Fitur

Seni Bela Diri Jadikan Ayaka Miura Menjadi Wanita Kuat, Berkeyakinan Tinggi

Ayaka Miura adalah salah satu bintang yang paling menarik dalam seni bela diri campuran wanita.

Pemilik sabuk hitam judo tingkat ketiga asal Jepang ini mencetak peningkatan pesat dalam disiplin ini, meski dirinya memulai relatif terlambat dalam karier profesionalnya, dimana ia pun juga telah menargetkan gelar Juara Dunia ONE Championship.

Pada bulan Februari, ia mencetak debut sensasional, dan kini ia pun siap mengambil langkah selanjutnya menuju sabuk emas melawan Samara “Marituba” Santos pada Jumat, 2 Agustus ini di ONE: DAWN OF HEROES.

Jelang penampilan kembali atlet berusia 28 ini di Manila, Filipina, Miura menjelaskan bagaimana dirinya berubah dari menjadi gadis pinggiran yang pendiam menjadi atlet elite dalam organisasi bela diri terbesar di dunia ini.

Menemukan Panggilannya

The incredible flexibility of 🇯🇵superstar Ayaka Miura! 😱

The incredible flexibility of 🇯🇵 superstar Ayaka Miura! 😱🗓: Manila | 2 August | 7PM | ONE: DAWN OF HEROES📺: Check local listings for global TV broadcast📱: Watch on the ONE Super App 👉 http://bit.ly/ONESuperApp 👨‍💻: Prelims LIVE on Facebook | Prelims + 2 Main-Card bouts LIVE on Twitter

Posted by ONE Championship on Monday, June 17, 2019

Ayaka memiliki masa kanak-kanak yang sangat terlindungi sebagai anak tunggal dari keluarga yang sangat erat di Saitama – daerah pemukiman di pinggiran Tokyo.

Ia mengakui bahwa dirinya adalah anak pendiam, namun ia sangat bahagia.

Meski dirinya menambahkan bahwa ia tidak terlalu atletis atau tertarik berkompetisi, ia menjalani senam dan renang selama enam tahun melewati sekolah dasar, sebelum ia tertarik pada seni bela diri saat beranjak remaja.

“Ayah saya menyaksikan seni bela diri di TV, sehingga saya tertarik sejak saat itu,” jelasnya.

“Saya memulai judo di sekolah menengah pertama, tetapi orang tua saya awalnya tak setuju.”

“Apa yang saya suka tentang judo adalah perasaan saat mencetak lemparan bersih – sebuah ippon. Itu sangat indah.”

“Saya menjelaskan betapa saya menikmati tantangan dari judo, menyampaikan perasaan saya ke mereka, serta saya membujuk mereka bahwa tujuan saya positif.”

Ini adalah awal mula dari perjalanan seni bela diri Ayaka, dan hal itu memaksanya untuk membuka tingkat kepercayaan dan kekuatan yang tak pernah ia ketahui sebelumnya.

Seluruh sesi latihannya memang sangat melelahkan, namun ia bertahan untuk melewati persaingan ketat di sirkuit Jepang, meraih peringkat tinggi, serta menempatkan dasar bagi kariernya di masa depan.

“Latihan itu sangat sulit, namun tak pernah sekali pun saya berpikir untuk menyerah,” katanya.

Dari Judo Ke Seni Bela Diri Campuran

Ayaka Miura uses her judo to throw Laura Balin at ONE: CALL TO GREATNESS

Perjalanan bela diri Miura mencapai arah baru saat tempat kerjanya sering dikunjungi oleh Juara Dunia dua divisi DEEP Ryo Chonan – salah satu nama ikonik di skena Jepang – dan timnya.

“Saya memutuskan untuk masuk ke bela diri campuran saat saya bekerja di klinik pengaturan tulang tempat Chonan-san dan beberapa atlet Tribe Tokyo MMA datang untuk berobat,” jelasnya.

“Saya tertarik dan ingin pergi ke sasana mereka.”

Di bawah pengawasan ketat Ryo, dia menambahkan keterampilan striking dan grappling sebagai tambahan dari keahlian judo yang ia miliki

Ia memasuki kompetisi profesional dengan mudah pada usia 22 tahun lewat sebuah pertarungan grappling sebelum dirinya mencetak debut bela diri campuran satu tahun kemudian di DEEP JEWELS, yang ia menangkan lewat submission ronde pertama.

“Itu adalah perasaan yang bagus, namun saya masih harus banyak belajar,” katanya.

Menyusul sebuah kekalahan – meski melawan seseorang dengan catatan rekor 21 pertandingan – dalam laga profesional keduanya, warga asli Saitama ini menghabiskan hampir dua tahun di sisi arena, namun ia kembali untuk memenangkan enam dari tujuh pertarungan berikutnya selama 24 bulan setelah itu dan meraih posisi di “The Home of Martial Arts.”

Melihat Jalurnya

Ayaka Miura and Ryo Chonan at ONE: CALL TO GREATNESS after her scarf-hold armlock submission of Laura Balin at ONE: CALL TO GREATNESS

Miura mengatakan bahwa ia tak akan mungkin meraih keberhasilan itu jika tanpa pelatihnya, yang juga menjadi mentor bagi bintang divisi flyweight ONE, Yuya “Little Piranha” Wakamatsu.

“Dia telah membantu saya dengan segalanya dan memberi saya banyak dukungan,” katanya.

“Karenanya, saya telah belajar tingkat kedisiplinan dan pengendalian diri yang lebih tinggi. Saya mampu menganalisa diri saya lebih lagi sekarang – latihan, kondisi, teknik dan kemampuan saya, serta kekuatan dan kelemahan saya.”

Chonan sangat terbuka di media sosial saat salah satu atletnya tidak menunjukkan profesionalisme yang ia harapkan dan tunjukkan dari dirinya sendiri, namun ia juga sangat cepat memuji para muridnya yang memiliki hati dan integritas tinggi.

“Chonan-san telah mengajari saya pentingnya mendobrak maju melewati momen-momen terberat dan paling menyakitkan dalam latihan dan kompetisi,” tambahnya.

Hanya sedikit atlet yang memberi contoh lebih baik daripada Ayaka, yang mendapatkan julukan “Zombie” di awal kariernya berkat kemampuannya untuk melewati kesulitan.

Mengincar Posisi Puncak

In her ONE debut, Japanese phenom Ayaka Miura pulls out an incredible submission to finish Laura Balin at 1:13 of Round 1!

In her ONE debut, Japanese phenom Ayaka Miura pulls out an incredible submission to finish Laura Balin at 1:13 of Round 1!Watch the full event on the ONE Super App 👉 http://bit.ly/ONESuperApp | TV: Check local listings for global broadcast

Posted by ONE Championship on Friday, February 22, 2019

Miura menjalani debut ONE  yang sempurna, meski ia sangat gugup untuk terbang ke luar negeri untuk berlaga di atas panggung dunia.

Ia melontarkan mantan penantang gelar Juara Dunia ONE Women’s Strawweight Laura Balin ke atas kanvas dan menggunakan kuncian scarf-hold Americana khas miliknya untuk mencetak penyelesaian dalam waktu 73 detik.

Jelas bahwa kemenangan itu sangat berarti bagi dirinya, karena dia hampir terbawa luapan emosi di tengah ring.

“Yang paling saya sukai tentang berkompetisi dalam bela diri campuran adalah perasaan untuk menang dan berdiri di atas ring saat nama saya dipanggil. Itu perasaan terbaik!” katanya.

Penampilannya menjadikan judoka ini salah satu talenta terbaik untuk disaksikan di tahun 2019, dan ia ingin kembali menunjukkan alasanya pada para penggemar di ONE: DAWN OF HEROES.

Jumat ini, Miura berniat untuk kembali meraih kemenangan dengan penuh gaya.

“Hal terutama bagi saya sekarang adalah tak hanya memenangkan laga saya berikutnya bersama Samara Santos, tetapi untuk menghentikannya,” katanya.

“Lalu, pada akhir tahun ini atau tahun depan, saya akan menginginkan laga perebutan gelar dan menjadi Juara Dunia.”

Ikuti perkembangannya

Bawa ONE Championship kemana pun anda pergi! Daftarkan diri untuk mendapatkan akses ke berita terbaru, berbagai tawaran spesial dan kursi terbaik dalam gelaran langsung kami.
Dengan mengirimkan formulir ini, anda menyetujui pengumpulan, penggunaan dan pembukaan informasi anda berdasarkan Privacy Policy kami. Anda dapat membatalkan (unsubscribe) dari jenis komunikasi ini kapan saja.