Tips Dan Trik

Penerapan Disiplin Tinju Dalam Seni Bela Diri Campuran

Saat berlatih untuk menjadi seniman bela diri campuran berkemampuan lengkap, tentunya para kesatria yang berlaga di dalam Circle wajib menguasai aspek striking maupun grappling dengan baik.

Salah satu disiplin striking yang harus dikuasai adalah tinju, yang juga dikenal sebagai “sweet science,” untuk menjadi pondasi yang kuat bagi berbagai kombinasi serangan atas yang dahsyat – seperti yang dibuktikan oleh Martin “The Situ Asian” Nguyen, yang menggunakan teknik tersebut saat menghentikan perlawanan Eduard “Landslide” Folayang dan Marat “The Cobra” Gafurov.

Dalam laga perebutan sabuk Juara Dunia ONE Featherweight dan ONE Lightweight tersebut, Nguyen mampu merobohkan kedua atlet kuat tersebut dengan pukulan overhand kanannya.

Tidak hanya Martin, masih banyak lagi atlet bela diri campuran yang menggunakan dasar disiplin tinju sebagai senjata utama dalam laga mereka. Namun, ternyata ada beberapa perbedaan dalam menerapkan ‘sweet science’ saat tampil di dalam Circle dan ring tinju konvensional.

Dalam laga bela diri campuran, kedua atlet diperbolehkan menyarangkan beragam serangan atas dan bawah, antara lain pukulan, tendangan, serangan siku dan lutut, serta bantingan khas gulat yang membuat tiap atlet harus mengantisipasi banyak hal untuk menghindari kerusakan besar.

Oleh karena itu, penerapan disiplin tinju saat berlaga di dalam Circle wajib disesuaikan dengan baik, agar tiap teknik itu dapat efektif dan memberi kemenangan bagi sang pengguna, seperti dikatakan oleh dua seniman bela diri campuran berbakat asal Indonesia, Egi Rozten dan Eko “Eletrical Knock Out” Priandono.



Kedua atlet yang berlaga di divisi flyweight ini memiliki latar belakang tinju sebagai atlet nasional di Tanah Air, sebelum akhirnya memutuskan untuk beralih ke dunia seni bela diri campuran.

Terdapat beberapa hal yang menjadi penting, menurut pendapat mereka, saat menerapkan teknik-teknik tinju di dalam berbagai laga di atas panggung dunia ONE.

Beberapa Penyesuaian Yang Wajib Dilakukan

Memiliki pengalaman 26 kali berlaga di dalam ring tinju profesional, Egi mengatakan bahwa salah satu penyesuaian yang wajib dilakukan adalah kuda-kuda yang digunakan saat berada di dalam Circle.

Hal ini dimaksud agar sang atlet dapat mendaratkan kombinasi pukulan tinju keras seraya mengantisipasi serangan balik, seperti takedown ataupun tendangan, yang akan dilancarkan oleh sang lawan.

“Seorang atlet tinju itu memiliki kuda-kuda lebih tinggi, sedangkan di dalam bela diri campuran, kuda-kuda kita harus lebih rendah untuk mengantisipasi percobaan takedown dan tendangan lawan,” jelas pria kelahiran Karawang, Jawa Barat ini.

“Secara sederhana, kita harus lebih siap dalam laga bela diri campuran. Jika kita melontarkan pukulan, lawan dapat mengincar takedown [dengan cepat] atau menyarangkan tendangan rendah.”

Eko Priandono berlaga melawan Abro Fernandes di bulan Februari 2020

Selain kuda-kuda, mantan juara OPMMA Bantamweight Eko Priandono, yang baru-baru ini berlaga melawan rekan senegaranya Abro Fernandes, mengatakan bahwa keefektifan serangan kombinasi juga dapat menentukan jalannya laga.

Dengan latar belakang sebagai atlet tinju amatir di kota Sidoarjo, ia mengatakan bahwa seorang seniman bela diri campuran sebaiknya melontarkan pukulan dengan kombinasi cepat namun efektif – terutama karena sang lawan akan dapat melakukan berbagai gerakan balasan yang membutuhkan tanggapan cepat – untuk dapat menghasilkan dampak terbesar.

“Menurut saya, dalam laga bela diri campuran, kombinasi pukulan kita tidak usah terlalu banyak seperti saat kita bertanding dalam laga tinju konvensional,” sebutnya.

“Kita harus lebih jeli membaca gerakan lawan, agar dapat melemparkan pukulan dengan akurasi yang tepat sehingga dapat menghasilkan kerusakan yang besar.”

Baca juga: 5 KO Terbaik Superstar Indonesia Di Panggung Dunia