Berita

Bagaimana Regian Eersel Menaklukkan Cedera Di Indonesia Demi Kemenangan

2 Nov 2019

Pertanyaan tentang siapa kickboxer terbaik dunia dalam divisi lightweight pun terjawab setelah Regian “The Immortal” Eersel mengalahkan Nieky “The Natural” Holzken untuk kedua kalinya dalam ONE: DAWN OF VALOR.

Jumat lalu, tanggal 25 October, perwakilan Sityodtong Amsterdam ini tampil prima dan mengungguli rekan senegaranya saat ia mendominasi laga lima ronde untuk meraih keputusan mutlak di Jakarta, Indonesia.

Atlet berusia 26 tahun ini menempatkan rivalnya dalam tekanan keras dari bel pertama dan menjatuhkan “The Natural” dalam ronde pembuka. Setelah itu, ia mempertahankan kendali penuh dalam hampir tiap ronde untuk mencetak kemenangan luar biasa dan mempertahankan gelar Juara Dunia ONE Lightweight Kickboxing untuk pertama kalinya.

Setelah perjalanannya kembali ke Belanda, “The Immortal” berbagi tentang kemenangan penting ini di atas panggung dunia, serta bagaimana ia mempertahankan kejayaannya.

ONE Championship: Selamat untuk kemenangan yang mempertahankan gelar Juara Dunia untuk pertama kalinya. Bagaimana perasaan anda?

Regian Eersel: Saya merasa baik-baik saja. Sekali lagi, saya membuktikan pada semua orang bahwa saya adalah atlet yang lebih baik!

ONE: Anda berharap laga ini akan lebih keras, namun anda nampak mengendalikan keseluruhan pertandingan ini. Mengapa begitu?

RE: Saya sudah mengetahui gaya bertandingnya, dan saya tidak ingin mengambil resiko apapun, namun saya tidak mengira ia akan siap melihat saya menekan dirinya dengan segera pada ronde pembuka.

Bel berbunyi, dan saya segera maju untuk memberikan tekanan. Saya rasa ia kebingungan karena itu baru ronde pertama dan saya telah menekan maju. Rencananya memang untuk melakukan itu sesegera mungkin.

ONE: Anda maju dengan kuat dan menjatuhkannya dua kali pada ronde pertama, namun yang pertama dinilai sebagai sebuah slip. Bagaimana menurut anda?

RE: Saya rasa itu terbalik. Yang pertama adalah knockdown, namun wasit melihatnya sebagai sebuah slip, dan saya rasa yang kedua justru adalah sebuah slip.

Pukulan terakhir yang mengenainya [untuk knockdown resmi dari para juri] adalah dengan straight kanan, namun saya mengenainya di pundak, dan ia pun jatuh. Pertama kali, saya menyerangnya dengan lutut, dan saat ia akan terjatuh, saya mengenainya dengan pukulan kanan, kemudian baru ia terjatuh. Namun wasit tidak mengatakan itu sebagai knockdown.



ONE: Apakah ada pukulannya yang menyakiti anda?

RE: Ia mengenai saya dua kali dalam ronde pertama setelah saya memberinya delapan hitungan. Saya terlalu lambat. Saya ingin melemparkan hook kiri, dan saat saya melayangkannya, ia melemparkan hook kanan diatas serangan saya dan itu mengenai bagian atas kepala saya.

Setelah itu, ia menyingkirkan tangan saya dengan tangan kirinya untuk kembali menyerang saya dengan hook kanan, namun saya melihat itu, dan ronde itu pun berakhir. Ia mengenai saya dengan dua pukulan yang sangat baik, namun saya tidak pernah merasa terancam karena saya tahu ronde tersebut berakhir dan saya memiliki waktu untuk memulihkan diri.

Itu adalah satu-satunya momen ia mengenai saya. Saya merasa bahwa saya harus memastikan itu tidak akan terjadi lagi, dan saya melakukan itu. Itu membuat saya menyadari bahwa saya masih harus berhati-hati – bahkan jika serangan saya mengenainya.

ONE: Apakah anda merasa ada poin setelah itu, saat ia menekan anda kembali?

RE: Setelah semua tekanan yang saya berikan padanya, saya sesekali harus menahan diri untuk mengambil nafas, namun saya tidak merasa bahwa ia akan maju menyerang saya dengan liar, karena ia bukan orang seperti itu.

ONE: Seberapa banyak latihan conditioning tambahan anda terbayar dalam tiap ronde laga Kejuaraan Dunia ini?

RE: Saya merasa lebih kuat, tentunya, namun seperti yang saya katakan, saya tidak ingin mengambil resiko. Pada ronde terakhir, saya hanya mengambil poin saya dan tidak maju dengan kekuatan penuh, namun saya merasa baik, dan saya merasa dapat maju satu ronde lagi.

ONE: Anda mengatakan setelah laga ini berakhir bahwa anda ingin kembali pada bulan Desember atau Januari. Apakah itu masih menjadi sasaran anda?

RE: Tentunya rancangan waktu ini akan berubah, karena saya menderita cedera di bawah kaki saya dan saya tidak mengetahui seberapa serius hal itu sampai saya kembali ke Belanda dan pergi ke rumah sakit.

Itu terjadi dari tendangan depan saya ke wajahnya. Saya rasa giginya mengenai kaki saya, dan saya mendapatkan luka robek di telapak kaki kanan saya, maka saya harus menunggu sampai luka itu sembuh dan baru dapat mulai berlatih kembali. Itu adalah cedera yang aneh, saya tidak dapat melakukan apapun karena semuanya berasal dari kakimu.

Saat saya pergi ke rumah sakit, mereka mengatakan bahwa saya hanya harus beristirahat jika ingin segera kembali [berlaga] karena luka itu sangat dalam di kaki saya, maka saya kira [tidak mungkin saya berlaga] di bulan Desember. [Namun], Januari masih memungkinkan.

ONE: Siapa menurut anda yang akan menjadi lawan anda selanjutnya?

RE: Saya tidak tahu. Saya hanya penasaran siapa yang akan mereka kirimkan untuk saya, namun saya akan menunggu dan melihat hasilnya.

Baca Juga: 5 Sorotan Terbaik Dari Gelaran ONE: DAWN OF VALOR