Fitur

Pahlawan Bela Diri Filipina Bereaksi Atas Erupsi Gunung Taal

Mantan penantang gelar Juara Dunia ONE Strawweight Rene “The Challenger” Catalan mengira hari Minggu itu hanyalah seperti hari lainnya di sasana Catalan Fighting System di Makati, Filipina tanggal 12 Januari.

Ia dan beberapa atlet lainnya sedang mempersiapkan Jomary “The Zamboanginian Fighter” Torres untuk laga berikutnya melawan Jenny “Lady GoGo” Huang di ajang ONE: FIRE & FURY, dan tidak ada yang nampak aneh atau diluar kebiasaan.

Lalu, saat ia tidak mengharapkannya, tragedi itu melanda.

Hari cerah di dalam kota pusat bisnis tersebut berubah menjadi gelap saat abu, batu kerikil dan asap memenuhi langit.

Sekitar 100 kilometer di selatan provinsi Batangas, gunung berapi Taal – sebuah gunung berapi yang non-aktif selama 43 tahun – mulai meletus. Efeknya langsung terasa di setengah pulau Luzon, yaitu pulau terpadat di Filipina. 

“Kami sedang berlatih di sasana saat kami mendengar itu,” jelas Rene. “Itu sangat berat, bahkan di sini, di sasana kami, karena kami harus membersihkan sisa abunya. Kami juga memiliki banyak murid yang terkena dampaknya.” 

Erupsi tersebut menyebabkan lebih dari 100.000 penduduk di area tersebut – kebanyakan dari daerah berbahaya – mengungsi. Kejadian ini juga berdampak pada ratusan ribu lainnya di provinsi tetangga seperti Cavite, Laguna dan beberapa bagian Metro Manila. 

Di pegunungan Baguio, hampir 350 kilometer jauhnya dari lokasi erupsi, pelatih kepala Team Lakay Mark Sangiao dan mantan Juara Dunia ONE Flyweight Geje “Gravity” Eustaquio bereaksi saat mendengar berita itu.

“Saya berada di jalan di Baguio saat saya mendengarnya,” kata mantan penguasa divisi flyweight itu, terkejut. 

Keduanya tidak terpengaruh secara langsung atas erupsi ini, karena keduanya berada di bagian utara “City Of Pines.” Namun, para penduduk di bagian utara itu memang terbiasa menghadapi erupsi gunung berapi.



Tanggal 15 Juni 1991, sebuah erupsi yang lebih dahsyat terjadi hanya 100 kilometer di selatan Baguio, saat gunung Pinatubo mengamuk dan menguasai bagian utara Filipina. Efeknya tidak hanya terasa di negara tersebut, namun juga di negara-negara tetangga di kawasan Asia Tenggara. 

Geje masih bayi saat itu terjadi, namun Mark sudah cukup umur untuk mengalami amukan gunung berapi tersebut, dan sangat mengerti kesulitan yang dihadapi saat ini.

“Saya berusia 11 tahun saat itu, dan saya berada di sekolah. Itu sangat menakutkan. Anda benar-benar dapat merasakan efeknya di sini,” kata pelatih kepala Team Lakay itu.

Mark menyaksikan bagian utara Luzon bangkit dari keterpurukan, dan ia pun yakin bahwa seluruh provinsi yang terdampak akan dapat mengatasi episode baru ini.

“Bagi seluruh rekan senegara saya di Taal, jagalah diri kalian. Saya mengetahui kalian dapat melewati ini. Saya akan terus berdoa bagi mereka dan berharap bahwa mereka dapat bangkit dan mendapatkan kembali apa yang telah hilang,” lanjutnya.

“Tantangan hidup selalu ada, dan itu seperti seni bela diri – terkadang anda kalah, namun anda harus tetap berdiri dan bangkit kembali. Kami selalu ada di sini untuk kalian.”

Erupsi ini masih berlanjut, dan situasi masih berada di tingkat berbahaya. Ketika aktivitas vulkanik itu mereda, para ahli juga memperingatkan ancaman letusan yang lebih besar lagi.

Geje mungkin berada cukup jauh, beberapa ratus kilometer di luar daerah berbahaya, namun ia berjanji bahwa bantuan akan segera datang. Sementara itu, “Gravity” memiliki pesan bagi saudara sebangsanya. 

“Ini bukan pertama kalinya [kita telah] mengalami situasi ini. Kita berkali-kali diuji, dan kita selalu berakhir di puncak. Warga Filipina memiliki semangat juang di dalam diri mereka, dan itu sangat sulit ditaklukkan,” katanya.

“Jangan khawatir, kami akan menghadapi ujian ini sebagai satu tim, satu negara dan satu keluarga. Bantuan akan datang, dan kami mendukung kalian dengan berbagai cara. Kami berdoa bagi kalian, saudara-saudara kami. Jangan pernah menyerah.”

Baca Juga: Joshua Pacio Vs. Alex Silva, Serta Kembalinya Eduard Folayang Di Manila