Berita

Bagaimana Kiamrian Abbasov Menjadi Juara Dunia Di Jakarta

29 Okt 2019

Kejuaraan Dunia ONE Welterweight melahirkan seorang penguasa divisi baru di ajang ONE: DAWN OF VALOR, namun itu tidak mengejutkan Kiamrian “Brazen” Abbasov.

Jumat lalu, tanggal 25 Oktober, atlet Kirgistan ini melengserkan Zebaztian “The Bandit” Kadestam di Jakarta, Indonesia, berkat penampilan terbaiknya yang dominan di permainan grappling untuk mengamankan sebuah keputusan mutlak setelah lima ronde.

Namun, atlet berusia 26 tahun ini mengakui bahwa kemenangan tersebut tidak datang dengan mudah, karena ia harus bertahan melawan teknik Muay Thai berbahaya andalan Zebaztian dalam laga penuh untuk pertama kalinya.

Setelah kemenangannya di Istora Senayan, Kiamrian berbagi bagaimana ia mengeksekusi penampilan yang membuatnya meraih gelar Juara Dunia itu, apa arti kemenangan ini bagi dirinya, serta mengapa ia tidak ingin istrinya menonton laga ini.

ONE Championship: Selamat atas kemenangan anda – anda adalah Juara Dunia ONE Welterweight yang baru! Apakah arti kemenangan ini bagi anda?

Kiamrian Abbasov: Ini adalah kemenangan terpenting dalam karir saya sejauh ini, maka ini sangat berarti bagi saya. Saya tidak dapat mempercayai bahwa saya adalah Juara Dunia – ini terasa hebat!

Kemenangan ini mengambil banyak hal dari saya, dalam konteks darah, keringat dan air mata. Saya berlatih sangat keras untuk itu, maka ini memberi saya rasa bangga dan pencapaian [tinggi] juga!  

ONE: Apa rasanya saat anda mendengan kata-kata “Juara Dunia baru,” dan menerima sabuk tersebut di pundak anda?

KA: Itu adalah saat yang luar biasa, dan saya sangat terpesona. Saya merasa saya telah mencapai sesuatu yang sangat besar. Saya sangat bangga, senang, bersemangat – sangat sulit mengendalikan emosi saya.

Walau saya mengetahui saya unggul selama laga berlangsung, itu masih menjadi sebuah momen yang emosional saat mereka memberikan saya sabuk itu. 



ONE: Apakah anda yakin memenangkan kelima ronde tersebut?

KA: Saya menyadari bahwa saya unggul selama laga. Bahkan pada saat ronde kelima dimulai, saya mengetahui bahwa saya telah memenangkan empat laga sebelumnya. Saya beraksi sesuai dengan game plan saya – untuk menyeret lawan saya ke bawah, dan menyelesaikannya. Saya telah memberikan 100 persen dalam latihan dan penampilan saya, maka saya yakin bahwa saya unggul saat itu.

Saya sangat ingin tampil habis-habisan, maka saya senang mendapatkan kesempatan untuk menguji diri saya sendiri. Saya mengikuti rencana yang ada, maka semuanya berada di bawah kendali, namun setelah empat ronde, saya sangat lelah, dan tubuh saya tidak mendengarkan saya secara maksimal. Saya menang berkat tekad dan determinasi saya. Saya tahu saya harus menekan maju, dan itu yang saya lakukan.

ONE: Siapa yang anda hubungi untuk pertama kali setelah menang?

KA: Pertama kali, saya menghubungi istri saya untuk bertanya tentang kondisi tubuhnya. Ia sedang hamil dengan anak kedua kami, dan sejujurnya, saya tidak ingin dirinya menonton laga saya – tidak baik bagi dirinya jika ia gugup.

Setelah saya bertanya tentang kondisinya, dan dia menanyakan hal yang sama, saya tertawa. Saya berbicara padanya, dan pada anak perempuan kami, lalu saya menghubungi ibu saya. Itu adalah momen terbaik untuk berbagi kegembiraan saya bersama keluarga.

ONE: Bagaimana anda merayakan kemenangan anda?

KA: Sebenarnya, saya belum mendapatkan kesempatan untuk merayakan – saya masih berada dalam perjalanan pulang, namun minggu ini saya akan berkumpul bersama keluarga saya, dan tentunya sahabat-sahabat saya. Saya pastikan ini akan menjadi perayaan luar biasa!

Kiamrian Abbasov strikes with Zebaztian Kadestam at ONE DAWN OF VALOR

ONE: Apakah anda sempat mendapatkan kesempatan untuk mengakhiri laga lebih cepat?

KA: Ya, saya teringat sebuah momen pada akhir ronde pertama – saya merenggut lehernya dan dapat saja menyarangkan kuncian, namun hanya ada 10 detik tersisa, dan tim saya di sudut berteriak untuk membiarkannya. Mereka merasa tidak cukup waktu untuk menyelesaikan laga melawan Zebaztian, dan mereka tidak ingin saya membuang tenaga, maka saya hanya menahan dirinya di sana.

Pada ronde ketiga, ada momen lain saat saya meraih punggungnya – sebenarnya saya ingin meraih lehernya kembali – namun kami berdua sangat berkeringat dan licin, dimana serangan saya tidak berjalan sesuai rencana.

Saya menggoyahkannya dengan pukulan dan serangan lutut beberapa kali, namun ia adalah pria yang kuat dan mampu bertahan – ia mampu menangani itu semua. Penghormatan terbesar saya untuk itu.

Saya ingin berterima kasih padanya karena telah menjadi lawan yang kuat – berkemampuan tinggi, sangat hormat dan tidak kenal menyerah. Saya harap kami memberikan laga yang baik dan para penggemar menyukainya. Saya percaya intu adalah sebuah laga utama perebutan gelar Juara Dunia yang sebenarnya. 

ONE: Ia nampak menggoyahkan anda dengan beberapa tendangan. Apa rasanya menerima tendangan itu? 

KA: Ia benar-benar memiliki tendangan luar biasa. Tendangan rendahnya terasa menyakitkan. Sebagai spesialis Muay Thai, ia juga memiliki serangan siku yang baik.

ONE: Apakah anda terkejut dengan pertahanan grappling miliknya?

KA: Tentunya, itu mengejutkan saya, namun terlebih lagi, ia mengejutkan tim dan pelatih saya. Ia pastinya telah berlatih keras untuk meraih tingkatan wrestling defense seperti ini, dan saya sangat menyukainya.

Ia memang mengerjakan pekerjaan rumahnya, namun seperti lawan lainnya, saya hanya terus menekannya.

ONE: Apakah anda merencanakan sweep spektakuler pada ronde ketiga itu?

KA: Tidak, saya tidak merencanakannya sama sekali! Saya mencoba teknik ini beberapa kali di dalam sesi sparring, namun itu bukan bagian dari game plan saya.

Saat saya melihatnya memiliki kuda-kuda lebar, saya mengambil kesempatan – dan itu berhasil. Penonton menyukainya dan lawan saya nampak terkejut! 

ONE: Apa yang memicu anda mengubah permainan ke stand-up di awal ronde keempat?

KA: Saya adalah seniman bela diri campuran, yang berarti saya harus lebih leluasa dan memiliki kemampuan stand-up dan grappling yang sama baiknya. Saya ingin menampilkan kemampuan striking saya bagi lawan berikutnya. Sekarang, mereka mengetahuinya! 

Kiamrian Abbasov stands with Zebaztian Kadestam at ONE DAWN OF VALOR

ONE: Apakah anda mendengar penonton meneriakkan nama anda? Bagaimana itu mempengaruhi anda?

KA: Dalam dua ronde pertama, mereka mendukung Zebaztian, namun dari ronde ketiga, anda hanya dapat mendengar nama saya. Saya mungkin telah memenangkan hati mereka dengan apa yang saya lakukan. Itu sangat menggembirakan, namun itu mungkin juga mempengaruhi lawan saya.

ONE: Bagaimana perasaan anda pada ronde terakhir?

KA: Saya menonton kembali laga kami hanya beberapa jam lalu dan saya dapat melihat bagaimana kami berdua nampak sangat kelelahan.

Terlepas dari kelelahan itu, kami masuk ke dalam ronde ini seperti akan berperang. Tidak ada yang ingin kalah – kami seperti dua orang pejuang samurai yang siap bertarung sampai akhir.

ONE: Bagaimana publik Kirgistan bereaksi atas kemenangan anda, dan mereka yang berada di Rusia, tempat anda tinggal saat ini?

KA: Saya dapat mengatakan pada anda bahwa banyak orang menyaksikan laga tersebut, karena setelah saya mendarat di Rusia, saya dapat merasakan bahwa saya terkenal sekarang.

Bahkan petugas imigrasi ingin berfoto dengan saya dan meminta tanda tangan saya, banyak orang di Bandara Domodedovo [di Moskow] menghampiri saya untuk berfoto, dan saya masih menerima pesan di jaringan media sosial saya dari mereka yang memberikan selamat atas kemenangan ini.

Banyak orang di Rusia dan Kirgistan menonton laga ini! Saya harap saya dapat memberikan respon pada seluruh fans saya segera setelah saya memiliki waktu luang lebih banyak.

Baca Juga: Rangkaian Foto Terbaik Dari Gelaran ONE: DAWN OF VALOR