Fitur

‘Itu Membuat Saya Gila’ – Buchecha Masuki Jalur Menuju Kejayaan BJJ Setelah Terkena ‘Tapout’ Kakak Perempuannya

18 Agu 2022

Tanpa beberapa “pelajaran” dari kakaknya, Juara Dunia 17 kali Marcus “Buchecha” Almeida mungkin takkan pernah menjadi salah satu nama terbesar dalam Brazilian Jiu-Jitsu.

Ikon asal Brasil itu baru-baru ini bertransisi ke MMA, dimana dirinya akan ingin menjaga rekor sempurna itu saat melawan Kirill Grishenko di ONE Fight Night 1: Moraes vs. Johnson II, yang disiarkan langsung di jam tayang utama Amerika Utara pada 26 Agustus malam waktu A.S. nanti.

Kesuksesan luar biasa Almeida dalam disiplin menyeluruh ini sebagian besar berakar di kemampuan grappling legendaris yang ia miliki, dimana ia awalnya mendapatkan motivasi untuk mempelajari itu setelah kakak perempuannya, Ana, mulai berlatih.

Ana bergabung bersama sebuah sasana lokal di Sao Paolo pada usia 15 tahun, dan segera setelah itu, adik lelakinya ini bergabung di atas matras – walau dengan hasil yang membuatnya frustrasi.

“Buchecha” mengenang:

“Ayah saya tak menyukai gagasan itu pada awalnya, namun untuk tidak melarang kakak perempuan saya berlatih, ia juga mulai berlatih. Di sasana, hanya ada kakak perempuan saya dan satu wanita lagi.”

“Lalu, mereka berdua mulai meyakinkan saya untuk pergi berlatih juga. Dan segera setelah saya seringkali kalah di tangannya, saya mulai berlatih. Itulah kontak pertama saya dengan jiu-jitsu.” 

“Ia sudah mempelajari beberapa hal lainnya dan ia selalu mampu mengalahkan saya di rumah, dan itu membuat saya gila. Saya melihat seberapa sulitnya untuk menghadapi seseorang yang tahu cara bertarung.”

Beberapa waktu berikutnya, Ana berlanjut mengungguli “Buchecha” yang masih berusia 14 tahun itu dengan menggunakan pengalamannya demi tetap berada satu langkah di depan.

Sebagai hasilnya, sang adik pun terinspirasi untuk mengejar ketinggalan.

Dan, walau tak lama kemudian kakaknya berhenti, itu adalah kenangan yang indah bagi Almeida saat ia baru berkutat dengan BJJ.

Ia berkata:

“Dalam beberapa sesi latihan perdana, ia sangat bagus saat melawan saya. Ia sudah tahu teknik dasar dan lebih besar dari saya. Maka, dengan penguasaan beberapa teknik, ia mampu mengalahkan saya. Itu membuat saya gila! Saya masih anak-anak. Saya tak ingin dikalahkan oleh dirinya sama sekali.”

“Tetapi, itu sangat keren, karena seluruh keluarga ada di sana untuk berlatih olahraga. Ayah saya sangat menyukainya karena ia tahu di mana kami berada. Ia tahu bahwa kami tidak melakukan apa pun yang bodoh. Maka, waktu singkat dimana kita berlatih bersama itu sangat menyenangkan.”

Dari Rekan Latihan Menjadi Penggemar Terbesar

Walau Ana akhirnya beralih ke hal-hal lainnya – dan berhenti dari BJJ di sabuk putih – ia selalu bersemangat melihat kesuksesan Marcus “Buchecha” Almeida.

Setelah menunjukkan nilai-nilai terbesar dari disiplin yang juga disebut “the gentle art” ini, kakaknya menjadi pendukung terbesar saat pria muda itu mulai memasuki turnamen dan mendominasi skena kompetitif.

Bahkan sampai hari ini, kakaknya tetap menjadi pendukung terbesar pria Brasil itu saat ia bertransisi dengan mulus di bawah sorotan besar ke bela diri campuran, yang memberi hasil tiga kemenangan dominan sampai saat ini.

“Buchecha” berkata:

“Saya kira kakak saya adalah penggemar nomor satu. Ia selalu menikmati saat dirinya mengikuti karier saya dari dekat. Ia bahkan memiliki tato saya di lengannya! Saya kira ia dan ibu saya adalah kedua penggemar terbesar.”

“Dalam MMA, itu sama. Kakak perempuan saya tetap mendukung, menonton dan berteriak. Ia jelas memberi saya dukungan luar biasa. Dan, sangat penting untuk mendapatkan dukungan yang saya miliki dari dirinya dan keluarga saya.”

“Buchecha” kini memegang sabuk hitam BJJ, masuk di IBJJF Hall of Fame, dan Juara Dunia berkali-kali yang memiliki berbagai penghargaan.

Namun, sementara pencapaiannya dalam disiplin ini memang belum tertandingi, Ana masih dapat selalu mengingatkan dirinya bahwa ia pernah menjadi saudara kandung yang lebih unggul di atas matras.

Komentar tersebut memang dapat menghibur, walau “Buchecha” pun mengakui dirinya mungkin takkan menjadi legenda seperti saat ini tanpa kakak perempuannya.

Grappler ikonik berusia 32 tahun ini menambahkan:

“Ia tak berbicara banyak tentang itu, tetapi saat ia melihat saya di tempat yang bagus, atau bepergian, atau saat sesuatu yang baik terjadi dan saya senang, ia bercanda dan berkata saya berhutang pada dirinya untuk semua itu, bahwa jika itu bukan karena dirinya, saya takkan pernah mengenal jiu-jitsu.”

“Di satu sisi, itu benar. Saya tertawa dan setuju dengan dirinya. Tetapi jika kami beradu hari ini, ia akan menang. Ia memiliki hak untuk itu!”

Ikuti perkembangannya

Bawa ONE Championship kemana pun anda pergi! Daftarkan diri untuk mendapatkan akses ke berita terbaru, berbagai tawaran spesial dan kursi terbaik dalam gelaran langsung kami.
Dengan mengirimkan formulir ini, anda menyetujui pengumpulan, penggunaan dan pembukaan informasi anda berdasarkan Privacy Policy kami. Anda dapat membatalkan (unsubscribe) dari jenis komunikasi ini kapan saja.