Bela Diri Campuran

7 Fakta Menarik Tentang Eko Roni Saputra

Eko Roni Saputra akan menghadapi tantangan berat pada Jumat, 9 Oktober, dalam misi besarnya menjadi Juara Dunia Seni Bela Diri Campuran pertama dari Indonesia.

Penguasa berbagai kejuaraan gulat nasional ini akan menghadapi petinju veteran Malaysia Murugan “Wolverine” Silvarajoo dalam laga seni bela diri campuran catch weight 63,5 kilogram pada ajang  ONE: REIGN OF DYNASTIES

Selain membela harkat serta martabat bangsa di tengah rivalitas olahraga abadi kedua negara, laga ini juga menjadi penting bagi lonjakan karier Eko Roni di pentas global. 

Atlet berusia 29 tahun ini bertekad untuk menunjukkan peningkatan kemampuan strikingnya saat menghadapi Juara Tinju F3 tersebut, dan sebelum menyaksikan perjuangannya dalam meraih kemenangan ketiga beruntun, simak beberapa fakta menarik tentang atlet andalan tanah air tersebut.

#1 Tak Terkalahkan Di Indonesia

Memiliki rekor impresif 116-10 dalam gulat gaya bebas, Eko Roni telah merajai tiga edisi Pekan Olahraga Nasional (PON) – ajang olahraga empat tahunan terbesar di Indonesia. 

Lebih hebatnya lagi, ia meraih medali emas perdananya saat masih berusia 17 tahun pada 2008 lalu, yang membuatnya menjadi salah satu atlet termuda dengan raihan prestasi gemilang tersebut.

“Jika mengikuti regulasi saat ini, saya masuknya kategori junior. Namun pada saat itu belum ada peraturan usia minimal,” urai Eko Roni. “Sejak saat itu, saya tak terkalahkan dalam kancah gulat nasional.”  

#2 Menjelajahi Berbagai Negara

Eko Roni harus melewati masa kecil yang sulit, maka seolah menjadi mustahil baginya bahkan untuk bermimpi bisa pergi ke luar negeri. Namun berkat prestasinya dalam olahraga, ia mampu menginjakkan kakinya di berbagai belahan dunia.   

“Saya telah pergi ke berbeagai negara saat mewakili Indonesia, baik itu untuk berkompetisi ataupun training camp,” ungkapnya. “Beberapa negara tersebut termasuk Thailand, Turkmenistan, Filipina, Tiongkok, Rusia, Rumania, Turki, Bulgaria, Korea Selatan, dan Azerbaijan.” 

Seiring dengan misi ONE Championship untuk terus melakukan penetrasi ke berbagai kota ikonis di dunia, maka bukan mustahil kisah pengembaraanya akan semakin panjang.

#3 Tak Bisa Bersahabat Dengan Ular

Saat berada di atas Circle, Eko Roni seolah tak mengenal rasa takut. Namun ada satu lawan yang tak akan mungkin bisa ia hadapi. 

“Saya takut sama ular, tapi bukan berarti takut yang ketika ketemu terus saya teriak. Saat melihat ular, ada perasaan aneh dan geli,” urai Eko Roni tentang rasa takut pada hewan melata yang juga dikenal dengan nama ophidiophobia.  

“Selama masa persiapan jelang Asian Games 2018, tim gulat kami menjalani pelatihan gaya militer seperti Kopassus [Komando Pasukan Khusus.] Kami dikirim ke hutan belantara untuk menguji bagaimana kami bertahan hidup. Salah satu tantangannya adalah menjinakkan ular. Kami ditantang untuk mengusap-usap kepala ular, dan saya hanya diam di pojokkan. Saya enggak mau ambil tes itu.” 



#4 Lekat Dengan Warna Merah

Jika digambarkan dalam satu warna, bisa dibilang merah adalah warna yang tepat untuk menggambarkan kisah hidupnya. 

Eko Roni telah lama berjuang membela tanah air, dan seperti halnya warna dalam Sang Saka Merah Putih, merah berarti berani. Makna tersebut pun terefleksikan dalam hidup Eko Roni. 

“Merah menyimbolkan keberanian dan semangat yang membara. Saya telah mengambil berbagai keputusan berani sepanjang hidup saya, termasuk saat harus keluar dari zona nyaman dan menerima tantangan baru di ONE Championship,” ujarnya.  

“Bukan hal mudah bagi saya untuk meninggalkan kampung halaman dan tinggal di negara baru. Tapi Alhamdulillah, keluarga ada ikut bersama saya, jadi semuanya serasa lebih mudah. Namun saya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.” 

#5 Memiliki Berbagai Julukan

Sepanjang kariernya, Eko Roni telah memenangi berbagai prestasi tingkat nasional dan internasional, dan selama itu pula ada berbagai julukan yang mengiringinya.  

“Saya dulu dijuluki ‘Cheetah’ karena lari saya lebih cepat dari teman-teman yang lain. Saya hanya membutuhkan kurang dari 15 menit untuk mengelilingi lapangan sepuluh putaran,” jelas asal Evolve tersebut.  

“Saat memasuki timnas gulat, teman-teman memanggil saya ‘Pembunuh Berdarah Dingin,’ karena saya telihat kalem tapi mematikan saat di atas matras.” 

Belum lama ini, ia mengumumkan di Instagram bahwa sang pelatih utama Evolve Siyar Bahadurzada telah memberinya julukan “Dynamite” karena daya eksplosif yang ia miliki saat berlaga di atas Cirlce. 

#6 Membeli Ponsel Pertama Dari Hadiah Bertanding

Eko Roni telah mencicipi kompetisi bela diri sejak masih kecil, namun ada satu kenangan yang selalu membekas dalam benaknya saat ia duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP).

“Kala itu, saya sering dapat dispensasi karena sibuk persiapan kompetisi mewakili daerah. Namun semua itu terbayarkan karena saya jadi juara,” tutur atlet asal Samarinda tersebut.  

“Saya ingat menggunakan uang hadiah tersebut untuk memberli handphone karena saya ingin PDKT pada wanita yang saya taksir – Nurdilla Agusta – yang kini jadi istri saya. Saya tak ingat betul tipenya, tapi antara Nokia 3310 atau 3315.”  

#7 Pria Penyayang Keluarga

Bagi Eko Roni, keluarga adalah yang utama. 

Alih-alih menghabiskan uang hasil jerih payahnya untuk kepuasan pribadi, ia lebih memilih untuk memberinya pada sosok terdekat dalam hidupnya.

“Saat masih muda, saya ingin membeli banyak hal – seperti sepatu, game konsol, and lainnya, tapi saat itu saya tidak punya uang,” jelasnya. “Sekarang, bisa dibilang kehidupan saya lebih baik, namun prioritas saya sudah berbeda. Daripada membeli barang mewah, saya memilih untuk kasih uang itu ke istri saya dan ditabung untuk masa depan anak saya.”

Baca juga: Bagaimana Tantangan, Dedikasi Bawa Murugan Silvarajoo Masuk Ke ONE