Fitur

Makna Dan Peran Ibu Bagi Adrian Mattheis Dan Priscilla Hertati Lumban Gaol

22 Des 2020

Dalam setiap kisah perjalanan besar, selalu ada sosok ibu yang memegang peranan penting. Tak terkecuali untuk superstar bela diri Indonesia.

Menyambut hari ibu yang jatuh pada Selasa, 22 Desember, tak sedikit atlet bela diri kebanggaan Indonesia yang berbagi cerita akan sosok pahlawan yang telah melahirkan dan membesarkan mereka hingga bersinar di panggung global seperti sekarang.

Memiliki latar belakang berbeda, Adrian “Papua Badboy” Mattheis dan Priscilla “Thathie” Hertati Lumban Gaol berbagi cerita akan peran ibu dalam membentuk karier mereka sebagai atlet profesional.

Lahir di Ternate, Maluku Utara, sang “Papua Badboy” memiliki masa kecil yang bisa dibilang berbeda dengan anak sebayanya. Lahir 27 tahun silam, kala itu Adrian kecil bersinggungan langsung dengan Konflik Ambon pada tahun 1999.

Cinta Pertama Adrian Mattheis

Adrian, yang kala itu baru berusia 6 tahun, harus berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya untuk menghindari pergolakan. Dalam perjuangan yang dimulainya sejak dini itu, sosok ibu adalah seseorang yang menjaganya kala sang ayah terpisah ribuan kilometer di Papua untuk bekerja.

“Kalau Adrian, terima kasih buat mama, yang waktu itu korban kerusuhan Ternate mama sudah gendong bawa lari Adrian saat itu. Pokoknya, mama sosok malaikat yang menolong Adrian juga,” kenang sang Juara Turnamen ONE Strawweight Indonesia tersebut.

Akibat konflik itu, akhirnya Adrian dan ibunya diboyong oleh sang ayah ke Bintuni, Papua. Di Bumi Cendrawasih, Adrian besar dan memulai kembali hidupnya di Sorong, Papua Barat. Di kota yang menyimpan pesona alam luar biasa itu lah, sosok ibu mengajarkan banyak hal tentang bertahan hidup bagi Adrian.

“Dia mengajarkan cinta yang tulus bagaimana, dia ajar kita dari kecil itu. Mama sering mengajar kamu harus bisa masak, kamu harus bisa minimal masak nasi, masak air yang biasa-biasa, bisa masak. Maksudnya kalau kita punya istri melahirkan atau apa kita bisa mencuci dan menjadi sosok yang bertanggung jawab,” ujarnya.

“Kalau untuk Adrian, sosok seorang ibu itu cinta pertama anak laki-laki.”



Terkait perjalanannya sebagai atlet, Adrian mengingat sang ibu sebagai salah satu yang selalu mendukungnya.

Hanya saja, dukungan itu juga disertai dengan kekhawatiran akan resiko dari profesi Adrian di bidang bela diri campuran.

“Pertama-tama, kariernya itu memang enggak disetujui, kan. Tapi puji Tuhan mama sudah mulai mengizinkan. Tapi orang tua siapa yang mau terima, apalagi mama yang mengandung kita lihat anaknya dipukul-pukuli begitu?”

Namun, kecintaan pada bela diri serta kemenangan yang dipersembahkan Adrian baik di panggung nasional atau internasional membuat restu sang ibu turun. Di mana atas restu tersebut, Adrian makin termotivasi untuk memberikan yang terbaik.

“Jadi puji Tuhan juga, mama juga ya sudah mengizinkan juga walau mama tidak sempat nonton kan. Setidaknya mama bilang iya, tapi harus punya batas waktu sampai kapan gitu,” cerita Adrian.

Hanya apabila disuruh memilih, sosok kedua orang tua disebut Adrian sama berjasa baginya.

“Kalau orang tanya cinta kamu besar ke mama atau papa? Saya tetap jawab dua-duanya. Karena pacar itu bisa mantan, karena guru bisa mantan, tapi mantan orang tua itu tidak ada kakak.”

Sosok Yang Selalu Ada Di Belakang Priscilla

Tak berbeda dengan Adrian, srikandi bela diri Indonesia juga memiliki kesan yang begitu mendalam akan sosok ibu.

“Cerita tentang mama itu orang yang selalu setia mendoakan saya, selalu setia mengingatkan saya kalau melakukan sesuatu itu harus selalu mengandalkan doa. Dia itu selalu ngajarin saya enggak boleh mengandalkan kekuatan sendiri,” cerita sang peraih medali Kejuaraan Dunia Wushu tersebut.

“Banyak hal-hal kecil yang kalau mau diceritain, ada banyak tentang ibu.”

Bagi Priscilla, momen paling berkesan baru saja dirasakannya bersama sang ibu. Bukan di arena pertandingan, melainkan saat ia mengikat janji suci bersama suami sekaligus pelatihnya pada Agustus lalu.

“Kemarin waktu saya nikah aja, mamak kayak sedih banget melepas saya. Waktu sungkeman itu, beliau yang nangisnya kayak enggak karu-karuan. Itu momen melepas anak perempuan pertamanya kali.”

“Jadi di situ saya merasakan benar kalau mama ini sayang banget sama saya,” ujar Priscilla.

Setelah menikah, Priscilla mengaku kalau hubungannya dengan sang ibu tak banyak berubah. Ia tetap tak ubahnya anak sulung perempuan pertama di keluarga besarnya.

“Mama memang dekat banget sama saya, kayak sekarang biar saya sudah menikah tetap saja dianggapnya seperti belum menikah. Masih sering dicari, ditanyain pulang enggak? Biasa tiap Sabtu-Minggu saya pulang, tapi mereka tetap enggak ada perubahan,” ceritanya.

“Jadi sekarang setiap hari Minggu wajib makan siang bersama di rumah, kalau dulu makan ya makan saja. Sekarang saya sama suami diwajibkan banget pulang ke rumah.”

Di sisi lain, sosok sang ibunda adalah salah satu yang menjadi tantangan besar bagi perkembangan karier bela diri Priscilla. Di tengah ketidaksetujuan, konsistensi dan keyakinan Priscilla diuji.

“Kalau dalam dunia atlet, mama kan orang yang paling enggak mendukung,” ungkap Priscilla sembari tertawa.

“Mama orang yang paling bersikeras, sama papa juga sih. Mereka orang-orang yang sampai sekarang pun, [masih tidak setuju] pas kemarin saya tanding terakhir. Walaupun mereka sudah sempat mendukung, tapi kayak balik lagi. ‘Sudahlah, sudah menikah, urus rumah tangga saja,'” cerita Priscilla.

Baca juga: Peran Jakarta Sebagai Kawah Candradimuka Bagi Karier Stefer Rahardian

Muat Lebih Banyak

Ikuti perkembangannya

Bawa ONE Championship kemana pun anda pergi! Daftarkan diri untuk mendapatkan akses ke berita terbaru, berbagai tawaran spesial dan kursi terbaik dalam gelaran langsung kami.
Dengan mengirimkan formulir ini, anda menyetujui pengumpulan, penggunaan dan pembukaan informasi anda berdasarkan Privacy Policy kami. Anda dapat membatalkan (unsubscribe) dari jenis komunikasi ini kapan saja.