Bela Diri Campuran

Bagaimana Aung La N Sang Menjadi Panutan Bagi Myanmar

Aung La “The Burmese Python” N Sang telah menjadi olahragawan terbesar di Myanmar dan ikon global melalui kesuksesan luar biasanya bersama ONE Championship.

Dengan menjadi Juara Dunia ONE Middleweight dan Light Heavyweight, pria berusia 34 tahun ini mendapatkan respek dari para penggemar bela diri di seluruh dunia dan memberi inspirasi pada negara tersebut setelah sebuah perjalanan panjang menuju puncak.

Aung La N Sang harus mengatasi berbagai kesulitan besar dan menunjukkan semangat luar biasa untuk berjaya dari seluruh pergolakan hidupnya – baik di dalam dan di luar ring – yang diingatnya sebelum laga ulang melawan Vitaly Bigdash di ajang ONE INFINITY 1.

Lahir Dan Tumbuh Besar Di Myanmar

Keluarga Aung La N Sang pindah dari Myitkyina ke kota terbesar Myanmar supaya Aung La dan saudaranya dapat masuk ke Sekolah Internasional Yangon. Ayahnya bekerja sebagai pedagang di dalam industri giok di negara tersebut.

Aung La mendapatkan nilai luar biasa dan sangat bersemangat dalam olahraga, dimana ia bermain untuk beberapa tim senior di sekolahnya, namun ia kecewa dengan kemampuan timnya untuk menandingi sekolah-sekolah lain di negara tetangga.

“Saat kami bermain sepak bola, ketika kami bermain voli, dan saat bermain basket, kami akan kalah,” jelasnya.

“Kami akan kalah di sebagian besar cabang olahraga, dan itu membuat saya sedikit marah. Saya hanya sedih. Saya kira pelatihannya tidak cukup baik. Kami tidak mengetahui apapun tentang strength and conditioning.”

Saat tahun terakhirnya di sekolah akan selesai, ia merencanakan untuk belajar di Amerika Serikat, dimana ia satu hari berharap untuk kembali pulang dan menciptakan kehidupan yang lebih baik untuk generasi berikutnya di Myanmar.

“Terdapat perbedaan tingkatan yang sangat besar [dalam konteks pelatihan] di Myanmar dibandingkan semua lokasi lain dan semoga, dalam masa hidup saya, saya dapat menutup celah tersebut,” tambahnya.

Awal Yang Baru

Pada tahun 2003, Aung La N Sang meninggalkan Myanmar untuk mempelajari Teknik Agrikultur di Universitas Andrews, di Berrien Springs, Michigan, AS. Ia adalah murid yang sangat terfokus, namun setelah satu tahun, ia menemukan gairah baru saat ia melihat seorang pria Samoa di kelasnya memukul samsak besar di sasana kampusnya.

Ia merasa tertarik, dan sore itu, ia menjalin persahabatan yang mengawali perjalanan “The Burmese Python” sebagai seniman bela diri. 

“Ia membawa saya ke sasana afiliasi [Carlson] Gracie di South Bend, Indiana, yang letaknya 45 menit di bagian selatan [kampus saya],” ingatnya.

“Sejak saat itu, saya mulai berlatih Brazilian Jiu-Jitsu, jatuh cinta pada BJJ dan seni bela diri.”

Atlet kelahiran Myanmar ini bepergian ke sasana beberapa kali dalam satu minggu, dan pada bulan Mei 2005, ia mencetak debut profesional dalam bela diri campuran di divisi light heavyweight.

Ia menghadapi lawan yang lebih besar, dan rivalnya itu menang TKO di pertengahan ronde pertama saat dokter pertandingan menghentikan laga karena tulang pipi Aung La N Sang yang bengkak. Terlepas dari kemunduran itu, antusiasmenya untuk berkompetisi dalam olahraga baru ini hanya semakin meningkat.

“Itu membuat saya menyukai seni bela diri. Kehebohan itu, ketegangannya? Saya terpincut,” sebutnya.

“Saya tetap ingin berlatih lebih banyak dan menjadi lebih baik, lalu segera setelah mereka mengatakan ada satu laga lainnya, saya menjawab, ‘Ya, saya akan maju.’”

Titik Balik

 

Aung La N Sang mulai berkompetisi dalam divisi alaminya di middleweight, serta memenangkan lima laga selanjutnya pada ronde pertama. Ia melakukan itu sambil menyelesaikan studinya dan membiayai diri sendiri dengan bekerja di peternakan susu dekat kampusnya.

Setelah lulus dengan gelar sarjana pada tahun 2007, ia berpindah ke Columbia, Maryland, untuk tinggal di rumah kakak perempuannya dan menemukan pekerjaan tetap. Di sana, ia juga berlatih di sasana Crazy 88 MMA di Baltimore. Namun, waktunya di sana sangat singkat karena ia mengambil pekerjaan sebagai peternak lebah di Florida dua bulan kemudian.

Satu setengah tahun berikutnya, Aung La N Sang menyadari ia tidak bahagia karena pekerjaan hariannya sangat mempengaruhi penampilannya saat waktunya tiba untuk berkompetisi.

Ia akhirnya memutuskan untuk keluar dari kenyamanan pekerjaan tetap yang dimilikinya untuk mengejar mimpi menjadi seorang Juara Dunia bela diri. “The Burmese Python” kembali pindah ke Maryland dan bergabung kembali dengan Crazy 88. Di sana, dengan fokus baru dalam latihannya, ia mulai mengumpulkan kemenangan.

“Anda menabur apa yang anda tuai,” sebutnya. “Jika anda tidak melakukan pekerjaannya, anda tidak akan mendapatkan hasilnya.”

Sejarah Kejuaraan Dunia

Setelah memperbaiki rekornya dan memenangi laga profesional ke-15, Aung La N Sang bergabung dengan ONE Championship pada tahun 2014 dan segera mencetak dampak luar biasa di atas panggung dunia. Ia menang atas empat lawan pertamanya dan mendadak menerima laga perebutan gelar Juara Dunia ONE Middleweight.

Dengan waktu persiapan yang hanya berselang dua minggu untuk laga pertamanya melawan Bigdash di bulan Januari 2017, ia harus mengakui keunggulan lawannya itu. Namun, saat ia mendapatkan sebuah laga ulang lima bulan kemudian setelah menjalani pemusatan latihan secara penuh waktu, “The Burmese Python” menjadi Juara Dunia ONE Middleweight di depan pendukung tuan rumah di Yangon.

Kontes tersebut menjadi Laga Terbaik Tahun 2017, namun lebih dari itu, laga ini memberi Myanmar Juara Dunia pertamanya.

“Itu terasa tidak nyata. Ini adalah sesuatu yang saya kerjakan selama saya hidup, dan ini menjadi kenyataan di depan penggemar tuan rumah,” kenangnya.

“Saya sangat terkesima dan berbahagia, serta merasa sangat diberkati. Saya datang dari situasi yang sangat sederhana. Datang dari kota kecil di Myanmar, saya tak dapat mempercayai ini dan adalah sebuah kehormatan bagi saya memenangi sebuah Kejuaraan Dunia.”

Kesuksesan itu tidak berhenti di sana. Sejak saat itu, pria berusia 34 tahun ini menjalani berbagai laga luar biasa.

Terinspirasi oleh perjalanannya kembali ke Florida dan bekerjasama dengan pelatih Henri Hooft di Hard Knocks 365, ia menikmati tahun 2018 yang luar biasa dengan merebut gelar Juara Dunia ONE Light Heavyweight dan mempertahankan sabuk divisi middleweight dua kali – termasuk sebuah aksi melawan Ken Hasegawa yang memberinya kehormatan untuk menjadi bagian dari Laga Terbaik Tahun 2018 dan KO Terbaik Tahun 2018.

Kesuksesannya berlanjut dengan sepasang kemenangan di ajang terbesar dalam sejarah ONE tahun lalu – termasuk sebuah KO luar biasa atas Juara Dunia ONE Heavyweight Brandon “The Truth” Vera.

Selama waktunya di atas panggung dunia, “The Burmese Python” juga telah mendapatkan penghormatan di Myanmar, serta menggunakan statusnya untuk membantu rekan senegaranya dengan mendukung berbagai kegiatan sosial dan memberi inspirasi bagi mereka untuk mengikuti langkahnya.

“Saya dapat memotivasi orang lain di tanah kelahiran dan negara kelahiran saya, untuk memberi tahu bahwa mereka dapat meraih kesuksesan di tingkatan tertinggi jika mereka memilih jalan tersebut, bekerja keras, serta menaruh pikiran dan jiwa mereka ke dalam hal tersebut,” sebutnya.

“Sebagai figur panutan dalam olahraga, saya memberi inspirasi negara tersebut dengan menjadi atlet terbaik yang semampu saya. Kami tidak pernah memiliki siapapun dari Myanmar berkompetisi dalam tingkat dunia. Adalah sebuah kehormatan bagi saya dan sesuatu yang saya banggakan, dan menjadi sesuatu yang sangat memotivasi saya.”

Baca Juga: Laga Blockbuster Bagi Gelaran ONE INFINITY 1 Dan ONE INFINITY 2