Bela Diri Campuran

Titik Awal Eko Priandono Di The Home Of Martial Arts

Eko “Electrical Knock Out” Priandono menyimpan segudang potensi untuk menjadi salah satu wakil andalan Indonesia di panggung dunia ONE Championship.

Berlatar belakang bela diri tinju, atlet berusia 26 tahun asal Sidoarjo, Jawa timur ini berhasil menjelma menjadi juara nasional bantamweight OPMMA. Rekor profesional bela diri campurannya juga cukup gemilang, 7-1-0.

Perjalanan Eko di pentas global akan dimulai pada Jumat, 7 Februari, di Jakarta dalam ajang bertajuk ONE: WARRIOR’S CODE. Ia akan menghadapi atlet berpengalaman lainnya, Abro “The Black Komodo” Fernandes, dalam laga divisi flyweight.

Laga menghadapi atlet asal Han Academy tersebut akan menjadi sebuah ujian berat bagi Eko, namun bisa menjadi batu loncatan jika mampu mengatasi tantangan tersebut. Selain itu, keduanya merupakan juara nasional yang sama-sama pernah menggenggam sabuk bantamweight OPMMA.

Jelang laga debutnya di Istora Senayan Jakarta, simak perjalanan pria yang dikenal memiliki pukulan tinju yang cepat dan presisi tersebut.

Pertemuan Awal Dengan “The Sweet Science”

Terlahir dari sebuah keluarga sederhana di desa Lemahputro kota Sidoarjo, Jawa Timur, Eko berkenalan dengan  pencak silat pada usia belia.

Ia belajar ilmu dasar pencak silat dari ayahnya, yang juga merupakan praktisi seni bela diri tradisional Indonesia tersebut.

“Dasar seni bela diri yang saya pelajari pertama kali adalah silat. Setelah belajar silat, saya merasa kurang cocok dan beralih ke olahraga tinju. Dari situlah saya mengasah kemampuan tinju saya hingga mahir,” ungkap atlet asal Saint Martial Arts / Team Electra tersebut.

Eko pun mulai mendalami “The Sweet Science” dan menghabiskan sebagian masa remajanya dengan berkompetisi di kejuaraan tinju tingkat daerah hingga nasional.

“Saya mendalami tinju amatir dan saya bertanding di tingkat provinsi Jawa Timur. Saya juga sempat mengikuti kejuaraan nasional junior tinju,” tuturnya.

Lepas dari usia remaja, Eko terus mengembangkan potensi yang ia miliki dan mulai menjajal seni bela diri lain seperti wushu sanda dan Muay Thai.

Amunisi yang ia miliki pun semakin bertambah, seiring dengan jumlah kompetisi yang ia jalani.

Sempat Terpikir Untuk Berhenti

When you think about quit think about you started.” Sebuah pepatah mahsyur ini mungkin sempat terpikirkan dalam benak anak pertama dari empat bersaudara tersebut saat ia merasa bahwa berkompetisi dalam dunia seni bela diri bukanlah jalur yang tepat baginya.

“Ketika lulus sekolah saya ingin berhenti dari dunia bela diri, tapi ada teman yang mengajak ke Jakarta untuk kerja menjadi pelatih di sasana bela diri. Saat itu, fokus saya memang hanya ingin bekerja sebagai pelatih,” sebutnya.

Sesampainya di Ibukota, Eko belajar menjadi pelatih Muay Thai untuk meningkatkan kardio dan kebugaran di beberapa sasana di Jakarta. Tak ayal, beberapa rekan sesama pelatih di sasana tersebut melihat potensi yang ada pada dirinya. Mereka pun mencoba mendorong Eko untuk kembali berkompetisi di arena bela diri.

“Pertama kali saya bertanding, saya berlaga di ajang Muay Thai amatir dan profesional,” ungkapnya.

Berkat dorongan dari para rekannya, “Electrical Knock Out” memberanikan diri untuk mencoba satu disiplin olahraga yang belum pernah ia pelajari sebelumnya – seni bela diri campuran.

“Akhirnya teman-teman disekitar mengatakan bahwa saya memiliki potensi bagus dan mendorong saya untuk semakin mengembangkan lagi. Dari situ, saya mulai belajar mixed martial arts dan kebetulan, pertama kali saya belajar bareng Stefer “The Lion” Rahardian.”

Menyimpan Mimpi Besar Untuk Menjadi Juara Dunia

Eko mengerti bahwa Abro merupakan lawan yang sangat berbahaya. Atlet berdarah Timor Leste ini memegang rekor 8-2-0 dan baru saja meraih kemenangan lewat aksi impresif atas Rudy “The Golden Boy” Agustian dalam ajang ONE: DAWN OF VALOR Oktober 2019 silam.

Namun hal ini tidak membuat Eko gentar. Keberanian saja tidak cukup, untuk itu Eko beserta tim di sasana Saint Martial Arts / Team Electra menyiapkan strategi yang matang guna memastikan kemenangan di laga debutnya.

Eko menyimpan mimpi besar untuk menjadi seroang Juara Dunia, dan untuk meraih mimpi tersebut, ia harus bisa melewati semua tantangan dengan memberikan penampilan terbaik, termasuk saat laga perdananya di “The Home Of Martial Arts.”

“Tidak ada yang tidak mungkin selama kita bekerja keras. Ini kesempatan saya untuk menunjukkan pada dunia dan saya tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Saya ingin membuktikan bahwa atlet dari Indonesia bukan hanya bisa menjadi kontender top, tapi juga bisa menjadi Juara Dunia,” ungkap Eko.

Eko bertekad untuk memberikan rasa bangga bagi bangsa, serta kehidupan yang lebih baik bagi keluarganya. Sebagai anak tertua di keluarga, ia memiliki tanggung jawab untuk membesarkan ketiga adiknya, terutama karena pendapatan pas-pasan yang ayahnya dapatkan sebagai seorang petugas keamanan di sebuah bank.

“Salah satu mimpi saya adalah ingin memperbaiki kehidupan keluarga. Namun lebih dari itu, saya tidak ingin hanya mencari popularitas dan uang. Saya mengincar  prestasi juga. Semoga orang-orang di sekitar saya juga memiliki harapan yang sama dan bisa terus mendukung saya agar bisa mewujudkan impian.”

Baca juga: Eko Roni Saputra Mengincar Kemenangan Cepat Di Jakarta