Fitur

Seni Bela Diri Tuntun Stefer Rahardian Taklukkan Kesulitan Luar Biasa

16 Desember 2017

Stefer Rahardian melewati gang kecil nan sempit di sebuah perkampungan di Jakarta Pusat, dimana ia menghabiskan hari-harinya sejak berusia lima tahun.

Beberapa anak pun memanggil namanya, “Eppen” – sebuah panggilan akrab yang diambil dari nama pertamanya – sementara para tetangga asik berbincang di beranda rumah sederhana mereka saat adzan maghrib berkumandang.

“Dulu, ini merupakan lingkungan yang keras bagi masa kecil saya,” kenang pria berusia 31-tahun ini.

“Para pemuda mabuk di depan pintu rumah anda. Saat itu, narkoba dan gangster juga ada. Sekarang, ada beberapa rumah bagus dan sudah lebih aman.”

Saat ia bertumbuh dewasa, berbagai masalah nampaknya tidak ingin menjauh dari Stefer. Ayah dan ibunya berpisah 20 tahun lalu, saat perceraian masih dianggap tabu. Hal ini pun ditambah dengan meninggalnya sang kakak tidak lama setelahnya.

Seolah tidak cukup mengalami trauma berat, Stefer pun harus kehilangan 90 perak uang sakunya setiap hari, yang terpaksa ia serahkan pada pemalak. Sebagai seorang muslim yang taat di sebuah sekolah swasta dan perawakannya yang kecil, Stefer menjadi target yang mudah diincar – sampai akhirnya ia memutuskan untuk melawan.

“Dari hari ke hari, bulan ke bulan, saya sadar jika saya tidak melawan, maka akan sulit bagi saya untuk pergi ke sekolah,” jelasnya.

“Di sekolah saya ada banyak anak lelaki keturunan Ambon dan Papua. Mereka [berbadan] besar. Dalam hati saya berujar, ‘Besok, saya harus melawan.'”

Stefer memberanikan diri melawan perundungnya. Ia menantang anak dengan tubuh yang paling besar, dan baku hantam singkat tak karuan pun terjadi, sebelum akhirnya dilerai oleh gurunya. Stefer pun tidak pernah diganggu lagi sejak saat itu.

Tetapi bukan  insiden itu yang memberi bintang asal Indonesia inspirasi ini untuk terjun ke dalam dunia bela diri. Ia menginjakan kakinya diatas kanvas setelah seorang teman baiknya mengajaknya berlatih Brazilian Jiu-Jitsu (BJJ) pada tahun 2008. Stefer pun jatuh hati pada disiplin tersebut.

Bekerja penuh waktu sebagai office boy di Jakarta, grappler muda ini menerobos kemacetan Jakarta untuk berlatih selama 2 jam setiap harinya, dimana ia menghabiskan sebagian besar gajinya untuk membiayai latihan. Saat itu, perkembangannya belum secepat saat ini.

“[Pada] turnamen pertama, saya kalah. Yang kedua, saya kalah. Tetapi saya tidak mau menyerah. Saya pikir saya hanya butuh satu kemenangan. Saya perlu memastikan bahwa waktu saya [untuk latihan] tidak terbuang sia-sia,” kenangnya.

“Pada turnamen ke-empat, saya [meraih] posisi kedua. Sejak saat itu saya mulai ketagihan memenangkan medali.”

Tetapi kenyataan berkata lain. Pada tahun 2011, lawan uji tanding Stefer jatuh dan menimpa kaki kanannya, merobek ligamen lutut anterior, atau ACL. Stefer harus menerima kenyataan bahwa ia tidak dapat berlatih dan bertanding lagi.

Terlebih lagi, ia pun tidak dapat bekerja saat harus memikirkan biaya operasi yang memakan biaya lebih dari 3.700 dolar Amerika Serikat. Saat itu, mimpinya pun terhenti sesaat.

“Saya harus menyembuhkan [cedera ACL], tetapi saya tidak memiliki uang,” kenangnya.

Untungnya, sasana tempatnya berlatih rela meminjamkan uang yang harus dibayarnya saat ia kembali bekerja. “The Lion” pun menjalani operasi di Surabaya karena mempertimbangkan biaya yang lebih murah.

Sayangnya, takdir berkata lain dan operasi tersebut dinyatakan gagal. Satu tahun menginjak masa pemulihan, sekrup yang digunakan menopang cederanya keluar dari tempat semestinya dan mengambang di area lututnya. Ia pun harus meminjam uang lebih banyak dan kali ini ia memilih dokter lain untuk menangani operasinya.

Pada saat yang sama, banyak orang telah kehilangan keyakinan dan menanggap karirnya telah usai.

“Tidak ada yang ingin berlatih dengan saya,” Stefer mengenang saat menyedihkan itu. “Mereka berpikir bahwa saya sudah selesai.”

Stefer, yang memang tidak pernah menyerah untuk keluar dari berbagai kemalangan yang melandanya, menemukan titik balik saat ia bertemu dengan Andrew Leone.

Pada tahun 2013, kandidat kuat peraih gelar Juara Dunia ONE Flyweight ini memantapkan kemampuan Muay Thai dan BJJ-nya di Jakarta Muay Thai & MMA, dan ia merasa cocok bekerjasama dengan atlet kelas dunia ini. Mereka berdua pun berlatih bersama sejak saat itu.

“Saya tidak ingin mengecewakan Andrew (Leone). Saya memberikan 100 persen,” ujar atlet andalan Indonesia ini.

“Saya pikir, dia mempercayai saya.”

Ternyata memang kepercayaan dan persahabatan keduanya semakin berkembang. Stefer, yang membagi waktunya untuk berlatih di Jakarta dan Bali MMA, mengikuti jejak sahabatnya ini untuk terjun kedalam arena dan mulai berjuang demi kesuksesan.

Atlet kelahiran Jakarta ini menjalani debut profesionalnya pada tahun 2015, dimana ia meraih beberapa kemenangan cepat sebelum mengalami lonjakan dalam karirnya. Hampir satu tahun kemudian, pada bulan Agustus 2016, ia merajai Turnamen ONE Flyweight Indonesia dengan mengalahkan beberapa petarung dalam satu malam, dimana salah satu pencapaiannya adalah meraih kemenangan melalui kuncian rear-naked-choke di bawah dua menit.

Ia pun melanjutkan usahanya untuk meraih kemenangan setelah bergabung dengan ONE Championship, dan ia mampu mencatat kemenangan besar bulan September lalu dalam gelaran ONE: TOTAL VICTORY.

Berlangsung di Jakarta Convention Center, grappler kelas dunia ini dengan mudah menyeret Sim Bunsrun dari Kamboja ke atas kanvas dan melayangkan pukulan dari posisi dominan. Saat Sim berusaha melepaskan diri dan bergeser ke samping, “The Lion” mendapat celah dan meraih kuncian rear-naked choke sebelum memaksa lawannya menyerah dalam waktu 67 detik.

Saat ini tak terkalahkan dan membawa rekor profesional 7-0, Stefer memiliki potensi besar menjadi pahlawan bela diri campuran Indonesia. Meski demikian, ia tetap terfokus pada setiap tahapan yang harus ia jalani.

“Saya hanya ingin terus berkembang dan tetap bergerak maju,” jawabnya singkat.

Saat ia berjalan kembali melalui gang sempit di Jakarta, bintang bela diri baru ini terus teringat dengan apa yang ia alami. Tetapi, seluruh pengalamannya ini tidak menjatuhkannya, tetapi membuatnya semakin bersemangat. Saat ia melihat ke sekelilingnya, ia bisa menatap masa depan yang cerah.