Berita

Setelah Cetak Submission, Ayaka Miura Incar Sabuk Emas Xiong

Ayaka “Zombie” Miura memastikan statusnya sebagai salah satu spesialis terbaik dalam disiplinnya saat ia mengalahkan Rayane Bastos dengan scarf-hold Americana andalannya di ONE: DANGAL bulan lalu.

Kemenangan dari posisi tertinggal ini juga mengukuhkan seniman bela diri campuran asal Jepang ini sebagai salah satu penantang teratas dalam divisi strawweight wanita.

Walau penyelesaian itu sangat familiar — yang adalah keempat bagi Miura melalui scarf-hold Americana bersama ONE — jelas bahwa dirinya telah mengembangkan permainannya secara menyeluruh.

Dalam wawancara eksklusif ini, “Zombie” berbagi tentang penampilannya di Singapura, langkah-langkah yang diambilnya untuk sampai di sana, serta keinginannya merebut sabuk emas Kejuaraan Dunia.

ONE Championship: Anda mencetak submission atas Rayane Bastos di ONE: DANGAL pada bulan Mei. Itu adalah laga pertama anda setelah mengalami kekalahan TKO dari Tiffany “No Chill” Teo di ONE: KING OF THE JUNGLE. Apa yang anda lakukan di antara seluruh laga itu? 

Ayaka Miura: Untuk memperbaiki penyebab kekalahan itu, saya terus berlatih untuk mengembangkan fisik dan aspek lain [dari permainan saya].

Saya bertanding dengan cara yang sama seperti [saat melawan] Teo, walau saya memiliki jangkauan lebih pendek. Maka, saya mencoba mengembangkan teknik saya untuk menutup jarak dan takedown saya.

Melihat ke belakang, saya kira itu adalah kesempatan sempurna untuk mengevaluasi ulang permainan saya dari nol. Kekalahan memotivasi saya untuk berkembang, dan walau itu adalah waktu yang sulit, saya kira saya berkembang dalam berbagai hal.

ONE: Melawan Bastos, anda menang via submission pada ronde pertama. Apakah anda melihat hasil dari latihan anda?

AM: Pelatih saya mengatakan bahwa itu sulit dikatakan dalam laga secepat itu, tetapi saya mengembangkan detail dari gerakan-gerakan saya.

Ia mengatakan bahwa saya berkembang saat menutup jarak, memadukan pergerakan, menyerang, memposisikan kepala saya, serta bergerak di luar tempo pergerakan lawan saya tanpa menerjang masuk.

Bagi diri saya sendiri, saya telah berlatih lebih banyak hal dan menambahkan lebih banyak teknik selain [scarf-hold Americana] itu, namun saya akhirnya menang dengan yang satu itu juga.

ONE: Apa yang anda rasakan saat memasuki laga itu?

AM: Saya adalah tipe orang yang tak menjadi gugup di setiap waktu, namun saya gugup menghadapi laga ini karena saya harus bekerja keras setelah kalah dalam laga sebelumnya.

Selain itu, lawan saya itu besar. Saya gugup karena walau saya makan banyak, berat saya terlalu ringan, maka saya berpikir seberapa besar lawan saya itu.

Saat saya tiba di lokasi pada hari pertandingan dengan bobot 56 kilogram, saya mengatakan pada pelatih saya bahwa mungkin ada perbedaan empat kilogram dengan lawan saya. [Pelatih] Chonan-san berkata, “Ia besar, tetapi tidak berotot besar, kamu akan baik-baik saja.” Namun, saya tetap saja takut.

ONE: Setelah laga berakhir, anda berteriak, “Jangan anggap saya remeh!” Dapatkan anda mengelaborasi?

AM: Saya bersemangat saat pengumuman untuk memasuki Circle berkumandang di arena. Saat mereka memanggil lawan saya, ia masuk dan tampil seperti berkata, “Ini akan mudah.” Saat saya melihat itu, saya berpikir, “Saya akan mengalahkannya!”

Selain itu, saya melihat lawan saya mengunggah foto dirinya dan kekasihnya di Instagram. Saat saya melihat itu, saya berpikir, “Saya hanya terfokus pada kompetisi selama satu tahun terakhir.”

Saya berusia di atas 30 tahun, saya kalah tahun lalu, dan saya telah berlatih. Saya memberi segalanya dalam laga itu.

ONE: Apa yang anda rasakan setelah laga?

AM: Saya sangat lega sampai berkaca-kaca, tetapi Chonan-san mengatakan pada saya untuk tidak menangis, karena kemenangan itu alamiah, maka saya menahan tangis saya.



ONE: Pelatih Chonan sangat terkenal dengan gayanya yang tegas.

AM: Ia memang tegas, namun ketegasan itu datang dari kebaikan hatinya.

Ia sangat tegas saat berlatih bela diri, namun selain itu, ia berbuat banyak untuk memastikan saya menang. Itu tak seperti ia mengusik saya. Sebaliknya, saya menghargai ketegasannya itu.

Saat saya pergi bertanding, ia selalu mengantar saya ke arena dan untuk pulang, serta mendukung saya dalam segala cara. Untuk laga terakhir ini, ia mengantar saya ke bandara dan menjemput saya pulang.

Ia selalu memikirkan para petarung. Ia mengamati kami, dan tiap atlet memiliki sesi padding yang berbeda. Ada pad untuk tiap gaya petarung dan lawannya, dimana ia mengubah itu semua sesuai dengan laga yang akan datang.

ONE: Anda berbicara tentang turun dari strawweight ke atomweight?

AM: Saya dapat berpindah dari antara dua itu dengan bobot saya – strawweight atau atomweight – dan karena Turnamen ONE Women’s Atomweight World Grand Prix telah direncanakan, Saya kira saya dapat masuk ke atomweight jika saya diundang. Dan saya berlatih untuk dapat berlaga dalam kedua divisi ini.

Tetapi, itu tak terjadi, dan saya kira saya dapat mempertahankan berat tubuh saya sebagai strawweight. Maka, saya kira prioritas teratas saya adalah memenangkan sabuk emas di strawweight.

ONE: Apakah ada seseorang yang ingin anda lawan?

AM: Saya akan menyebut Xiong Jing Nan. Seluruh lawan yang telah saya hadapi pernah berlaga dalam Kejuaraan Dunia, dan saya adalah satu-satunya yang belum, maka saya ingin melakukan itu.

Saya kira Xiong adalah lawan yang sangat kuat, namun saya tak mengetahuinya sampai saya melakukan grapple dengannya. Semua orang pernah terkena serangannya dalam jarak dekat. Tinjunya cepat, maka semua orang pasti terpukul. Itu berarti saya harus menemukan cara untuk melalui itu.

Saya akan ingin melihat bagaimana ia dapat menggunakan teknik newaza (teknik ground) miliknya dalam laga berikutnya melawan [Juara Dunia BJJ Michelle] Nicolini. Saya kira saya akan menjalani laga yang bagus dengan Jing Nan.

Scenes from the MMA catchweight fight between Ayaka Miura and Rayane Bastos at ONE: DANGAL on 15 May

ONE: Apa yang anda nantikan dalam laga melawan Xiong dan Nicolini?

AM: Saya kira itu tergantung bagaimana Jing Nan menjaga jarak dari lawannya dan caranya menyerang. Namun saya kira itu akan menjadi laga antara striking melawan grappling, karena Nicolini adalah spesialis newaza.

ONE: Apakah anda memiliki pesan bagi para penggemar anda?

AM: Terima kasih untuk dukungan kalian. Saya tak tahu kapan saya dapat berlaga kembali, namun saya berlatih sekeras mungkin, karena itu, tolong dukung saya.

Baca juga: 5 Hal Terbesar Dari Ajang ONE: FULL BLAST

Muat Lebih Banyak

Ikuti perkembangannya

Bawa ONE Championship kemana pun anda pergi! Daftarkan diri untuk mendapatkan akses ke berita terbaru, berbagai tawaran spesial dan kursi terbaik dalam gelaran langsung kami.
Dengan mengirimkan formulir ini, anda menyetujui pengumpulan, penggunaan dan pembukaan informasi anda berdasarkan Privacy Policy kami. Anda dapat membatalkan (unsubscribe) dari jenis komunikasi ini kapan saja.