Muay Thai

Petchmorakot: ‘Gelar Ini Harus Tetap Bersama Masyarakat Thailand’

Hanya setelah dua tahun mengejar laga impiannya, Petchmorakot Petchyindee Academy akhirnya akan mendapatkan kesempatan berlaga di dalam perebutan gelar Juara Dunia ONE Super Series dalam laga utama ONE: WARRIORS CODE.

Pada hari Jumat, 7 Februari, atlet berusia 26 tahun asal Thailand ini akan menghadapi Jamal “Kherow” Yusupov demi gelar Juara Dunia ONE Featherweight Muay Thai perdana di Jakarta, Indonesia.

Setelah berlaga dalam ”seni delapan tungkai” sejak kecil, pria asal Ubon Ratchathani ini bersemangat merebut gelar tertinggi dalam olahraga itu di Istora Senayan, demi membanggakan rekan senegaranya dan mengubah kehidupannya untuk selamanya.

“Itu sangat penting bagi saya. Gelar Muay Thai ini harus tetap berada bersama masyarakat Thailand, dan sabuk ini adalah mimpi saya. Ini akan membawa kehormatan bagi diri saya, keluarga saya dan sasana saya,” sebutnya.

“Terdapat banyak hal terkait laga ini. Kemenangan akan membawa kemajuan bagi penghidupan keluarga saya. Sudah ada tanah yang menunggu di Ubon, dan jika saya menang, saya akan membangun rumah bagi diri saya, serta istri dan anak-anak saya supaya saya memiliki tempat untuk tinggal saat saya pensiun nanti.”

Tidaklah mengejutkan bahwa Petchmorakot terpilih menjadi bagian dari laga bersejarah ini, karena ia memiliki catatan rekor 158-35-2, empat gelar Juara Dunia, serta penampilan luar biasa di bawah peraturan Muay Thai di “The Home Of Martial Arts.”

Ia memastikan hal ini bulan November lalu dengan cara luar biasa, ketika setelah ronde pertama yang tentatif ia meningkatkan serangan pada ronde kedua untuk mencetak KO atas atlet Inggris Charlie Peters dengan sebuah serangan lutut ke arah tubuh.

Namun, mungkin tidak ada penyelesaian yang lebih besar tahun lalu saat Jamal Yusupov mencetak KO atas Yodsanklai IWE Fairtex hanya satu minggu sebelumnya. Atlet Rusia itu menjalani debutnya bersama ONE dengan pemberitahuan singkat, namun masih mampu mencetak KO besar.



Itu adalah pertama kalinya “The Boxing Computer” dihentikan setelah hampir 15 tahun, dan dunia pun terkejut, termasuk Petchmorakot.

“Saya menyaksikan laga itu secara langsung melalui aplikasi ONE Championship. Saat itu, saya tidak mengetahui kita akan berlaga, namun saya mengira bahwa setelah mengalahkan Yodsanklai, kita berdua pada akhirnya akan bertemu,” katanya.

“Saya sangat terkejut bahwa ia berhasil mencetak KO atas Yodsanklai. Saya tidak pernah melihatnya terkena KO sebelumnya. Ia [Jamal Yusupov] adalah petarung berbahaya.”

Setelah mengejutkan dunia bela diri dengan pencapaian itu, Jamal ingin mengincar pembuktian bahwa kesuksesannya bukanlah hal yang tak disengaja, namun Petchmorakot memiliki determinasi tinggi untuk menebus kekalahan Thailand.

Atlet Rusia itu mungkin memiliki pukulan kuat, namun atlet berusia 25 tahun asal Bangkok itu tidak meragukan bahwa laga lima ronde ini akan memberinya keunggulan tersendiri.

Petchmorakot Petchyindee Academy defeats Charlie Peters at ONE EDGE OF GREATNESS

“Saya tidak merasa ini akan menjadi laga sulit bagi saya – saya hanya harus bertahan melawan pukulannya,” katanya.

“Seluruh permainan saya secara keseluruhan akan dengan mudah mengalahkannya. Saya rasa karena usianya, lima ronde juga akan menjadi lebih sulit bagi dirinya. Rencana saya adalah untuk meningkatkan ritme dalam tiga ronde terakhir.”

“Keuntungan terbesar saya adalah untuk berlaga di bawah peraturan Muay Thai. Ia juga tidak bagus dalam clinch. Saya akan menjadi lebih baik di situ. Tujuan saya adalah untuk menang KO.”

Walau ia memiliki keyakinan penuh, Petchmorakot tidak memenangkan serangkaian gelar Juara Dunia sebelum bergabung di atas panggung dunia dengan cara meremehkan seluruh lawannya.

Ia memiliki sebuah game plan dan berlatih jauh lebih keras dari biasanya untuk dapat melakukan itu – menggunakan metode klasik dari Thailand dan fasilitas kelas dunia di sasana Petchyindee Academy untuk memberi para fans penampilan terbaiknya.

“Pukulannya sangat berbahaya, saya tidak boleh ceroboh,” sebutnya.

“Kami akan berlaga dengan sarung tangan kecil, namun saya tidak takut karena saya memiliki sikutan untuk serangan balasan. Tentunya, saya sangat yakin dengan laga ini, 100 persen. Saya ingin membuatnya menarik, meningkatkan ritme dan tidak membiarkannya bernafas.”