Muay Thai

Sam-A Menikmati Hasil Dari Pengorbanan Sepanjang Hidupnya

Sam-A Gaiyanghadao adalah salah satu atlet terbaik dalam sejarah Muay Thai, namun kesuksesannya tidak akan mungkin terjadi tanpa adanya pengorbanan dalam 25 tahun kariernya di olahraga tersebut.

Atlet Thailand berusia 36 tersebut – yang akan menghadapi Rocky Ogden dalam laga perebutan gelar Juara Dunia ONE Strawweight Muay Thai pada ajang ONE: KING OF THE JUNGLE – harus merelakan banyak hal demi meraih sukses di level tertinggi.

Namun, menyadari bahwa segala pengorbanan yang ia lakukan telah membawa keluarganya keluar dari jurang kemiskinan membuat atlet asal Evolve ini merasa puas.

“Saya melihat hasil dari segala pengorbanan yang telah saya lakukan, dan hal itulah yang tepta membuat saya terus berjuang,” ungkapnya.

“Bahkan saat masih kecil, saya sudah bertarung dan menghasilkan uang. Namun bagi saya hasilnya terasa sebanding.”

Sam-A mulai melatih mentalnya dalam “seni delapan tungkai” sejak masih berusia 9 tahun. Seperti kebanyakan anak seusianya, ada masa dimana ia hanya ingin bermain, namun untuk meraih sukses mengharuskannya fokus pada latihan.

“Terkadang saya hanya ingin bermain, namun tak bisa karena saya harus latihan setelah pulang sekolah,” tambahnya.

“Anak lainnya bisa bermain setelah pulang sekolah, namun saya memilih jalur ini melaluinya. Saya menyadarinya sejak kecil, dan saya sudah berlatih di sebuah sasan besar saat baru berusia 10 tahun.

“Saya masih memiliki banyak teman dalam Muay Thai. Saya bertarung dan menghasilkan uang. Itu menyenangkan bagi saya dan saat ke sekolah saya panya uang jajan – lebih banyak dari teman-teman yang lain jadi [pengorbanan yang saya lakukan] terasa terbayarkan! Terkadang saya merasa ingin main, namun saya harus tetap berlatih.”



Kala itu, Sam-A berlaga m pertandingan tanpa kenal lelah, dengan dari satu kejuaraan lokal ke festival lainnya dengan menumpang di bagian belakang mobil pick up demi membesarkan namanya.

Itu berarti bahwa merayakan tahun baru, Songkran, Loi Krathong, dan perayaan lainnya tidak menjadi bagian hidupnya karena itu adalah masa-masa dimana ia sibuk bertanding di tanah kelahirannya.

“Terkadang saya merasa sedikit iri pada teman-teman ketika saya berusia remaja,” tuturnya.

“Mereka pergi ke konser sementara saya harus segera tidur. Namun saya selalu bisa berpikir positif. Segala pengorbanan itu sebanding dengan hasilnya, dan saya selalu bisa pergi setelah bertarung. Saya bukan tipe orang yang suka bermain keluar juga, jadi bukan masalah bagi saya. Saya hanya menyukai waktu untuk menyendiri.”

Meskipun itu sudah menjadi fokus utamanya, ia mengaku sempat mengalami masa yang berat saat harus meninggalkan tempat kelahirannya di Sakon Nakhon untuk pindah ke Bangkok dalam upayanya mengejar kejayaan di level tertinggi. Kali ini, ia tak hanya kehilangan waktu untuk bermain, tapi juga harus berada jauh dari keluarga.

Namun bahkan dalam momen berat ini, ia tak pernah kehilangan fokus utamanya sebagai seorang seniman bela diri.

“Berpindah ke Bangkok adalah momen terberat bagi saya. Saya jauh dari keluarga, dan itu benar-benar lingkungan yang baru,” ujarnya.

“Saya merindukan alam dan saya tidak suka hiruk pikuk kota Bangkok. Saya memerlukan satu bulan untuk beradaptasi. Itu merupakan masa sulit bagi saya. Saya selalu memikirkan istri dan anak-anak saya. Namun ini adalah kesempatan besar, tak ada yang bisa saya lakukan di rumah jadi saya harus mengambil langkah ini. Saya harus memberikan yang terbaik.

“Saya harus selalu mengingatkan diri sendiri bahwa saya berada di sana untuk bekerja, bahwa setelah bertarung, saya bisa pulang ke rumah selama sepekan. Hal itu yang tetap membuat saya termotivasi, dan merupakan hal yang bisa saya andalkan.”

Hasil yang ia raih berupa berbagai koleksi gelar Juara Dunia yang hanya bisa diraih oleh sedikit seniman bela diri dan juga reputasi sebagai salah satu atlet terbaik. Lalu, saat kariernya mulai mengalami penurunan, ia mendapat kesempatan lain demi memastikan masa depan orang yang ia cintai dengan menjadi pelatih di Evolve.

Kali ini, ia meninggalkan Thailand untuk melatih di Singapura, namun meskipun terkendala jarak, Sam-A mengaku segalanya terasa lebih baik saat ini.

“Saat ini segalanya terasa lebih mudah bagi saya berada di Evolve dibandingkan sebelumnya saat saya berada di Petchyindee (Academy) karena saya bisa melakukan panggilan lewat video dengan mereka dan juga bisa saling mengirimkan foto. Istri dan anak-anak saya juga kerap datang mengunjungi saya,” ungkapnya.

Meskipun ia kerap merindukan anak-anak perempuannya setiap hari, pengorbanan yang terus ia lakukan adalah demi memberikan keluarganya sebuah kehidupan yang lebih besar dari yang ada dalam mimpinya. Hal itu juga memberinya kesempatan untuk menciptakan sebuah warisan olahraga dengan memenangi dua gelar Juara Dunia ONE Super Series – termasuk dalam kickboxing. Selain itu, gelar Juara Dunia ketiga bisa ia raih dalam ajang ONE: KING OF THE JUNGLE.

“Saya melihat hasil dari pengorbanan dan hal itulah yang terus membuat saya berjuang,” tambahnya.

“Saya bekerja keras, namun saya tak perlu merasa khawatir tentang [keluarga saya]. Saya termotivasi untuk bekerja, karena tahu mereka memiliki kehidupan yang baik. Hal itu memberi saya kebahagiaan.”

Baca Juga: Rocky Ogden Ingin Menjadi Bintang Dengan Mengalahkan Legenda