Fitur

Bagaimana Timofey Nastyukhin Bangkit Dari Cedera Berat

Kenangan Timofey Nastyukhin akan cedera berat yang dialaminya masih segar dalam ingatannya.

Atlet yang mewakili Russian Top Team ini sangat ingin mengalahkan lawannya, bintang Jepang bernama Kotetsu “No Face” Boku, dalam ajang ONE: DEFENDING HONOR pada bulan November 2016. Namun sebuah tendangan roundhouse rendah yang cukup keras menyebabkan atlet berusia 28 tahun ini mengalami keretakan tulang kering dan sembilan bulan masa rehabilitasi.

Baik para penonton di Singapore Indoor Stadium, atau pemirsa di seluruh dunia — bahkan Timofey sendiri — benar-benar mengerti apa yang terjadi pada menit kedua ronde pembuka itu, ketika Nastyukhin menendang kaki depan Boku dan terjatuh karena rasa sakitnya.

Walau ia mengetahui dirinya cedera, atlet Rusia ini menunjukkan determinasi dan ketahanan luar biasa untuk menyelesaikan ronde ini. Itulah saat dimana dokter memutuskan dirinya tak dapat melanjutkan, serta memberi sebuah kemenangan TKO kepada Boku.

Saat itu, ia tidak mengetahui seberapa parah cedera yang dideritanya.

“Malam itu hampir saja mengakhiri karier saya,” kenangnya. “Mereka membawa saya keluar dari gedung dengan tandu ke rumah sakit, dimana saya mendengar diagnosa tersebut — sebuah tulang kering yang patah. Banyak orang mengagumi kegigihan saya dalam laga itu, dimana mereka tak percaya bahwa saya mampu mengakhiri ronde tersebut.”

Berbaring sendiri di tempat tidur rumah sakit di sebuah negara yang asing, hanya ditemani seorang penterjemah di telepon untuk membantunya berkomunikasi dengan dokter, Nastyukhin bertanya pada dirinya sendiri apakah ia telah siap untuk terus mengejar mimpinya. Ia bertanya-tanya, apakah cedera berat ini dan pengorbanan yang selalu dilakukannya untuk menjadi Juara Dunia benar-benar sepadan.

“Sabuk itu selalu menjadi tujuan saya. Saya tidak berada di sini hanya untuk menambah jumlah atlet yang bertanding,” katanya. “Namun tepat setelah laga, saya mengalami keraguan dan seluruh pemikiran negatif. Para dokter rumah sakit di Singapura itu melakukan pekerjaan luar biasa, dan operasi saya berjalan dengan baik.”

Nastyukhin mendapati sebuah plat besi ditempatkan di kakinya, dan sehari setelah operasi tersebut, keputusannya jelas: ia memutuskan untuk naik satu divisi dan melanjutkan kariernya untuk mengejar Kejuaraan Dunia ONE Lightweight.

“Saya membuat rencana di kepala saya,” ia memulai. “Dan saya masih mengikutinya. Tidak ada kata mundur.”

Rencana tersebut termasuk untuk kembali ke Rusia dan mengunjungi sebuah pusat rehabilitasi di Belokurikha, di dekat rumahnya di Novokuznetsk. Selama empat bulan berikutnya, ia menjalani terapi fisik, bertahan dari pijatan yang menyakitkan, dan harus melakukan latihan khusus dengan karet peregang dan beban ringan.

“Itu adalah sebuah fasilitas yang mahal, dengan standar Rusia, tetapi para dokter di sana memiliki pengetahuan lengkap dan juga memberi perawatan yang baik. ONE Championship menangani perawatan saya secara finansial, yang adalah sebuah kelegaan tersendiri. Sangat baik menjadi bagian dari sebuah organisasi dimana anda tidak ditinggalkan saat mengalami situasi yang sulit,” kata Nastyukhin.

“ONE sangat mendukung saya selama waktu yang sulit ini. Saya ingin berterima kasih pada Victor Cui, CEO, International ONE Championship, yang meluangkan waktu menghubungi saya secara pribadi dan menawarkan bantuan. Terima kasih banyak bagi pejabat yang mengunjungi saya di rumah sakit, catatan manis yang mereka beri dalam bahasa Rusia – mereka mungkin harus menggunakan Google Translate.”

“Saya sangat tersentuh. Penggemar saya sangat luar biasa, [mereka] juga mengirimkan pesan melalui Instagram dan Facebook.”

Awalnya, Nastyukhin hanya dapat bergerak dengan bantuan kruk. Lalu, ia mulai dapat berjalan dengan bantuan tongkat. Segera, para dokter mengizinkannya menggunakan beban untuk bagian atas tubuhnya, dan mengizinkannya untuk berenang. Empat bulan kemudian, ia akhirnya mampu melanjutkan latihan bela dirinya, memulai perlahan dengan tinju, sebelum menerapkan tendangan.

Akhirnya, saat ia mendapatkan kesempatan untuk kembali ke dalam Circle pada bulan Agustus 2017 dalam ajang ONE: KINGS & CONQUERORS di Makau melawan mantan penantang gelar Juara Dunia ONE Lightweight Koji Ando, sesi latihannya semakin meningkat.

Setelah sembilan bulan penuh memulihkan diri, Nastyukhin mencetak penampilan kembalinya dengan tujuan mendapatkan perebutan gelar sesegera mungkin. Keteguhan dan dedikasinya terbayar, saat ia mengalahkan Ando melalui keputusan mutlak.

“Saya tidak harus mencari motivasi untuk terus mengejar mimpi saya, yaitu meraih sabuk emas ONE Championship. Seni bela diri telah berada dalam kehidupan saya sejak saya kecil, dan kini itu juga menjadi profesi saya,” sebutnya. “Termotivasi atau tidak, seorang akuntan atau pengendara bus tetap bekerja. Saya tidak berbeda dari mereka.”

Tantangan Nastyukhin berikutnya akan berlangsung pada hari Jumat, 23 Februari, saat ia berlaga dengan sesama pencetak KO Amir Khan di ajang ONE: QUEST FOR GOLD. Itu akan menjadi laga menarik yang menampilkan Khan, pria dengan KO terbanyak dalam sejarah ONE, melawan Nastyukhin, pemegang rekor KO tercepat dalam sejarah ONE, yaitu dalam waktu enam detik.

Khan saat ini memiliki enam kemenangan beruntun dan telah mengalahkan tiap lawan yang dihadapinya di dalam Circle ONE. Tetapi, seperti yang terus ditampilkan atlet Rusia ini, ia dapat bertahan melewati seluruh perjuangan, dan tidak ada yang dapat menghalangi langkahnya meraih kesempatan untuk merebut gelar Kejuaraan Dunia ONE Lightweight.

Tulang kering yang patah tentunya tidak akan menjadi halangan, dan pastinya bukan juga Amir Khan.

Muat Lebih Banyak

Ikuti perkembangannya

Bawa ONE Championship kemana pun anda pergi! Daftarkan diri untuk mendapatkan akses ke berita terbaru, berbagai tawaran spesial dan kursi terbaik dalam gelaran langsung kami.
Dengan mengirimkan formulir ini, anda menyetujui pengumpulan, penggunaan dan pembukaan informasi anda berdasarkan Privacy Policy kami. Anda dapat membatalkan (unsubscribe) dari jenis komunikasi ini kapan saja.