Fitur

Thursday Throwback: Mimpi Awal Ryogo Takahashi Sebagai Seorang Komedian

Ryogo “Kaitai” Takahashi selalu ingin menghibur para penonton, tetapi seni bela diri bukanlah menjadi satu-satunya cara untuk melakukan itu.

Penantang dalam divisi featherweight ONE Championship itu juga bermimpi meraih pencapaian besar dalam dunia komedi, di samping kariernya dalam olahraga tarung. Pada bulan April 2013, sebagai seorang atlet bela diri campuran berusia 23 tahun, ia pindah dari kota kelahirannya di Akashi, Jepang, ke ibukota negara tersebut demi mengejar mimpinya.

Ia menemukan sebuah apartemen di dekat sasana legendaris KRAZY BEE untuk berlatih, serta kemudian bergabung dengan sekolah untuk komedian bernama Yoshimoto New Star Creation (NSC) dengan teman masa kecilnya, Takuya Emi, dan membawa sketsa komedi bergaya Jepang mereka, Midi-chlorian.

Ryogo “Kaitai” Takahashi recalls the memory as a comedian with his former comedy duo partner, Takuya Emi.

“Saya juga tertarik dengan pekerjaan dalam dunia hiburan. Saat itu, saya berencana mengejar karier saya sebagai seniman bela diri, tetapi juga sebagai komedian,” sebut “Kaitai.”

Kota kelahirannya, di daerah Kansai, dikenal sebagai pusat komedi di Jepang. Namun bagi sosok baru seperti dirinya, ia harus berada dalam gemerlap lampu sorotan di kota terbesar di negara itu.

“Jika saya hanya terkenal di Kansai, saya tetap harus pergi dan menjadi terkenal lagi di Tokyo untuk mendapatkan sorotan nasional,” tambahnya. “Maka, saya kira akan lebih baik jika saya berangkat ke Tokyo sejak awal.”

Takahashi berlatih di KRAZY BEE pada pagi hari, lalu pergi ke sekolah komedi untuk mengikuti kelas-kelas dan melatih kemampuannya, sebelum menjalani pekerjaan sambilan di malam hari.

Itu adalah sebuah perjuangan keras, baik secara fisik maupun emosional, namun ia menjalaninya dengan gairah dan semangatnya.

“Saat melihat kembali ke belakang, saya tidak dapat menyembunyikan keterkejutan saya atas bagaimana saya bertahan dengan jadwal ini. Saya berusaha bertahan hidup, namun itu sangat memuaskan,” ingatnya.

Takahashi dan Emi berkomitmen mengasah kemampuan mereka dan membagikan penampilan mereka sesering mungkin dengan para ahli di NSC, tetapi ia mengakui bahwa penampilan mereka tidaklah sepenuhnya baik. Ada beberapa saat dimana penampilan mereka diterima publik, dan ada saat-saat lain dimana mereka mengetahui penampilan mereka sedikit kacau.

Namun, mereka tetap bertahan dan bahkan mencoba melibatkan seni bela diri sebagai bukti kecintaan mereka pada olahraga ini di luar dunia komedi.

“Guru kami mendorong untuk [menggunakan seni bela diri dalam skit kami], tetapi kami tidak dapat mengubah seni bela diri menjadi komedi,” sebutnya.

“Sebagian besar adalah kebanggaan kami atas potensi untuk menjadi terkenal, bukan karena latar belakang bela diri kami, tetapi tentang seberapa lucunya penampilan kami.”

Sementara itu, Takahashi tetap berlatih keras. Pada bulan Maret 2014, tepat sebelum ia menyelesaikan masa sekolahnya, ia mengalahkan Taiki Tsuchiya di Shooto untuk mencetak rekor 5-1.



Setelah lulus, mereka mulai tampil di sebuah teater umum yang dimiliki oleh Yoshimoto di daerah Shibuya, Tokyo, dan mereka pun kembali disibukkan.

Rutinitas latihan Takahashi terdiri dari sesi 90 menit di pagi hari, dan sisa harinya dihabiskan dengan bekerja sambilan dan tampil di atas panggung.

Untuk pertama kali dalam kariernya, ia kalah dua kali berturut-turut pada tahun 2014, sementara Midi-chlorian juga berjuang keras untuk dapat dikenal.

Juara Shooto Pacific Rim Featherweight ini mulai menyadari bahwa ia terlalu keras membagi waktu dan tidak memberikan yang terbaik pada dua ambisinya itu. Walau ia meyakini kemampuannya dalam dunia komedi, pasangan duet ini tidak mendapatkan kesempatan dan ia pun mengetahui ia harus berkorban.

“Ada banyak komedian yang berjuang, dan saya rasa saya tidak cukup yakin,” sebutnya.

“Saya juga serius menjalani bela diri. Tetapi saat saya mulai melihat karier saya sebagai seorang komedian, saya berhenti melakukan sparring tepat sebelum penampilan saya di panggung komedi. Saya mulai berpikir bahwa tidak akan baik bagi saya untuk tampil di depan penonton dengan mata lebam. Pada akhirnya, komedi dan bela diri mulai menjadi terpisah.”

“Saya menyadari bahwa jika saya menjalani dua kehidupan, saya tidak dapat menempatkan salah satu di atas yang lainnya. Saya berada di tengah-tengah, dan separuh jalan. Saya bertanya pada diri sendiri apa yang saya lebih ingin lakukan. Lalu saya merasa lebih bersemangat dalam seni bela diri.”

Emi mengerti keputusan sahabatnya ini saat ia sepenuhnya terjun pada kehidupan sebagai seorang atlet. Hal tersebut terbayar, dan dengan satu arah yang jelas, ia kembali tampil dan meraih enam kemenangan beruntun, bahkan saat menghadapi cedera yang mengancam kariernya.

Penampilan luar biasa tersebut, yang termasuk gelar Juara Shooto-nya, memberinya posisi dalam organisasi bela diri terbesar di dunia. Pada bulan Mei 2019, ia mencetak debut impresif di atas panggung dunia dengan sebuah kemenangan TKO atas Keanu Subba di ajang ONE: FOR HONOR.

Walau “Kaitai” kini mengetahui bahwa mengejar dua mimpi pada saat yang bersamaan adalah sebuah tugas berat, ia meyakini bahwa itu adalah sebuah pengalaman yang tak ternilai dan bagian menyenangkan dari kehidupannya.

“Sangat baik memiliki pengalaman tersebut, karena kedua hal ini sangatlah mirip terkait dengan bagaimana anda menampilkan kemampuan anda di depan para penonton,” sebutnya.

Kini, ia tidak memiliki keinginan untuk kembali ke panggung komedi setelah mengincar puncak divisi featherweight ONE. Tetapi, apakah itu berarti ia menelantarkan sisi komedi dalam dirinya?

“Tolong perhatikan penampilan saya saat saya memenangkan laga,” goda Takahashi.

“Saya memiliki setidaknya tiga aksi non-verbal, yang pastinya akan membuat para penggemar di seluruh dunia tertawa. Walau mereka tidak mengerti bahasa Jepang, saya yakin mereka akan tetap tertawa. Maka, berharaplah agar saya menang supaya anda dapat menyaksikannya!”

Baca juga: Tidak Ada Kesulitan Yang Mampu Menghentikan Ryogo Takahashi Mengejar Mimpinya