Bela Diri Campuran

Hadapi Juara Tinju Malaysia, Eko Roni Siap Beradu Striking

Meraih sabuk Juara Dunia ONE Flyweight merupakan mimpi terbesar Eko Roni Saputra, dan sebuah kemenangan pada Jumat, 9 Oktober, akan semakin membuka jalannya. 

Bintang Indonesia tersebut akan berhadapan dengan Juara Tinju F3 Murugan “Wolverine” Silvarajoo dalam laga seni bela diri catch weight 63,5 kilogram dalam ajang ONE: REIGN OF DYNASTIES.

“Saya rasa penting untuk menjaga momentum, dan ini merupakan langkah yang perlu saya ambil demi menjadi penantang Juara Dunia,” urai Eko Roni. 

“Jadi, selangkah demi selangkah. Jika saya sudah berada dalam deretan peringkat teratas, mungkin kekalahan tidak akan jadi masalah besar, karena saya masih akan berada di atas. Namun untuk saat ini, fokus saya adalah memperbaiki peringkat.”

Eko Roni tak terbendung dalam gulat gaya bebas dengan meraih rekor total 116-10 dan merajai berbagai Kejuaraan Gulat Nasional tanpa tersentuh kekalahan selama bertanding dengan sesama atlet dalam negeri. 

Pada penghujung 2018, ia memutuskan untuk beralih menuju seni bela diri campuran dan bergabung dengan Evolve Fight Team di Singapura, tempatnya mengasah kemampuan bela diri lain selain gulat.

Langkah tersebut menuai hasil setelah ia meraih dua kemenangan dominan pada ronde pertama atas Kaji Ebin lewat TKO dan Khon Sichan lewat kuncian.

Kini, atlet kelahiran Samarinda tersebut mendapat tugas untuk menghadapi petinju berpengalaman asal Malaysia yang tengah meraih kemenangan beruntun dalam tiga laga terakhirnya. Selain itu, lawannya memiliki keunggulan tinggi 7 sentimeter.



Selama masa persiapan jelang laga berat tersebut,  Eko Roni telah mengembangkan strategi bersama pelatih utama Evolve Siyar Bahadurzada. Ia mengaku tak gentar beradu striking dengan Juara Tinju Malaysia tersebut. 

“Kita akan memulai laga dalam posisi berdiri, jadi akan saling menyerang,” terang Eko Roni. “Coach Siyar mengatakan kemampuan striking saya sudah berkembang, dan mungkin akan saya tunjukkan nanti.”

“Namun jika tidak berjalan sesuai rencana, saya akan mencoba membawanya ke ground karena bagaimanapun saya adalah pegulat yang lebih berbahaya saat berlaga di bawah. Tapi tetap saja saya harus waspada. Jika tidak, saya malah yang kena pukulan dan kalah KO. Jadi saya perlu hati-hati dan bisa membaca situasi.”

Meski gulat telah mendarah daging, Eko Roni tak bisa berlatih maksimal dalam disiplin tersebut selama beberapa bulan terakhir. 

Hal ini karena peraturan ketat pemerintah Singapura yang tidak memperbolehkan adanya sesi grappling di sarana olahraga demi mengurangi resiko penularan COVID-19.

Meskipun hal tersebut membuat persiapannya tidak ideal, Eko Roni percaya pengalaman serta jam terbangnya dalam membela tanah air akan membantunya mengatasi rintangan.

“Gulat telah ada dalam DNA saya, jadi saya rasa tinggal berfokus pada apa yang bisa saya lakukan,” tuturnya.

“Saya perlu berfikir positif dan istikamah. Saya telah belajar dari laga pertama saya tentang memegang kendali usai menjatuhkan lawan. Saya telah belajar dari pengalaman untuk tetap tenang dan membaca pertandingan.”

Eko Roni mengaku banyak membaca komentar di media sosial yang menganggap kemampuannya terlalu bergantung pada gulat dan kurang bisa menunjukkan kemampuan striking. 

Terpicu oleh kritikan tersebut, ia ingin membuktikan sesuatu di ONE: REIGN OF DYNASTIES dengan mengalahkan seorang petinju kawakan lewat cara yang justru menjadi keunggulan lawannya.

“Jika saya bisa menang dalam duel atas, maka itu akan terasa luar biasa,” urai juara gulat tersebut.

“Kemenangan terakhir saya [atas Khon Sichan] diraih lewat submission, dan saya membaca berbagai komentar di media sosial bahwa hal itu biasa saja karena saya memang pegulat. Nampaknya, menang cepat saja tidak cukup di mata netizen.”

Sebuah kemenangan KO spektakuler tentu akan membungkam pengkritiknya, sekaligus memantapkan langkah Eko Roni menjadi seorang Juara Dunia Seni Bela Diri Campuran pertama dari Indonesia.

Baca juga: KO Terbaik Dari Para Bintang ONE: REIGN OF DYNASTIES