Fitur

Ditengah Kesulitan, Dzhabar Askerov Tak Lelah Menggapai Mimpi

16 Agu 2019

Dzhabar “Gengis Khan” Askerov tak pernah megarungi hidup dengan mudah, namun determinasi untuk sukses telah membantunya mengatasi berbagai rintangan yang bisa membuat kebanyakan orang menyerah.

Seniman knockout asal Rusia – yang akan menghadapi Samy “AK47” Sana pada Jumat, 16 Agustus di ajang ONE: DREAMS OF GOLD – tak pernah memalingkan pandangannya pada mimpi-mimpi yang ingin ia capai meski harus hidup menderita karena kemiskinan dan tragedi yang menimpa keluarganya.

Lewat seni bela diri, ia menumbuhkan semangat prajurit, menjadi atlet sukses, dan ia kini tinggal menghadapi satu laga lagi sebelum mencapai ONE Featherweight Kickboxing World Grand Prix final.

Mendiang ayah Dzhabar mengerti bahwa seni bela diri merupakan jalan menuju kehidupan yang lebih baik bagi anaknya, meskipun awalnya sang anak tak tertarik mengikuti latihan.

Keluarganya tak mampu, namun sang ayah memastikan bahwa anak-anaknya bisa berlatih bela diri. Ia mengatur jadwal dan memastikan tak ada diantara anak-anaknya yang bolos mengikuti latihan setelah pulang sekolah.

Judo, tinju, gulat, dan Muay Thai membekalinya dengan keterampilan yang ia butuhkan untuk memulai karir, serta karakternya – terlepas dari fakta bahwa ia tak memiliki uang untuk membeli peralatan yang ia butuhkan untuk berlatih.

Apapun itu, kesusahan yang ia alami hanya menjadi bagian dari masa mudanya yang telah membantunya membentuk mental yang kuat. Terlepas dari berbagai kesulitan, ia tak pernah merasa kecewa, dan mendedikasikan dirinya untuk terus berlatih.

“Saya harus mengenakan kimono judo milik kakak saya saat berada di kelas gulat, dan saya tak pernah mengenakan alat tinju yang layak pada tangan saya – itulah mengapa buku jari saya saat ini tak berbentuk,” kenangnya.

“Dari 40 anak di sasana, hanya 10 yang memiliki sarung tinju. Kami tak bisa membeli bahkan merk termurah, jadi saya mengenakan sarung tinju musim dingin ketika berlatih tinju.

“Ketika anda kecil, anda hanya akan menerima kenyataan dalam hidup, dan anda hanya tinggal menjalaninya.”

Lewat latihan yang ia jalani, “Gengis Khan” mulai menunjukan potensi luar biasa, namun kebesaran hatinya diuji ketika mendapati kematian ayahnya saat ia berusia 15 tahun.

Meskipun kematian ayahnya memberinya tekanan emosional yang ekstrim, tragedi tersebut nyatanya menguatkan sang atlet remaja dan mendorong dirinya lebih jauh demi meraih sukses.

“Ketika ayah saya meninggal, saya sangat terpukul. Tiba-tiba, tidak ada lagi yang membimbing saya dan mendisiplinkan saya. Saya harus mulai mendorong diri saya sendiri,” tuturnya.

“Ia telah menyirami saya dengan mimpi, hati dan jiwa dalam latihan saya yang tak bisa saya lupakan setelah kematiannya.”

Keinginan Dzhabar untuk menjadi lebih baik dalam berkompetisi telah memberinya keberanian untuk terbang ke Thailand ketika berusia 19 tahun tanpa memiliki tiket pulang kembali.

Bersama tiga temannya yang telah lebih dulu tinggal dan berlatih disana, ia memulai petualangan. Namun “Negeri Penuh Senyuman” bukanlah tempat yang selalu menyenangkan bagi sang remaja.

“Saya berharap bisa menciptakan sesuatu yang besar, namun pada awalnya saya sering mendapati diri saya berpindah-pindah dari satu tempat kontrakan ke tempat lainnya, hidup sepenuhnya bergantung pada beras dan air – saya menyantap banyak karbohidrat sebagai upaya terakhir agar tidak kurus kerontang,” jelasnya.

Mengeluh bukanlah kebiasaanya, terutama setelah merasa beruntungnya ia jika dibandingkan dengan penduduk lokal.

Contohnya, di tahun pertamanya di Thailand, Dzhabar hanya memiliki sepasang sepatu lari yang sudah semakin tak layak pakai, namun ketika ia menyaksikan bagaimana teman-temannya asal Thailand bertelanjang kaki, ia tak pernah lagi mengkhawatirkan hal tersebut.

“Saya menyaksikan para atlet di negara berkembang hidup dan berlatih dalam kondisi buruk bukan main, namun tetap mejalani hidup dengan senyuman. Saya tak mengalami kemudahan, namun orang lain melalui masa yang lebih parah,” jelasnya.

“Saya tak mampu memberli sepasang [sepatu] baru, dan hal itu membuat saya kecewa, namun tak lama kemudian saya menyaksikan beberapa petarung lokal berlari sejauh 10 kilometer tanpa menggunakan alas kaki.

“Saya sadar situasi saya tidak seburuk itu, dan itu mengingatkan saya untuk bersyukur atas apa yang saya miliki.”

Salah satu alasan warga asli Dagestan ini untuk berpindah ke Thailand adalah untuk membuat namanya dikenal dan menghasilkan uang untuk ia kirim pada keluarganya di rumah, namun ia mengalami lebih banyak kesulitan saat mulai berkompetisi.

Meski hanya mencatatkan tujuh laga profesional ketika berpindah ke Timur, Dzhabar acapkali menghadapi lawan tak seimbang yang sangat membahayakan, namun karena ia sangat ingin naik level dan mendapatkan uang, ia tak ragu mengambil setiap kesempatan.

“Bayaranya rendah, namun saya sangat butuh uang, dan kerap setuju untuk bertarung dengan siapapun saya disandingkan,” ujarnya.

“Saya sering kali dihadapkan dengan lawan-lawan yang berpengalaman, dan meskpiun saya bertanding setiap pekan, jumlah uang yang saya miliki tetap kecil.”

“Saya seperti domba yang dilemparkan pada kawanan serigala! Saya ingat bertarung lima kali dalam tiga pekan – pernah satu kali dalam kondisi demam 39,6 derajat. Wajah saya penuh rasa sakit, itu sangat gila.”

Dzhabar Askerov defeats Enriko Kehl via decision in the ONE Super Series Featherweight Kickboxing World Grand Prix at ONE: ENTER THE DRAGON in Singapore

“Gengis Khan” sering muncul dari ring dalam keadaan kelelahan dan cedera, namun meski tanpa seorang pun membimbingnya, ia tetap lanjut melangkah.

Ia percaya perlu banyak waktu sebelum karirnya mencuat karena rangkaian kekalahan yang ia terima, namun pola pikir yang ia kembangkan sepanjang hidupmya berarti bahwa kejadian tak mengenakan tak pernah membuatnya berpikir untuk mudur.

Dzhabar bertahan dan pada akhirnya, ia mulai membangun rekor impresif – dimana sekarang ia mengumpulkan rekor 108-35-2 – dan menjadi seorang Juara Dunia kickboxing sebanyak empat kali.

Kini, ia tak pernah ragu untuk terus melaju dan memenangi World Grand Prix ONE Championship senilai 1 juta dolar amerika.

“Itu membentuk karakter saya,” ujarnya.

“Saya menjadi mandiri secara finansial sejak berusia 19 tahun, dan saya mulai mengirim uang ke rumah sejak saat itu. Seni bela diri membuat saya merasa bertanggung jawab pada diri saya dan keluarga. [Seni bela diri] telah membuat saya menjadi seorang lelaki.”

Bangkok | 16 Agustus | 17:00 WIB | ONE: DREAMS OF GOLD | TV: Periksa daftar siaran lokal | Tiket: http://bit.ly/onegold19

Special Banner For ONE Championship Merchandise