Berita

Sorgraw Siap Hadapi Semua Yang Tak Tertebak Saat Bertemu Pongsiri

Sorgraw Petchyindee Academy sangat senang untuk kembali berlatih di sasana, dimana ia semakin senang mendapatkan tantangan baru yang menunggunya pada hari Jumat, 14 Agustus nanti.

Malam itu, atlet Thailand berusia 27 tahun ini akan berlaga menghadapi Juara Dunia Muay Thai empat kali Pongsiri PK.Saenchai Muaythaigym pada ajang ONE: NO SURRENDER II di Bangkok, Thailand – dan sang pemenang akan dapat naik dalam jajaran teratas Peringkat Resmi Atlet divisi featherweight Muay Thai.

Muay Thai fighter Sorgraw Petchyindee Academy trains his kicks

Saat Thailand menetapkan beberapa restriksi terkait COVID-19 awal tahun ini, Sorgraw kembali pulang ke provinsi Buriram dan menghabiskan masa karantina bersama teman-teman dan keluarganya.

Namun saat mantan Juara Dunia Lumpinee Stadium Muay Thai ini ditawari kesempatan berkompetisi di atas panggung dunia sekali lagi, ia langsung menyambut kesempatan dan kembali ke Petchyindee Academy di Bangkok untuk memulai persiapannya.

“Saya merasa sangat senang dapat kembali berlaga setelah istirahat yang sangat lama karena pandemi COVID-19,” kata atlet berusia 27 tahun ini. “Saya meninggalkan rumah di Buriram dan kembali ke sasana untuk berlatih.”



Walau kedua atlet ini belum sempat berlaga di dalam ring, Sorgraw telah melihat lawannya itu bertanding berkali-kali di dalam sirkuit stadion Bangkok.

“Saya belum pernah menghadapi Pongsiri sebelumnya, namun saya menyaksikannya berlaga berkali-kali. Ia adalah petarung yang keras kepala,” kata Sorgraw sambil tertawa. “Ia suka melakukan hal-hal gila dan menyerang maju. Ia biasanya memotivasi lawannya untuk melawan balik dan terjatuh dalam permainannya.”

Sebuah tantangan tambahan lainnya bagi Sorgraw adalah berbagai hal tak tertebak yang dibawa lawannya itu. Banyak atlet menunjukkan langkah mereka berikutnya dengan pergerakan tubuh, tetapi Pongsiri mampu menyamarkan dirinya sendiri dengan baik, yang hanya membuatnya semakin berbahaya.

“Ia tidak memiliki penanda terkait apa senjata yang akan digunakannya,” kata warga Buriram ini. “Terkadang sangat sulit untuk memprediksi game plan-nya.”

Tetapi, perwakilan Petchyindee Academy ini akan sanggup mengatasi tantangan itu.

Ia berencana untuk bermain sabar dan membiarkan kesempatan itu muncul. Lalu, ia akan menyarangkan serangan terbaiknya, termasuk tinju dan tendangan roundhouse keras yang ditampilkannya saat meraih kemenangan atas Samy Sana dan dalam laga melawan George Mann.

“Yang harus saya lakukan hanyalah menunggu dan melawan dengan siku, lutut, atau tendangan kiri, yang adalah senjata terkuat saya,” kata Sorgraw. “Saya juga harus menipunya dengan teknik saya dan membuatnya kebingungan.”

Muay Thai fighter Sorgraw Petchyindee Academy with the victory

Satu faktor yang menjadi keunggulan Sorgraw adalah tinggi badannya.

Pria ini lebih tinggi 11 sentimeter dari lawannya, dimana ia sempat menyaksikan bagaimana rekan satu timnya yang hampir sama tingginya, Petchmorakot, menggunakan jangkauan tersebut untuk mengalahkan Pongsiri melalui keputusan mutlak dan merebut gelar Kejuaraan Dunia ONE Featherweight Muay Thai pada bulan Februari.

Namun, bahkan dengan keunggulan tersebut, warga Buriram ini menolak untuk menjadi terlalu yakin. Ia mengetahui bahwa untuk meraih kemenangan dalam gelaran ONE: NO SURRENDER II, ia harus membiarkan serangan datang ke arahnya dan mengincar serangan terbaik di waktu yang sempurna.

“Saya tak dapat meremehkannya, walau ia lebih pendek dari saya, karena ia memiliki kekuatan sangat besar,” kata Sorgraw tentang Pongsiri. “Saya akan mencoba mengendalikan laga dengan cara saya.”

Baca juga: Pongsiri Siap Menjalani Tugas Berat Saat Hadapi Sorgraw