Fitur

Bagaimana Seni Bela Diri Membantu ‘Dagi’ Lewati Masa Kecil Yang Sulit

Saygid “Dagi” Guseyn Arslanaliev mengalami masa masa kecil yang sulit, namun hal ini berubah saat ia mengenal seni bela diri yang mengubah hidupnya 360 derajat.

Petarung yang lahir di Dagestan, Rusia ini mulai berlatih seni bela diri untuk pertama kalinya saat berusia 5 tahun. Setelah hampir dua dekade berlatih, “Dagi” berhasil muncul sebagai salah satu atlet paling berbakat di dunia.

Pada hari Jumat, 17 Mei, para pengemar seni bela diri campuran di seluruh dunia akan berkesempatan melihat kembali aksinya melawan Amir Khan dalam pertandingan semifinal turnamen ONE Lightweight World Grand Prix di ajang ONE: ENTER THE DRAGON.

Turkish superstar "Dagi" Arslanaliev takes out Ev Ting with a THUNDEROUS TKO just 25 seconds into Round 1 to advance in the ONE Lightweight World Grand Prix!

Turkish superstar Saygid "Dagi" Arslanaliev takes out Ev Ting with a THUNDEROUS TKO just 25 seconds into Round 1 to advance in the ONE Lightweight World Grand Prix!Watch the full event on the ONE Super App ???? http://bit.ly/ONESuperApp | TV: Check local listings for global broadcast

Posted by ONE Championship on Friday, February 22, 2019

Orang tua Saygid berpisah saat ia lahir, dimana hal ini membuat kehidupannya berubah drastis. Sampai saat ini, perpisahan bukanlah hal yang lumrah di Republik Dagestan, Rusia, dimana masyarakat disana masih mematuhi norma-norma tradisional. Karena itu, ia pun menjalani kehidupan yang berbeda dengan teman sebayanya.

Saygid menghabiskan masa kanak-kanaknya dengan tinggal bersama sang nenek di kota kecil bernama Buynaksk. Dibawah asuhannya, “Dagi” bersekolah dengan baik dan didorong untuk berlatih tinju saat ia berusia 17 tahun.

Di sasana pertamanya, ia menemukan pelatih yang juga berperan sebagai mentornya. Tentunya, ia sangat berterima kasih atas pelajaran yang telah diterimanya.

“Namanya Shamil Gashimov, dia baik hati dan juga sosok lelaki yang baik – saya ingat dia [memiliki postur] sangat tinggi,” ungkap pertarung kelahiran 24 tahun silam ini.

“Shamil tahu saya tumbuh besar tanpa sosok Ayah dan melihat saya sangat tertarik pada olahraga tinju, jadi ia berbaik hati memberikan saya waktu tambahan untuk berlatih dan memperbaiki teknik tinju saya.”

“Setiap pelatih berperan penting dalam persiapan saya menghadapi setiap kompetisi, tetapi saya sangat bersyukur dengan pelatih tinju pertama saya di Buynaksk, yang memberikan kebaikan hati serta perhatian yang membuat saya tertarik mendalami dunia seni beladiri.”

Saygid kecil pun memperlihatkan kemajuan yang baik, namun ketika ia berumur 12 tahun, hidupnya kembali berubah secara dramatis.

Odds "Dagi" Arslanaliev scores another quick finish this Friday against Amir Khan? ????

Odds Saygid "Dagi" Arslanaliev scores another quick finish this Friday against Amir Khan? ????Singapore | 17 May | 5:00PM | Watch on the ONE Super App: http://bit.ly/ONESuperApp | TV: Check local listings for global broadcast | Facebook: Prelims LIVE | Twitter: Prelims + 2 Main-Card bouts LIVE | Tickets: http://bit.ly/onedragon19

Posted by ONE Championship on Wednesday, May 15, 2019

Ia harus meninggalkan kenyamanan hidup bersama sang nenek, dengan masuk sekolah asrama di Desa Khalembek. Beruntungnya, karena terfokus pada dunia olahraga, “Dagi” berhasil melewati dengan baik perubahan tersebut.

Sekolah asrama tersebut menawarkan dua program pelatihan disiplin ilmu bela diri, yaitu wushu sanda dan taekwondo, dimana Saygid menjalani rutinitas hidup yang sangat cocok dengannya – belajar, makan, berlatih, tidur, dan mengulangi semuanya.

“Dikenal dengan sebutan ‘Five Parts of The World’, di tempat tersebutlah perjalanan saya sebagai petarung dimulai. Setelah bergelut dengan olahraga tinju, selanjutnya saya lebih menyukai seni bela diri wushu sanda,” ungkap “Dagi.”

“Tidak ada tindakan bullying di sekolah – Menurut saya, kita tidak punya waktu untuk itu, jadwal yang kami jalani sangatlah padat.”

“Kita berlatih, belajar dan makan bersama. Saya sudah anggap mereka selayaknya saudara kandung, terkadang saya merindukan mereka serta masa-masa itu.”

Awalnya, Saygid adalah seorang pelajar teladan, tetapi pada akhirnya ia mulai membolos sekolah dan prestasinya pun menurun.

Saygid menanggap semangat berkompetisi pada dirinya telah membuatnya mengesampingkan urusan akademik.

Ia berlatih sangat keras demi meraih kemenangan, dan saat menyadari potensinya sebagai petarung sangat besar, ia harus rela mengorbankan studi akademik demi menyempurnakan kemampuannya sebagai atlet.

"Dagi" Arslanaliev's turning up the ???? ahead of his ONE Lightweight World Grand Prix showdown against Amir Khan on 17 May!

Saygid "Dagi" Arslanaliev's turning up the ???? ahead of his ONE Lightweight World Grand Prix showdown against Amir Khan on 17 May!Singapore | 17 May | 7:00PM | Watch on the ONE Super App: http://bit.ly/ONESuperApp | TV: Check local listings for global broadcast | Tickets: http://bit.ly/onedragon19

Posted by ONE Championship on Tuesday, April 30, 2019

“Untuk dua sampai tiga tahun pertama, saya memperoleh nilai akademik yang baik, namun pada akhirnya saya harus memilih untuk fokus sebagai atlet, agar kedepannya saya dapat unggul,” ungkapnya.

“Tentu saja para guru terkadang menyuruh saya untuk berhenti, namun pada akhirnya mereka mau mengerti, karena saya bolos sekolah untuk berpartisipasi dalam sebuah turnamen.”

“Satu-satunya hal yang membuat saya kecewa di sekolah, tentunya ketika kalah dalam pertandingan. Di saat tersebut, saya tahu kesalahan yang saya perbuat, maka saya segera kembali ke sasana, untuk berlatih keras memperbaiki segala kesalahan dan menunggu kesempatan untuk dapat bertanding kembali.”

“Sejauh ini, saya memiliki hubungan yang sangat baik dengan para pelatih.”

Saygid Guseyn Arslanaliev mengatribusikan kesuksesan yang ia peroleh pada pelatih tinju pertamanya, yang dapat mengembangkan bakat dan mendorong dirinya untuk mengejar passion yang ia miliki.

Meski begitu, pengalaman masa mudanya telah memberikan pelajaran hidup yang penting untuk menentukan jalan hidupnya sendiri, disertai oleh semangat dan komitmen tinggi yang membuatnya berkembang menjadi petarung papan atas seperti sekarang.

“Di awal kehidupan [saya], saya paham bahwa pada akhirnya kita sendiri yang bertanggung jawab atas hidup yang kita jalani,” katanya.

“Jadi, jika kalian tidak melakukannya, tidak akan ada yang melakukan hal tersebut demi kalian.”