Fitur

Dari PSIS Hingga Menjadi Bonek, Sunoto Jelajahi Sepakbola Nasional

“The Terminator” Sunoto mungkin lebih dikenal sebagai salah satu atlet seni bela diri campuran terbaik yang lahir dari rahim ibu pertiwi. Namun, selalu ada satu tempat bagi sepakbola di hatinya.

Pria berusia 35 tahun ini bertumbuh remaja saat sepakbola tanah air tengah bergeliat dan bertransisi menuju era profesional, yang ditandai dengan meleburnya kompetisi Galatama dan juga Perserikatan.

Klub-klub tradisional dari liga Perserikatan bertransformasi dan mengepakkan sayap bisnis mengikuti perkembangan zaman, namun ikatan erat antara klub dan daerah tempat bermukim tetap tak berkurang.

Ikatan itu dirasakan juga oleh Sunoto, yang tumbuh remaja di kampung halamannya di Blora, Jawa Tengah, sebelum mengadu nasib di Surabaya, Jawa Timur, tempat yang juga menjadi saksi perkembangan karier bela dirinya.

“Saya dulu mengikuti perkembangan sepakbola nasional. Dan karena saya berasal dari Jawa Tengah, maka saya dulu seneng sama PSIS [Semarang], klub ibu kota provinsi,” kenang Sunoto.

“Saya ingat masa emas PSIS saat jadi juara liga dengan mengalahkan Persebaya [Surabaya] di final lewat gol tunggal menit akhir dari Tugiyo.”

Tanggal 9 April 1999 menjadi momen bersejarah bagi pendukung PSIS. Tidak berlebihan jika Semarang dan kota sekitarnya berubah menjadi lautan biru, sebagai bentuk perayaan raihan gelar perdana bagi Laskar Mahesa Jenar sejak era perserikatan.

“Sepakbola lokal memang selalu kental dengan rasa kedaerahan. Seperti halnya PSMS bagi warga Medan dan  PSM bagi warga Makassar dan Sulawesi,” tutur Sunoto, yang juga kerap memainkan si kulit bundar pada sela-sela waktu senggangnya.



Saat mengadu nasib di Surabaya, jarak menjadi pemisah kedekatannya dengan PSIS. Dan seperti ujaran yang populer di kalangan suporter ‘Dukung Klub Lokalmu,’ Sunoto pun mulai menaruh hati klub sepakbola terbesar di Kota Pahlawan.

“Saya ke Surabaya pada awal tahun 2000-an. Dari situ saya jadi ikutin perkembangan Persebaya dan jadi Bonek (sebutan bagi pendukung Persebaya), karena saya sering lewat Stadion Tambaksari (Gelora 10 November) yang selalu ramai,” ungkap Sunoto.

Jika tidak bisa menyempatkan ke stadion untuk manyaksikan pertandingan langsung, Sunoto kerap menyaksikan laga lewat televisi di sebuah warung kopi.

Nobar, atau nonton bareng, memang sudah menjadi tradisi di Indonesia agar atmosfer di stadion tetap bisa dirasakan di depan televisi.

“Sekarang memang lebih enak nonton di TV karena nyaman dan tinggal nonton sambil bersantai. Tapi di stadion, atmosfer lebih dapat,” ungkap Sunoto.

“Sama saja kayak suasana saat nonton laga bela diri campuran. Lewat TV, semua angle memang bisa dapat dan ada tayangan ulang, tapi soal atmosfer, nonton langsung tak bisa digantikan. Selain itu, nonton langsung bisa dapet bonus koreografi suporter.”

Sunoto melayangkan pukulan pada Nurul Fikri dalam ajang ONE: WARRIOR'S CODE Di Jakarta

Selain sebagai suporter, Sunoto pun kerap bermain sepakbola pada waktu senggangnya. Meski tak sesering dulu, “The Terminator” mengaku sering mengolah si kulit bundar baik di lapang hijau atau di ruangan tertutup.

Saat berlaga di atas Circle, Sunoto dikenal akan kemampuan beradaptasinya yang cepat sesuai situasi dan kondisi lawan. Pengidola Cristiano Ronaldo ini pun memiliki tingkat fleksibilitas tinggi saat bermain bola dan mampu memerankan berbagai posisi.

“Bisa dikatakan saya bisa bermain di semua posisi, karena dari dulu sering pindah-pindah posisi,” ungkap Sunoto.

“Waktu jaman SD (Sekolah Dasar), saya berperan sebagai kiper, lalu maju jadi bek, gelandang, dan bermain di sayap sebagai striker. Karena dulu saya suka lari, jadi senang main di posisi itu. Tancap gas buat lari, lalu kirim umpan.” 

Baca juga: Mengenal Dwi Ani Retno Wulan, Putri Rembang Yang Menyimpan Mimpi Besar