Fitur

Pertaruhan Besar Para Bintang Di ONE: INSIDE THE MATRIX

ONE Championship bersiap untuk gelaran utama terbesar tahun ini, dan jelas bahwa pertaruhan dalam tiap laga ini tak dapat tertandingi.

Hari Jumat, 30 Oktober ini, organisasi bela diri terbesar di dunia ini menghadirkan ONE: INSIDE THE MATRIX di Singapore Indoor Stadium, dan tiap atlet dapat meraih pencapaian terbesar di “Kota Singa.”

Dari perjuangan meraih penebusan sampai memenangkan gelar Juara Dunia ONE dan mencetak sejarah besar, jelas bahwa sebuah kemenangan dapat mengubah kehidupan seseorang dalam sekejap.

Dengan itu, berikut adalah beberapa pertaruhan terbesar bagi tiap seniman bela diri campuran yang akan tampil Jumat malam nanti.

Aung La N Sang & Reinier De Ridder

Ajang terbesar dari organisasi ini datang dengan laga utama, yang disebut juga sebagai main event, yang luar biasa dengan sang Juara Dunia dua divisi ONE Aung La “The Burmese Python” N Sang berusaha mempertahankan sabuk divisi middleweight miliknya melawan penantang tak terkalahkan Reinier “The Dutch Knight” De Ridder.

Aung La N Sang nampak tak terhentikan sejak ia merebut gelar Juara Dunia ONE Middleweight dari tangan Vitaly Bigdash pada bulan Juni 2017. Ikon olahraga Myanmar ini memiliki tujuh kemenangan beruntun, merebut gelar Juara Dunia ONE Light Heavyweight dalam periode tersebut, serta baru-baru ini mencetak KO atas penguasa divisi heavyweight Brandon “The Truth” Vera.

“The Burmese Python” ini memegang beberapa rekor dalam divisi middleweight organisasi ini, namun jika ia sanggup mempertahankan sabuknya pada hari Jumat, ia juga akan menjadi pria yang memiliki kemenangan terbanyak kedua dalam laga perebutan gelar Juara Dunia dan pria yang paling banyak mempertahankan gelar Juara Dunia dalam sejarah ONE.

Terlebih lagi, jika ia mencetak KO atas De Ridder, Aung La N Sang akan berada pada peringkat ketiga untuk penyelesaian dan KO terbanyak dalam sejarah organisasi ini.

Namun, itu terlihat lebih mudah dari kenyataannya saat ia menghadapi lawan asal Belanda itu.

Sejak menjalani debut profesionalnya pada bulan Juni 2013, De Ridder memang tak terhentikan. Ia memiliki rekor sempurna 12-0 dan telah menghentikan perlawanan dari para penantangnya kecuali saat ia menghadapi Juara Dunia Brazilian Jiu-Jitsu lima kali Leandro “Wolf” Ataides, yang ia kalahkan melalui sebuah keputusan mutlak pada bulan Februari.

Bagi De Ridder, ini adalah kesempatan untuk menjadi Juara Dunia tak terkalahkan – sesuatu yang tak pernah terjadi bela diri campuran. Namun untuk mencapai pencapaian langka ini, ia harus menaklukkan seorang ikon Jumat ini.

Christian Lee & Iuri Lapicus

Laga pendukung utama (co-main event) malam ini akan menampilkan sepasang bintang lightweight yang masih muda, berbakat, serta hampir selalu meninggalkan Circle dengan submission atau KO.

Sejak beranjak naik dari divisi featherweight tahun lalu, Christian “The Warrior” Lee nampak jauh lebih nyaman dalam lingkungan barunya ini. Sebagai contoh, ia mengalahkan dua atlet terbaik divisi ini, yaitu Shinya “Tobikan Judan” Aoki dan Saygid “Dagi” Guseyn Arslanaliev untuk merebut gelar Juara Dunia ONE Lightweight dan Kejuaraan ONE Lightweight World Grand Prix.

Kini, Lee untuk pertama kalinya akan mempertahankan gelar Juara Dunia ONE Lightweight melawan penantang teratas divisi ini, Iuri Lapicus, dimana inilah pertaruhan terbesar bagi dirinya.

Sebuah kemenangan akan membawanya mempertahankan sabuk itu dan menjadikannya pemegang rekor kemenangan terbanyak dalam sejarah ONE Championship (sebuah rekor yang dipegangnya bersama Amir Khan dengan 13 kemenangan). Terlebih lagi, sebuah penyelesaian akan memperpanjang rekor penyelesaian terbanyaknya menjadi 13.

Lebih spesifik lagi, sebuah kemenangan KO akan membuat Lee kembali mengimbangi Khan untuk pencapaian KO terbanyak dalam organisasi ini, di angka sembilan.

Sementara Lee dapat mencetak sejarah baru dan merayakan kejayaannya sebagai Juara Dunia lebih lama lagi, Lapicus ingin mencetak pencapaian yang tak jauh berbeda dengan sesama penantang teratas, Reinier De Ridder. Buldoser Moldova ini memiliki rekor profesional sempurna 14-0 dan tingkat penyelesaian 100 persen. Terlebih lagi, ia menghentikan semua lawannya, kecuali satu, pada ronde pertama.

Di ajang ONE: INSIDE THE MATRIX, Lapicus dapat merebut gelar Juara Dunia, tetap tak terkalahkan, serta tetap menjaga tingkat penyelesaiannya. Dan sekali lagi, itu adalah sesuatu yang sangat jarang dicapai oleh atlet bela diri campuran.

Martin Nguyen & Thanh Le

Sebuah pertempuran antara dua pencetak KO kelas dunia akan berlangsung di ajang ONE: INSIDE THE MATRIX, saat Juara Dunia ONE Featherweight Martin “The Situ-Asian” Nguyen mempertahankan gelarnya melawan penantang peringkat ketiga dalam divisi ini, Thanh Le.

Nguyen, yang memiliki rekor 13-3, telah mengalahkan beberapa nama terbesar dalam olahraga ini, termasuk Marat “Cobra” Gafurov, Eduard “Landslide” Folayang, Narantungalag “Tungaa” Jadambaa dan pria yang kini menjadi Juara Dunia ONE Lightweight, Christian Lee, dua kali.

Kini, ia akan berusaha mempertahankan gelar Juara Dunia untuk keempat kalinya pada hari Jumat, “The Situ-Asian” dapat memecahkan beberapa rekor dalam divisinya dan membawa dirinya sebagai atlet featherweight paling dominan di dalam Circle ONE.

Sebuah kemenangan akan memberinya rekor kemenangan terbanyak dalam divisi featherweight organisasi ini (10). Terlebih lagi, sebuah penyelesaian akan membuatnya seimbang dengan Lee untuk rekor penyelesaian terbanyak dalam sebuah divisi (sembilan) dan sebuah KO akan menyamakan kedudukan dengan Phoe Thaw untuk KO terbanyak dalam divisi featherweight (tujuh).

Namun, Le ingin menghancurkan semua rencana tersebut dan mencapai impian pribadinya.

Atlet Vietnam-Amerika itu, yang memiliki tingkat penyelesaian 100 persen, mencetak KO atas Yusup “Maestro” Saadulaev, mantan Juara Dunia ONE Lightweight Kotetsu “No Face” Boku, dan Juara Shooto Pacific Rim Featherweight Ryogo “Kaitai” Takahashi untuk meraih kesempatan perebutan gelar ini.

Walau Le mungkin tak akan memecahkan rekor apa pun Jumat ini, ia akan ingin menjaga tingkat penyelesaian sempurna yang ia miliki dan merebut gelar Juara Dunia ONE Featherweight.



Xiong Jing Nan & Tiffany Teo

Dua atlet yang paling disegani dalam divisi strawweight wanita akan kembali bertemu pada hari Jumat, saat Juara Dunia ONE Women’s Strawweight “The Panda” Xiong Jing Nan mempertahankan sabuk emasnya melawan penantang teratas Tiffany “No Chill” Teo.

Keduanya bertemu untuk pertama kali pada bulan Januari 2018 untuk meraih gelar perdananya, Teo memulai dengan kuat melalui teknik grappling-nya. Namun pada akhirnya, Xiong mengambil alih dengan striking luar biasa dan menghentikan rivalnya ini pada ronde keempat untuk merebut sabuk emas.

Sejak saat itu, bintang Tiongkok ini dengan sukses mempertahankan gelarnya sebanyak tiga kali. Sepanjang jalan, ia menjadi wanita pertama yang mengalahkan – dan mencetak penyelesaian atas – Juara Dunia ONE Women’s Atomweight “Unstoppable” Angela Lee.

Xiong ingin membuktikan bahwa ia adalah penguasa divisi strawweight yang terbaik. Dan dengan mengalahkan “No Chill” dalam laga mereka, ia jelas tak akan menyisakan keraguan apa pun.

Namun, Teo juga memiliki dorongan kuat. Atlet Singapura ini telah mendaki jalurnya untuk mendapatkan laga ulang ini dengan mengalahkan penantang peringkat kedua Michelle Nicolini dan penantang peringkat keempat Ayaka “Zombie” Miura.

Jumat malam ini, Teo meraih kesempatan membalas satu-satunya kekalahan dalam kariernya, merebut sabuk emas dan mendapatkan penebusan yang dinantikannya selama dua setengah tahun terakhir ini.

Antonio Caruso & Eduard Folayang

Walau ini bukanlah sebuah laga perebutan gelar Juara Dunia, para penggemar akan mendapatkan sajian luar biasa dalam laga divisi lightweight antara ikon Filipina Eduard “Landslide” Folayang dan atlet sensasional Australia Antonio “The Spartan” Caruso.

Mereka ingin mendobrak jajaran teratas dalam divisinya dan meraih kesempatan untuk sebuah laga perebutan gelar Juara Dunia ONE Lightweight, namun mantan penguasa divisi ini memiliki kepentingan yang jauh lebih besar. Folayang mengalami kekalahan dalam tiga dari empat laga terakhirnya dan mengetahui bahwa ini dapat menjadi kesempatan terakhirnya untuk memulai perjalanan menuju puncak.

Untungnya, ia akan berlaga di Singapura, dimana ia telah mencetak rekor 6-1 dan meraih kemenangan dalam perebutan gelar Juara Dunia ONE Lightweight yang monumental atas Aoki pada bulan November 2016. Jika ada tempat dimana Folayang dapat mengoreksi jalurnya, itu adalah “Kota Singa.”

Namun, kekuatan terbesar Caruso adalah teknik grappling-nya, dan itu dapat memberi kesulitan bagi spesialis wushu ini. Faktanya, “The Spartan” ingin mengambil langkah berikutnya dalam kariernya dan menggunakan “Landslide” sebagai batu loncatan dalam pencariannya demi gelar Kejuaraan Dunia ONE Lightweight.

Pada akhirnya, hanya ada satu dari kedua pria ini yang dapat melangkah maju Jumat malam nanti.

Ritu Phogat & Nou Srey Pov

Para penggemar jelas akan merasa terhibur saat melihat dua seniman bela diri wanita yang disegani dalam disiplin mereka masing-masing beraksi pada laga pembuka malam itu.

Ritu “The Indian Tigress” Phogat adalah pegulat ikonik yang mampu mengaplikasikan kemampuan grappling-nya ke dalam seni bela diri campuran sejauh ini. Jumat ini, ia akan berusaha mempertahankan rekor tak terkalahkannya dan meraih tiga kemenangan beruntun.

Di sisi lain, terdapat Juara Dunia Kun Khmer Nou Srey Pov, yang dapat menghentikan laju atlet atomweight mana pun dengan teknik striking dan kini memiliki pertahanan takedown untuk menjaga aksi tetap berada di posisi stand-up.

Sebuah kemenangan akan menjadi sangat besar bagi salah satu wanita ini, karena mereka ingin menjadi Juara Dunia Bela Diri Campuran pertama di negara mereka masing-masing. Terlebih lagi, sebuah kemenangan impresif yang menjadi sorotan akan dapat membawa sang pemenang untuk masuk ke turnamen ONE Atomweight World Grand Prix pada tahun 2021 nanti.

Baca juga: 5 Alasan Untuk Tidak Melewatkan ONE: INSIDE THE MATRIX