Gaya Hidup

Makanan Khas Indonesia Di Mata Beberapa Atlet ONE Championship

18 Jun 2019

Dengan lebih dari 17.000 pulau, Indonesia adalah sebuah negara yang kaya akan warisan budaya, termasuk seni bela diri tradisional dan makanan khas daerah yang memiliki kaitan kuat dengan sejarah bangsa ini.

Menurut ilmu tata boga, atau gastronomi, yang mengkaji tentang kaitan makanan dan budaya, makanan tradisional dipercaya sebagai produk dari budaya setempat. Sajian makanan tradisional memiliki kaitan erat dengan kondisi alam sebuah daerah, maupun tradisi turun temurun di lokasi tersebut.

Oleh karena Indonesia memiliki berbagai kondisi alam serta budaya yang berbeda di tiap daerahnya, makanan tradisional Indonesia pun sangat beragam.

Terkait dengan hal ini, dua atlet bela diri campuran (MMA) unggulan asal Indonesia, Priscilla “Thathie” Hertati Lumban Gaol dan Eko Roni Saputra, berbagi cerita tentang makanan khas dari daerah asal mereka.

Priscilla, yang berdarah Batak, menyarankan sebuah hidangan bernama Dengke Mas Na Niura, atau yang juga dikenal sebagai Ikan Mas Na Niura.

“Ikan Mas Na Niura adalah makanan tradisional khas Batak yang berasal dari Tapanuli [Sumatera Utara],” ungkap Priscilla.

Dalam bahasa aslinya, Na Niura berarti ikan yang tidak dimasak. Ikan ini tidak disajikan setelah dimasak, direbus, digoreng ataupun semacamnya, tetapi disajikan mentah dengan bumbu yang lengkap sehingga rasanya dianggap lebih enak.

Bumbu inilah yang membuat ikan tersebut menjadi masak.

“Banyak yang belum mengetahui resep makanan ini. Jadi saya rasa, tiap orang harus mencobanya minimal sekali,” kata atlet berusia 32 tahun ini.

“Dulu, masakan ini dikhususkan untuk para raja [Batak] saja.”

“Tetapi, karena rasanya yang lezat, semua orang Batak lalu ingin membuat dan menyantapnya.”

Sementara bagi Eko Roni Saputra yang lahir dan besar di Samarinda, Kalimantan Timur, makanan yang memiliki ikatan kental dengan warga sekitar adalah Nasi Kuning Samarina, yang memiliki ciri khas tersendiri dibandingkan dengan nasi kuning yang terdapat di berbagai daerah lain di Indonesia.

“Di Samarinda, ada sebuah lokasi kuliner yang dinamakan Kampung Nasi Kuning,” ujar atlet berusia 27 tahun yang kini berdiam di Singapura ini.

“Bumbunya tidak sama dengan nasi kuning di luar Kalimantan dan rasanya sangat lezat.”

Salah satu keunikan lain dari Nasi Kuning Samarinda adalah penggunaan lauknya. Mayoritas penjual nasi kuning di kota ini menggunakan lauk ikan haruan, atau ikan gabus, yang sangat terkenal. Seperti diketahui, Samarinda memiliki sungai Mahakam yang terbentang di sepanjang kota.

Ikan haruan tersebut di masak merah, atau menggunakan bumbu merah khas Samarinda, yang membuatnya terasa lebih nikmat.

Nasi kuning ini pun seolah menjadi menu sarapan wajib bagi warga Samarinda, yang dengan mudah dapat menemukannya di lokasi tersebut.

Diresmikan oleh Walikota Samarinda, Syaharie Jaang, pada tahun 2013, Kampung Nasi Kuning berlokasi di jalan Lambung Mangkurat, Kota Samarinda, dan menjadi pusat berkumpulnya para penjual nasi kuning khas Samarinda, yang hanya berjualan dari malam hingga dinihari.

Setelah peresmiannya, lokasi ini kini menjadi salah satu destinasi wisata wajib, baik bagi turis asing maupun domestik.

Selain nasi kuning, terdapat pula makanan khas Kalimantan lainnya. Para pedagang di Kampung Nasi Kuning ini juga menjajakan Sanggar Campedak, yang juga merupakan makanan khas Kalimantan.

Menu tersebut terdiri dari buah Campedak yang digoreng dengan tepung.

“Semua wajib mencoba Nasi Kuning Samarinda jika sedang melancong ke kota itu,” tutup Eko.