Membangun ‘Buchecha’ – Cara Marcus Almeida Asah Permainan Grappling Legendaris

Kang Ji Won Buchecha WINTERWARRIORS 1920X1280 4

Marcus “Buchecha” Almeida menjadi kompetitor terhebat dalam sejarah Brazilian Jiu-Jitsu dengan gaya bertarung tanpa lelahnya – dan ia membawa intensitas serupa ke dalam seni bela diri campuran.

Menggunakan prinsip yang membantunya menjadi Juara Dunia BJJ sebanyak 17 kali, Almeida kini ingin memperpanjang catatan rekor MMA sempurnanya, 4-0, saat melawan “Reug Reug” Oumar Kane dalam aksi heavyweight mereka di ONE Fight Night: Allazov vs. Grigorian.

Sejauh ini, ikon Brasil itu menikmati awalan yang diimpikan banyak atlet dalam MMA, dimana ia menghentikan keempat rivalnya pada ronde pertama dan sekali lagi berencana untuk mendesak lawan terbarunya, bintang gulat Senegal “Reug Reug.”

Ini adalah pemikiran yang dibawah pria berusia 33 tahun ini sepanjang kariernya dalam olahraga tarung, karena ia memang selalu agresif saat masih menjadi kompetitor grappling elite.

Jelang laga tingkat tinggi pada jam tayang utama A.S. itu pada Sabtu pagi, 5 Agustus waktu Asia ini, “Buchecha” menjelaskan:

“Permainan eksplosif yang selalu bergerak maju ini berawal saat saya memegang sabuk biru [BJJ], tapi tentu saja, itu menjadi lebih baik saat saya mendapatkan pengalaman.”

“Dan sampai hari ini, saya mengembangkan permainan yang selalu bergerak maju, selalu mengincar submission.”

Banyak hal yang dilakukan untuk membangun gaya unik dari seorang atlet, dari postur fisik dan kepribadian mereka, sampai pada para superstar yang ingin mereka tiru.

Kekuatan dan kecepatan Almeida, terkait ukuran tubuhnya, sudah membantunya menemukan jenis permainannya sendiri, namun ia juga terpengaruh oleh banyak petarung hebat dalam dunia BJJ, serta mereka yang bertransisi dengan luar biasa ke MMA.

Ia mengenang:

“Saya selalu menikmati saat menonton Leo Vieira, yang adalah master [atau guru] saya. Marcelo Garcia, Roger Gracie, Xande Ribeiro, Ronaldo Jacaré dan Fernando Terere juga menjadi referensi lainnya. Mereka adalah yang saya paling banyak tonton saat saya memulai jiu-jitsu.”

“Ricardo Arona adalah pria yang selalu saya idolakan. Saya selalu menikmati saat melihatnya, karena gaya bertarung agresifnya, dengan pengkondisian fisik yang sangat bagus dan permainan maju. Saya selalu terinspirasi dengan jenis petarung seperti itu.”

“Saya selalu menjadi penggemarnya, dan saya mencoba mengambil sedikit dari permainan itu untuk diaplikasikan ke milik saya.”

‘Buchecha’ Lihat BJJ Dan Gulat Sebagai Kombinasi Unggul MMA

Satu area yang seringkali dikatakan sebagai titik lemah dari Brazilian Jiu-Jitsu – terutama bagi mereka yang beralih ke seni bela diri campuran – adalah permainan takedown.

Namun, itu bukanlah permasalahan bagi Marcus “Buchecha” Almeida.

Bintang Brasil ini dikenal atas keunggulannya yang selalu mengejar posisi atas (top position) dengan teknik gulat agresif, dan strategi itu pun terbayar saat ia menjadi salah satu praktisi BJJ paling berprestasi sepanjang masa.

“Buchecha” menyadari sejak awal bahwa teknik gulat dapat saja menjadi elemen krusial dari kemampuan menyeluruhnya, dan hal itu juga mempersiapkannya menuju kesuksesan saat ia beralih ke MMA pada 2021 lalu:

“Saya merasa, dalam hari-hari jiu-jitsu, untuk menjadi bagus di permainan takedown. Saya teringat bahwa para petarung yang bagus dalam judo memiliki keunggulan karena mereka mampu unggul di dalam laga.”

“Saya hanya [sedikit] berlatih judo saat kecil dan menyadari bahwa itu takkan menjadi keunggulan jika saya kembali ke sana. Itulah mengapa saya memilih berlatih gulat.”

“Saya mengadaptasi itu, berlatih gulat dengan gi, dan hal itu sangat mengasah permainan takedown saya. Saya mampu mengadaptasikan permainan gulat ini sangat baik dengan gi dan cengkeraman. Itulah permainan saya yang sangat berkembang, baik dalam gi dan no-gi.”

“Dan, hari ini, saya lebih banyak berlatih gulat karena MMA.”

Bagi Almeida, menambahkan teknik gulat ke dalam permainan BJJ elitenya telah menciptakan perpaduan sempurna bagi gayanya. Ia hampir tak mungkin dihentikan di matras kompetisi, dan itu membantunya menjadi salah satu petarung heavyweight yang paling cepat melesat dalam disiplin MMA.

Kini, menghadapi pegulat atletis Oumar Kane pada Sabtu pagi ini, “Buchecha” harus berada di posisi terbaiknya untuk membawa laga ke ground, dimana ia kemampuan lihainya paling berguna.

Dan, sementara ia tak memiliki keunggulan dalam percobaan takedown langsung, perwakilan American Top Team ini mengetahui bahwa integrasi dari berbagai teknik baru yang masuk ke dalam arsenalnya itu akan menjadi faktor terbesar.

Ia menambahkan:

“Dengan kombinasi dari jiu-jitsu dan gulat, saya mampu beradaptasi dengan sangat baik untuk mencapai berbagai posisi saya di jiu-jitsu. Dan kini, terlebih lagi dalam MMA.”

“Itu tak hanya menyambungkan, tetapi mengadaptasikan gulat untuk dapat menggunakan teknik jiu-jitsu saya. Itu adalah kombinasi yang sangat penting.”

Selengkapnya di Fitur

Rodtang Jitmuangnon Denis Puric ONE 167 137
Tawanchai PK Saenchai Jo Nattawut ONE 167 78
DUX 1183
Rodtang Jitmuangnon Edgar Tabares ONE Fight Night 10 36
Johan Ghazali Edgar Tabares ONE Fight Night 17 21 scaled
Rodtang Jitmuangnon Edgar Tabares ONE Fight Night 10 28
Johan Ghazali Edgar Tabares ONE Fight Night 17 21 scaled
Tawanchai PK Saenchai Superbon Singha Mawynn ONE Friday Fights 46 123 scaled
Victoria Souza Noelle Grandjean ONE Fight Night 20 34
MasaakiNoiri 1200X800 1
Katsuki Kitano Halil Kutukcu ONE Friday Fights 38 25
Jo Nattawut Luke Lessei ONE Fight Night 17 84 scaled