Fitur

Hari Ini 5 Tahun Silam: Stefer Rahardian Jalani Debut Profesional

Berada di barisan terdepan atlet Indonesia yang tampil di panggung dunia ONE Championship nampak seperti mimpi yang menjadi nyata bagi Stefer “The Lion” Rahardian.

Hari-harinya sempat berisi pilu ketika sebuah cedera mendera lututnya. Rasa putus asa terasa kian dekat menghampirinya dan suara sumbang yang menganggap kariernya sudah habis kerap terdengar.

Namun, pemilik sabuk cokelat Brazilian Jiu-Jitsu ini memilih untuk tidak meratapi nasib dan menulis lembaran kisah selanjutnya dengan penuh optimisme.

Semangat Stefer "The Lion" Rahardian 🦁untuk meraih mimpi menjadi kebanggaan Indonesia 🇮🇩

Kesulitan hidup tidak menyurutkan semangat Stefer "The Lion" Rahardian 🦁 untuk meraih mimpi menjadi kebanggaan Indonesia. 🇮🇩🇮🇩Download the ONE Super App sekarang 👉 http://bit.ly/ONESuperApp

Posted by ONE Championship Indonesia on Wednesday, August 28, 2019

Ketika datang sebuah kesempatan untuk menunjukkan kemampuan dalam ranah seni bela diri campuran, “The Lion” tidak menyia-nyiakannya.

Ia segera mempersiapkan diri untuk berlaga dalam ajang XCC, sebuah perhelatan seni bela diri campuran tingkat nasional yang mempertemukan beberapa atlet terbaik dalam negeri pada masanya.

Hari itu, 12 April 2015, Stefer menjalani debut dengan menghadapi Suwardi, seorang atlet berpengalaman yang juga mantan pemegang sabuk juara nasional.

Laga tersebut dikenang sebagai sebuah momentum dalam karier bela diri Stefer dan menjadi jejak pertamanya di atas arena bela diri campuran profesional. Saat itu, Stefer tengah berlatih di Jakarta MMA, di bawah bimbingan Andrew Leone dan rekan tanding lain seperti Mario Satya Wirawan.

“Bagi saya, laga itu adalah jalan pembuka karier seni bela diri campuran dan juga membuka pintu prestasi lainnya. Dulu, saya baru sembuh dari cedera, sehingga harus berjuang berat dalam latihan termasuk menurunkan berat badan,” tutur Stefer.

“Saya bertemu dengan Suwardi, dan bagi saya itu adalah sebuah kesempatan besar.”



Saat menjalani masa cedera, Stefer tentu tidak bisa menjalani latihan rutin seperti biasa. Dan selama sekitar lima bulan masa persiapan, Stefer harus menurunkan berat badan kurang lebih seberat 20 kilogram.

Cedera adalah hal yang tak diiginkan atlet manapun, namun Stefer menolak situasi yang ada menghentikan mimpinya. Baginya, itu adalah bagian dari risiko dan kenyataan yang harus ia hadapi.

“Sebenarnya, enggak banyak orang yang percaya saya bisa balik lagi, karena cedera lutut itu mengerikan. Tapi Andrew [Leone] percaya terhadap saya. Akhirnya, lewat ajang XCC itu, terbuka lebar kesempatan saya,” ucap Stefer.

“Rasanya sulit digambarkan dengan kata-kata.”

Menurut Stefer, lawan yang ia hadapi saat itu memiliki jam terbang yang tinggi.

Baginya, ia adalah non-unggulan, dan bersyukur bisa membalikkan prediksi dengan memenangi laga lewat teknik rear-naked choke pada ronde kedua.

“Sebenarnya, sudah banyak yang mengenal Suwardi. Sementara, yang tahu saya pada saat itu baru segelintir. Dia lebih berpengalaman, dan sudah latihan Brazilian Jiu-Jitsu lebih dulu dari saya,” tutur Stefer.

“Pengalaman dia luar biasa, dan setahu saya dia juga sudah sering tampil dalam ajang seni bela diri campuran di luar Jakarta.”

“Namun karena saya sendiri ingin melangkah jauh, saya harus ambil kesempatan itu. Dan ini kini jadi jalan saya.”

Apalagi, pengalaman Stefer dalam kancah nasional pun masih terbatas. Ia bukan atlet yang lahir dari program pelatnas dan tak memiliki privilese untuk memilih.

Stefer selalu memendam mimpi untuk menjadi seorang atlet sejak berusia remaja, namun keadaan ekonomi tidak mengizinkan dirinya untuk terfokus mengejar pendidikan olahraga dan mengejar karier sebagai atlet.

Ada tanggung jawab dalam keluarga yang harus ia jalani, dan itu berarti, ia harus serius mengejar pendidikan formal demi mendapatkan pekerjaan kantoran seperti harapan sang ibunda – sosok semata wayang yang telah banyak berkorban demi kesuksesan sang anak.

Kemenangan dalam debut tersebut menandai awal dari kebangkitan Stefer dan ia seperti terlahir kembali.

“Kalau boleh cerita, saat itu saya benar-benar mencoba menutupi kekurangan.”

“Saya memang bisa grappling, tapi lawan saya lebih berpengalaman. Andrew mengatakan bahwa saya harus belajar tinju untuk merancang takedown, karena lawan saya ini licin dan dan bisa melakukan kuncian dari sudut tak terduga.

“Dia mengancam saya pada awal ronde lewat triangle dan armbar, tapi Alhamdulillah saya bisa lolos. Akhirnya, pada ronde kedua, saya menaikan agresivitas dan tekanan hingga akhirnya perlahan mendapat posisi backmount untuk menerapkan kuncian.”

Baca juga: Menggambar Jadi Bakat Terpendam Aziz Calim Di Luar Arena Bela Diri

Ikuti perkembangannya

Bawa ONE Championship kemana pun anda pergi! Daftarkan diri untuk mendapatkan akses ke berita terbaru, berbagai tawaran spesial dan kursi terbaik dalam gelaran langsung kami.
Dengan mengirimkan formulir ini, anda menyetujui pengumpulan, penggunaan dan pembukaan informasi anda berdasarkan Privacy Policy kami. Anda dapat membatalkan (unsubscribe) dari jenis komunikasi ini kapan saja.