Bela Diri Campuran

Egi Rozten Siap Jalani Laga Klasik Striker Melawan Grappler Di Jakarta

Egi Rozten akan kembali berlaga di Jakarta dalam sebuah laga yang layak mendapat perhatian khusus.

Pada Jumat, 7 Februari, atlet kelahiran Karawang di Jawa Barat ini akan menghadapi Fajar “Macho” di Istora Senayan Jakarta, dalam ajang bertajuk ONE: WARRIOR’S CODE.

Sebuah duel seru akan tercipta, dimana seorang juara tinju profesional berhadapan dengan peraih medali emas SEA Games dalam cabang olahraga sambo.

Laga ini merupakan sebuah duel klasik antara grappler melawan striker, sehingga dapat dipastikan bahwa aksi seru akan tersaji baik saat duel stand-up maupun ground.

Egi tengah mempertajam peluru strikingnya di sasana tinju KPJ Bulungan serta memperdalam keterampilan ground di Warrior Training Camp, sebuah sasana yang dikenal karena telah menghasilkan grappler tangguh di Indonesia.

“Di Warrior saya berlatih tanding dengan para grappler yang juga sedang melakukan persiapan untuk bertanding di kejuaraan grappling lokal,” ungkap Egi.

“Saya diserang dari segala arah, dan pelatih saya menginstruksikan agar saya dapat melepaskan diri dari segala teknik kuncian dan juga posisi ground. Saya hampir setiap hari berlatih ground.”

“Kepala pelatih striking saya, Little Holmes, meminta saya untuk memanfaatkan kelincahan footwork agar mampu menghindari takedown yang akan dilakukan Fajar.”



Sedari dulu, laga yang mempertemukan striker melawan grappler selalu menarik perhatian para penggemar. Bisa jadi, pertandingan klasik seperti ini menjadi daya tarik terbesar dalam ajang seni bela diri campuran.

Laga seperti ini seperti menjadi sebuah magnet karena gaya bertanding yang berbeda. Seorang striker mengandalkan ketangkasan dalam melayangkan pukulan dan tendangan. Sementara grappler berasal dari spektrum yang lain, dan mengandalkan kemampuan bergulat mereka untuk menjatuhkan serta mengunci lawan.

Menelitik sejarah, semua ini dimulai di stadion Nippon Budokan, Tokyo, Jepang pada 26 Juni 1976 silam. Salah satu petinju terbaik dalam sejarah, Muhammad Ali, kala itu menghadapi seorang juara catch wrestling asal Jepang, Antonio Inoki.

Kontes seperti ini pun berlanjut. Eduard Folayang melawan Shinya Aoki dan Martin Nguyen menghadapi Marat Gafurov adalah beberapa contoh laga spektakuler yang terjadi di bawah bendera ONE Championship.

Egi berharap bisa mempertajam rekornya untuk bisa membuka jalan menuju deretan atlet top divisi flyweight. Pria berusia 31 tahun ini memiliki senjata berbahaya di kedua tangannya.

Satu hal yang Egi butuhkan adalah momen untuk melayangkan tinjuan, seperti yang ia dapatkan saat mengalahkan Eddey “The Clown” Kalai di Jakarta.

Egi Rozten sends the home crowd into a frenzy with a stunning knockout of Eddey Kalai at 3:15 of Round 1!

Egi Rozten sends the home crowd into a frenzy with a stunning knockout of Eddey Kalai at 3:15 of Round 1!Watch the full event LIVE & FREE on the ONE Super App ????http://bit.ly/ONESuperApp | TV: Check local listings for global broadcast

Posted by ONE Championship on Saturday, November 17, 2018

Egi mengerti bahwa tinjuan merupakan senjata utamanya. Faktanya, dua kemenangan terakhirnya di “The Home Of Martial Arts” diraih lewat pukulan kerasnya. Namun, jelang laga ke-enamnya di organisasi seni bela diri terbesar di dunia ini, Egi sedikit memodifikasi program latihannya.

“Saya sudah menyiapkan segalanya. Saya sekarang berlatih dengan pemegang sabuk hitam Brazilian Jiu-Jitsu Max Metino hampir setiap hari. Saya juga menajamkan teknik striking di sasana tinju KPJ Bulungan,” ungkap mantan juara tinju nasional featherweight Indonesia ini.

“Saya rasa ini sudah waktunya. Saya sudah mempersiapkan segalanya dengan matang, khususnya dengan melatih teknik ground semaksimal mungkin.”

Baca juga: Titik Awal Eko Priandono Di The Home Of Martial Arts