak terkalahkan saat itu, Mohammad “O Lutador” Karaki.

Namun, mungkin kemenangan terbesar dalam kariernya ini terjadi pada bulan Oktober 2019, saat “The Burmese Python” mempertahankan gelar Juara Dunia ONE Light Heavyweight melawan penguasa divisi heavyweight Brandon “The Truth” Vera – petarung yang menjadi panutan Aung La N Sang saat ia mengawali karier bela diri campuran saat itu.



Dalam laga tersebut, ikon Myanmar ini maju menghadapi Vera dalam pertukaran striking keras di tengah Circle.

Pada ronde kedua, Aung La N Sang menggemparkan para penggemar di seluruh dunia saat ia menyarangkan sebuah serangan siku memutar ke tubuh atlet Filipina-Amerika itu.

Serangan tersebut mengejutkan Vera, yang membalas dengan teknik yang sama yang meleset. Lalu “The Burmese Python” melontarkan sebuah pukulan kanan, menjatuhkan raja heavyweight ini ke atas kanvas, serta menghujaninya dengan serangan lanjutan sampai wasit menghentikan laga.

“Laga itu sangat besar,” kenang Aung La N Sang dalam sebuah wawancara yang terjadi sebelum ini.

“Secara pribadi, saya adalah penggemar berat Brandon Vera. Saya telah menjadi penggemarnya sejak berada di bangku kuliah. Saat saya masih di perguruan tinggi, saya menontonnya mencetak KO atas Justin Eilers, dan kemudian, menyaksikannya mendobrak divisi heavyweight saat ia pertama kali bergabung bersama ONE Championship.”

“Untuk dapat melawan pria yang menjadi panutan saya sebagai seorang penggemar, itu sangatlah luar biasa. Untuk berada di arena yang sama, berdiri di hadapannya, itu adalah sesuatu yang sangat pribadi bagi saya. Bagi karier saya, itu menjadikan saya diperhatikan sebagai pria yang mengalahkan juara heavyweight dan membuka berbagai pintu bagi saya.”

Sejak malam itu di Tokyo, Jepang, Aung La N Sang telah bersabar menunggu siapa penantang berikut yang akan maju ke hadapannya.

Lalu, masuklah De Ridder.

Pria Belanda berusia 30 tahun ini, yang memegang sabuk hitam Brazilian Jiu-Jitsu dan judo, memang tak terkalahkan dalam karier bela diri campurannya.

Setelah merebut sembilan kemenangan beruntun, ia bergabung bersama ONE dan terus menambah jumlah korban dalam rekor sempurnanya tersebut.

De Ridder mencetak submission atas bintang Tiongkok yang sedang naik daun, “King Kong Warrior” Fan Rong, hanya dalam waktu 75 detik melalui kuncian D-Arce choke, mencetak KO atas raksasa Brasil bernama Gilberto “Giba” Galvao dengan serangan lututnya, serta mengalahkan Juara Dunia Brazilian Jiu-Jitsu lima kali Leandro “Wolf” Ataides melalui sebuah keputusan mutlak dari para juri.

Aung La N Sang memang telah memperhatikan sepak terjang “The Dutch Knight.” Faktanya, De Ridder adalah salah satu dari ketiga atlet yang ingin dihadapi “The Burmese Python” dalam tahun ini.

“Reinier sangat ahli di [permainan] ground. Ia akan ingin membawa anda ke bawah dan mengincar submission,” kata sang penguasa divisi middleweight ini.

“Ini akan menjadi laga antara dua gaya [bertarung], namun saya tak akan mengatakan bahwa ini adalah laga striker-versus-grappler, karena saya juga dapat melakukan grapple. Tetapi, ia akan lebih condong ke arah grappling dan saya akan lebih condong ke striking.”

Untuk mempersiapkan diri bagi laga ini, Aung La N Sang telah berlatih bersama pelatihnya, Henri Hooft, di Sanford MMA di Deerfield Beach, Florida, AS.

“The Burmese Python” telah melihat arsenal stand-up miliknya lebih berkembang ke tingkatan berikutnya berkat bimbingan Hooft selama bertahun-tahun, namun ia juga telah mengembangkan kemampuan gulat dan permainan bawahnya.

Pelatihan tersebut termasuk melibatkan bintang Myanmar ini dalam berbagai teknik untuk melepaskan diri dari posisi yang sulit dan mencari posisi yang lebih menguntungkan, untuk memberinya dominasi besar dalam laga. Di antara metode pelatihan tersebut, serta pengalamannya sebagai seorang bintang veteran, Aung La N Sang merasa yakin terkait laga melawan de Ridder ini.

“Ia akan mengincar takedown. Ia akan mencari submission. Ia akan ingin melakukan grapple, namun saya telah memiliki kemampuan itu juga, serta striking. Saya jelas mengetahui fakta bahwa saya unggul di sisi striking, maka bagi laga ini, saya akan ingin mengincar penyelesaian di atas kaki,” kata Aung La N Sang.

“Ia adalah seorang grappler tingkat tinggi, dimana ia juga meraih beberapa submission licin, namun saya tidak beranggapan bahwa ia adalah pegulat tingkat tinggi. Maka, saya kira ia akan mengalami sedikit kesulitan untuk menyeret saya turun, dimana saya tidak yakin bahwa permainan ground miliknya itu jauh lebih baik dari saya. Jika itu berlanjut ke ground, saya akan baik-baik saja.”

“Dan, sebagai petarung tak terkalahkan, ia belum pernah terdorong sampai pada batasannya. Ia belum pernah menerima serangan seperti yang saya akan lemparkan padanya, maka kami akan melihat bagaimana ia akan bertahan untuk menerima itu semua.”

Walau “The Burmese Python” belum berlaga selama tahun ini, para penggemar tak perlu khawatir saat ia memasuki Circle tanggal 30 Oktober nanti.

Aung La N Sang telah berlatih secara rutin dan tetap menjaga kondisi tubuhnya, sembari menunggu ONE Championship memberinya kesempatan berkompetisi sekali lagi.

“Saya tetap aktif untuk menjadi versi diri saya yang lebih baik lagi, maka seharusnya tak ada kesulitan saat memasuki ring,” tegasnya. “Bagaimana pun, anda dapat melihat versi diri saya yang lebih baik.”

Baca juga: 5 KO Terbaik Dari Para Bintang Di ONE: INSIDE THE MATRIX