Fitur

3 Kisah Laga Penebusan Terbaik Dalam ONE Championship

24 Agu 2019

Saat para pahlawan olahraga terbaik terkalahkan, mereka segera bangkit.

Beberapa Juara Dunia paling sukses dan terpopuler dalam “The Home Of Martial Arts” sempat gagal saat mereka pertama kali berlaga demi sabuk emas, tetapi mereka tidak pernah menyerah.

Melalui kerja keras dan determinasi tinggi, mereka mendapatkan kesempatan kedua meraih kejayaan dan tidak membuang kesempatan untuk mencetak sejarah tersebut.

Berikut adalah kisah laga penebusan terbaik dalam ONE Championship.

#1 Martin Nguyen Vs. Marat Gafurov

Menurut pengakuannya, Martin “The Situ-Asian” Nguyen tidak siap meraih posisi tertinggi saat ia menghadapi Marat “Cobra” Gafurov.

Ia dipanggil pada menit-menit terakhir untuk sebuah laga perebutan gelar Juara Dunia Interim ONE Featherweight pada bulan September 2015, dan dipermalukan dengan sebuah kuncian rear-naked choke hanya dalam waktu 41 detik. Atlet keturunan Vietnam-Australia ini sangat kecewa, tetapi ia tidak hancur.

Kekalahan itu hanya memperkuat keteguhan hati Martin untuk menjadi lebih baik.

Ia menetapkan langkahnya satu demi satu dan mengembangkan dirinya setiap kali mengalahkan penantang yang berada diatasnya dalam divisi featherweight untuk mendapatkan sebuah pertandingan ulang dengan rivalnya asal Rusia itu.

Dua tahun kemudian, ia berhasil menaklukkan tantangan dimana sebelumnya ia gagal. Tidak hanya ia mementahkan percobaan submission dari Marat, kali ini ia menjatuhkan lawannya dengan sebuah KO yang spektakuler untuk menjadi Juara Dunia ONE Featherweight.

#2 Joshua Pacio Vs. Yoshitaka Naito

Sebuah contoh lainnya dari pejuang muda yang harus menghadapi lawan berpengalaman, Joshua “The Passion” Pacio harus mengakui kelas lawannya saat pertama kali menjalani perebutan gelar Juara Dunia ONE Strawweight bulan Oktober 2016.

Keahlian jiu-jitsu milik Yoshitaka “Nobita” Naito memang lebih unggul, dan atlet Jepang ini memaksa Joshua untuk menyerah saat ia menyarangkan sebuah kuncian rear-naked choke yang tak diduganya.

Kesedihan Joshua memang sangat terlihat di dalam Circle, tetapi segera ia kembali berlatih bersama Team Lakay di Baguio, ia menggandakan usahanya untuk menjadi seniman bela diri campuran yang lengkap.

Ia adalah pria yang berbeda saat kembali menantang Yoshitaka dua tahun kemudian – atlet yang lebih baik dalam tiap segi dari seni bela diri campuran. “Nobita” tidak memiliki jawaban untuk serangan beruntun tanpa henti dari “The Passion,” yang akhirnya mengangkat tangan setelah keputusan mutlak dari para juri.

#3 Aung La N Sang Vs. Vitaly Bigdash

Pahlawan bela diri asal Myanmar Aung La “The Burmese Python” N Sang tidak sedikitpun menangis saat ia kalah melalui sebuah keputusan mutlak dari Vitaly Bigdash.

Mukanya dipenuhi dengan luka bekas pertempuran setelah menghabiskan lima ronde untuk menghadapi serangan atlet Rusia tersebut, tetapi saat dirinya melihat Juara Dunia ONE Middleweight pada saat itu mengenakan sabuk emas, ia bersumpah untuk meraih sukses – dimana ia tidak harus menunggu lama.

Kurang dari enam bulan kemudian, ia mendapatkan kesempatannya, dan berubah menjadi seperti seorang manusia yang baru dilahirkan kembali. Aung La N Sang maju dengan serangan keras dan menjatuhkan lawannya dengan pukulan dahsyat.

Namun, Vitaly mampu bangkit untuk membalas dengan serangan yang memberinya kemenangan pertama atas Aung La. Meski atlet Rusia ini mampu menyerang dengan keras, Aung La nampak mampu bertahan dengan baik dan membalas.

Setelah 25 menit, “The Burmese Python” meraih kemenangan melalui keputusan juri di depan para penggemarnya di Yangon. Inilah saat ia menangis, tetapi tangisan tersebut adalah tangis kebahagiaan.