Eko Roni Yakin Ada Ujian Hebat Yang Menantinya Di Dalam Circle

Eko Roni Saputra supports Global Citizen in the winner's circle in February 2020

Setelah satu tahun berkiprah di ONE Championship, Eko Roni Saputra mulai meraba peta persaingan di kelas flyweight – yang ia gambarkan sebagai divisi “paling sengit.”

Juara gulat nasional yang tak terkalahkan di Indonesia ini tengah dalam kondisi moral yang tinggi usai mencatatkan dua kemenangan beruntun di “The Home Of Martial Arts,” termasuk sebuah hasil meyakinkan atas Khon Sichan lewat kuncian rear-naked choke pada ronde pertama dalam ajang ONE: WARRIOR’S CODE.

Raihan tersebut membuka peluangnya untuk menjadi penantang gelar, namun ia pun merasa ada anak tangga yang harus ia tapaki satu persatu demi berada di puncak.

https://www.instagram.com/p/B-lK80Zj4sj/

Kini, Eko Roni mengincar kesempatan untuk menguji para atlet terbaik di divisinya demi mengetahui sejauh mana ia bisa melangkah.

Salah satu nama yang ia percaya bisa meningkatkan nama serta kemampuannya adalah atlet asal India Gurdarshan “Saint Lion” Mangat, yang sempat mengalahkan salah satu atlet terbaik dari Indonesia Abro “The Black Komodo” Fernandes.

“Saya merasa tertantang, karena saya pernah melihat ketajaman serangan lututnya,” tutur Eko Roni.



Sama seperti Eko Roni, Mangat pun telah mencatatkan tiga laga bersama ONE Championship, dengan raihan dua kemenangan.

Secara total, Mangat telah bertanding sebanyak 18 kali dalam ranah seni bela diri campuran profesional dan mengoleksi 15 kemenangan. 10 dari kemenangan tersebut ia raih lewat penyelesaian.

Serangan lutut atlet berusia 33 tahun tersebut memang berbahaya, seperti yang ia tunjukkan saat menghadapi Toni “Dynamite” Tauru dalam laga debut promosionalnya di Circle ONE Championship pada bulan Maret tahun lalu.

Terjangan lutut “Saint Lion” melemahkan pertahanan Tauru sebelum serangkaian pukulan yang ia layangkan memaksa wasit menghentikan laga dan memberikan kemenangan bagi atlet asal India tersebut pada ronde ke dua.

“Saya merasa lebih tertantang saat menghadapi lawan yang berat, karena saya rasa, saya pun sudah mulai memahami teknik seni bela diri campuran. Makanya saya terus asah dan dalami,” ungkap Eko Roni.

https://www.instagram.com/p/B-a-AgSFjmM/

Meski kini intensitas latihan yang ia jalani mengalami penurunan karena wabah COVID-19 yang melanda berbagai negara, termasuk Singapura tempatnya tinggal saat ini, Eko Roni berusaha menjaga kondisi fisik dengan tetap berlatih mandiri di rumah.

Apalagi, ia sempat mendapat kabar akan menjalani laga dalam waktu dekat, sebelum ONE memutuskan untuk menunda beberapa ajang ke depan demi pertimbangan kesehatan dan keselamatan.

“Saya sempat memprediksi akan tampil dalam waktu dekat dan rasanya jadwal sudah disiapkan oleh ONE. Itulah sebabnya saya terus bersiap menjaga kondisi dan tetap mengontrol berat badan,” ungkapnya.

“Saya siap kembali berlaga dan memprediksi bisa bertemu [Mangat] dalam waktu dekat. Saya saksikan saat dia bertemu [Reece] McLaren dan dia memang mengandalkan striking lewat pukulan dan tendangannya.”

“Jika bertemu Mangat, kemungkinan saya akan mengandalkan grappling seperti McLaren. Dan dia bisa menang lewat rear-naked choke.

“Ini akan jadi laga klasik antara grappler lawan striker.”

Eko Roni Saputra defeats Khon Sichan ONE WARRIORS CODE DC 1770.jpg

Eko Roni bersyukur bisa berada dalam tim yang dipenuhi oleh Juara Dunia dan dibimbing oleh pelatih berpengalaman di Negeri Singa. Hal tersebut memberinya peluang untuk terus mengembangkan diri dan menjadi seorang atlet well-rounded yang berbahaya ketika berduel atas maupun bawah.

“Saya banyak memantapkan striking bersama coach Drian [Fransisco] dan mencoba mendalami beberapa teknik. Bagaimanapun, sebelum bisa masuk untuk takedown, tetap harus ada pancingan lewat striking dulu.”

“Makanya ada perbedaan dalam laga pertama dan ketiga saya di ONE. Dalam laga terakhir, saya banyak melayangkan elbow [sikut].”

“Begitupun coach Yar [Siyar Bahadurzada] yang memang memiliki spesialisasi dalam elbow. Ada banyak tahapan yang saya pelajari tentang melayangkan striking. Karena lawan selalu bergerak dinamis, jadi penempatan serangan pun harus tepat entah ke kepala atau ke badan.”

Begitupun dengan keberadaan rekan satu tim yang suportif dan saling membantu dalam latihan, seperti Sam-A Gaiyanghadao dan Nong-O Gaiyanghadao, Juara Dunia Muay Thai yang turut berperan dalam peningkatan kemampuan striking atlet kelahiran Samarinda, Kalimantan Timur ini.

“Saya senang bertemu lawan yang mengandalkan striking seperti Mangat. Karena di sini juga banyak rekan tanding yang ahli dalam striking. Tentu saya akan layani dengan striking juga, dan kita mungkin akan banyak adu striking,” jelas atlet berusia 28 tahun ini.

“Saat latihan dengan Sam-A dan Nong-O, mereka selalu meminta kita untuk menendang dan memukul yang kuat. Kalau kita nendang pelan, justru mereka enggak suka. Kami lebih suka dipukul kencang, jadi sudah siap [saat berlaga.]”

“Selain itu, mau tidak mau kita harus bisa striking, karena laga diawali dengan adu striking.”

Sebuah kemenangan atas atlet sekaliber Mangat jelas akan meningkatkan reputasi Eko Roni, dan menerangi jalannya dalam menuju puncak tangga.

Oleh sebab itu, Eko Roni sangat menantikan kesempatan tersebut.

“Siapapun yang dihadapkan dengan saya selanjutnya pasti akan saya hadapi, tapi pada akhirnya, tantangan terbesar saya adalah menghadapi Geje [Eustaquio],” ungkap Eko Roni.

“Dia adalah mantan pemegang sabuk juara [flyweight,] sehingga akan menjadi ujian yang tepat apakah saya layak menjadi kontender serius.”

Eko Roni Saputra at ONE DAWN OF VALOR DC IMGL6983.jpg

Eustaquio adalah salah satu atlet terbaik yang ada di divisi flyweight. Petarung Filipina asal Team Lakay ini telah mencatatkan 13 laga di pentas global ONE Championship dengan raihan delapan kemenangan – hanya ada tiga atlet yang memiliki catatan lebih baik.

Ia memegang sabuk emas pada tahun 2018 lalu sebelum berpindah tangan ke Adriano “Mikinho” Moraes, yang merupakan raja flyweight dari tahun 2019 hingga saat ini.

Eko Roni juga memiliki modal lebih jika dihadapkan pada atlet asal Filipina tersebut, karena salah satu rekan satu timnya di Evolve MMA, Kim Kyu Sung, pernah berhadapan dengan Eustaquio pada bulan Mei lalu selama tiga ronde. Pengalaman serta pengetahuan yang Kim dapatkan dari laga tersebut bisa menjadi modal bagi Eko Roni.

“Dia pernah ketemu Kim yang menjadi rekan satu tim saya. Saya rasa kemampuan ground saya lebih unggul darinya, karena dia memang memiliki dasar yang kuat dalam wushu dan striking.”

“Jika mampu menang, maka peringkat saya akan naik.”

Baca juga: Mike Ikilei Ungkap Mengapa Stefer Rahardian Patut Dicontoh Atlet Muda

Selengkapnya di Bela Diri Campuran

Elbek Alyshov celebrates after capturing the ONE Bantamweight MMA World Championship at The Inner Circle 24.
MMA stars Enkh-Orgil Baatarkhuu and Elbek Alyshov face off ahead of The Inner Circle 24
Enkh Orgil Baatarkhuu (L) faces off with Elbek Alyshov (R) before The Inner Circle 24
Enkh Orgil
Johan Ghazali and Ramadan Ondash had to be separated ahead of The Inner Circle 24
Sam-A Gaiyanghadao faces off with Aliff Sor Dechapan ahead of The Inner Circle 23
Muay Thai fighter Luke Lessei kicks Mohamed Younes Rabah
Jonathan Di Bella and Zhang Peimian face off ahead of their ONE Strawweight Kickboxing World Title rematch
Zhang Peimian Jonathan Di Bella ONE162 1920X1280 47
Petsiam Jor Patreeyakelasiamsurin punches Ryuki Matsuda at ONE Friday Fights 130
Joshua Pacio celebrates his ONE World Title victory over Mansur Malachiev at The Inner Circle 21
Shozo Isojima punches Eduard Folayang at The Inner Circle 21