Opini

Rich Franklin Tentang Kemenangan Besar Stamp Dan Kisah Penebusan

2 Sep 2019

Sebagai seseorang yang selalu bepergian, saya segera menjadi ensiklopedia untuk banyak cerita dan pengalaman menarik.

Wawasan ini menjadi alat yang menyenangkan untuk mencairkan suasana saat saya berada di kantor, dan biasanya saya tidak dapat menambahkan satu atau dua kalimat tentang apa yang saya pelajari saat berada di negara lain. Sebut saya itu “insting seorang guru.”

Saat ini, saya memiliki kolom saya sendiri, dan ini menjadi kesempatan besar bagi saya untuk mengeluarkan apa yang ada dalam pikiran saya dan berbagi dengan anda. 

Oleh karena itu, berikut adalah beberapa anekdot dan pelajaran menarik yang saya miliki untuk anda minggu ini.

Two-sport ONE World Champion Stamp Fairtex submits "Knockout Queen" Asha Roka with a TIGHT rear-naked choke in her ONE mixed martial arts debut! ????????

Two-sport ONE World Champion Stamp Fairtex submits "Knockout Queen" Asha Roka with a TIGHT rear-naked choke in her ONE mixed martial arts debut! ????????????: Check local listings for global broadcast details????: Watch on the ONE Super App ???? http://bit.ly/ONESuperApp

Posted by ONE Championship on Friday, August 16, 2019

Di dalam dunia bela diri campuran Asia saat ini, terdapat banyak perhatian yang diberikan pada takedown dan kemampuan bertahan (takedown defense), dimana ini memiliki tujuan yang baik. Bahkan dalam ONE Warrior Series, walaupun kami biasanya mengevaluasi bakat sesuai dengan kemampuan mereka secara keseluruhan, Jonathan Fong dan saya memberikan perhatian khusus terkait takedown dan takedown defense.

Sebuah tur ke beberapa sasana Muay Thai di Thailand akan membantu saya menjelaskan mengapa ini penting. Anda pasti memperhatikan bahwa lebih banyak atlet Thailand yang mampu beralih dengan mudah dari Muay Thai ke seni bela diri campuran.

Saya rasa, Muay Thai sebagai sebuah seni dapat menjadi sarana yang baik untuk sebuah transisi ke dalam seni bela diri campuran karena para atletnya melakukan berbagai langkah yang sangat baik dalam takedown defense dan takedown dengan teknik clinch mereka. Tidak seperti seni bela diri stand-up lainnya, atau yang mengutamakan serangan atas, sweep dan teknik lainnya yang mirip dengan itu terbangun secara alami ke dalam sistem mereka – dan mereka juga melakukannya secara efektif.

Kesuksesan Stamp Fairtex yang terbaru dalam gelaran ONE: DREAMS OF GOLD adalah sebuah contoh yang baik, maka biarlah saya dengan cepat menguraikan penampilannya untuk memberikan ilustrasi terkait keragaman Muay Thai yang sangat berguna dalam seni bela diri campuran.

Stamp Fairtex defeats Asha Roka via submission at ONE DREAMS OF GOLD

Saya sangat bersemangat melihat Stamp berkompetisi untuk pertama kalinya dalam seni bela diri campuran, dan anda pun dapat melihat usaha yang dilakukannya sejauh ini. Tetapi pertama kali, saya memuji Asha Roka – ia adalah lawan yang kuat. Wanita itu menunjukkan beberapa kombinasi pukulan dan menangkap kaki Stamp beberapa kali saat ia melontarkan tendangan — tetapi itu tidak membahayakan Stamp.

Penampilan Stamp saat itu cukup impresif. Ia melakukan beberapa takedown dalam ronde pertama, dan beralih ke posisi mount. Saat Asha mampu mencari jalan keluar dengan tekniknya, Stamp segera bertransisi ke side mount, menjaga posisi atas, kemudian kembali ke posisi mount.

Anda dapat melihat bahwa Stamp berani mengambil resiko apapun dalam laga tersebut, karena tiap orang yang baru dalam disiplin seperti seni bela diri campuran hanya akan duduk dalam posisi mount dan melontarkan serangan.

Tetapi, ia berani mempertaruhkan posisinya untuk mencoba kuncian armbar di dalam ronde pertama, yang menyatakan bahwa ia tidak hanya ingin berlaga di dalam olahraga ini. Ia ingin membuktikan bahwa ia akan menjadi yang terbaik.

Secara keseluruhan, saya sangat terpesona dengan gerakan takedown-nya. Ia melakukan pekerjaan yang bagus dalam mendayagunakan kemampuan Muay Thai-nya, menggunakan clinch untuk menarik seseorang ke atas kanvas. Melihat bahwa dirinya meraih kemenangan submission pada akhirnya hanyalah sebuah penutup yang manis.

Stamp Fairtex submits Asha Roka via rear-naked choke

Stamp mungkin dapat membuatnya terlihat saat mudah, seolah ia sepenuhnya mengandalkan teknik Muay Thai yang ia miliki. Tetapi, ini bukan isu utamanya.

Ia jelas telah berusaha keras mengembangkan teknik grappling miliknya, dengan teknik jiu-jitsu dan transisi tekanan dari posisi atas, serta banyak aspek lainnya yang penting bagi sebuah ground game yang baik. Tanpa hal itu, tidak ada gunanya. Tidak ada pengganti untuk sebuah kerja keras.

Jika ada yang mempertanyakan, hal ini tidak eksklusif untuk Muay Thai atau Thailand. Jika anda mengunjungi sebuah tempat seperti Jepang, dimana judo menjadi sebuah seni yang terpatri dalam tradisi, dan anda akan menemukan para atlet Jepang berbakat yang memiliki kemampuan takedown alami. Bukanlah sebuah kejutan bahwa mereka dapat meraih kesuksesan internasional yang lebih besar.

Di luar segala keraguan, takedown dan takedown defense adalah sebuah gerakan penentu yang utama, terutama di belahan dunia ini. Takedown mengijinkan anda untuk menentukan kapan dan dimana laga tersebut berlangsung – apakah tetap dalam posisi berdiri atau apakah akan berlangsung di bawah. Para seniman bela diri yang mengacuhkan aspek ini akan menempatkan diri mereka sendiri dalam posisi yang tidak menguntungkan.

Inilah pendapat saya yang utama: jika para atlet di sini ingin menjadi lebih kompetitif dalam panggung internasional, maka penting untuk memastikan bahwa takedown dan takedown defense berada di daftar teratas dalam agenda latihan mereka.

Sekarang, mari kita membahas sesuatu yang lebih lucu.

Seperti yang anda ketahui, OWS menyelenggarakan enam acara dan 36 episode dalam satu tahun. Diantara setiap petualangan dan perjalanan kami, terdapat banyak sekali momen yang sangat lucu, dimana saya bahkan lupa dengan berbagai hal yang terjadi dalam sebuah perjalanan sampai kami kembali dan menonton berbagai rekaman dan film. Inilah beberapa momen favorit saya.

OWS berada di Bali dengan seorang atlet berbakat, Rengga Raphael, dan kami memiliki sebuah tantangan – Jonathan, Rengga dan saya sendiri melakukan sebuah kompetisi memasak dengan menu Ayam Rica Rica. Makanan tersebut adalah hidangan khas Sulawesi Utara, dimana potongan ayam diracik dengan serai, daun jeruk nipis, serta cabai dan lada giling. Sebagai seorang kelahiran Amerika yang mencintai makanan, saya dapat mengatakan bahwa itu sangat lezat.

Menariknya, latar belakang cerita ini adalah bahwa Rengga sempat mempelajari kuliner di sebuah perguruan tinggi dan melepaskan itu demi mengejar karir seni bela diri campuran. Sebagai seseorang yang bertumbuh besar dengan Ayam Rica Rica, reputasinya dipertaruhkan jika ia tidak dapat memasak hidangan tersebut dengan baik.

Jauh sebelumnya, ketika Jonathan dan saya berada di Tokyo tahun lalu, ia mencurangi saya dalam sebuah kompetisi untuk menarik becak tradisional. Saya tidak melupakan itu, dan kembali pada tantangan ini, Jonathan berpikir bahwa kami akan menghidangkan Ayam Rica Rica, tanpa menyadari bahwa saya hanya ingin ia menerima karmanya.

Saat tantangan tersebut dimulai dan kami harus berangkat ke pasar untuk membeli bahan makanan, ia terlebih dahulu beranjak ke mobil dengan niat meninggalkan saya. Kesalahan besar. Saya mengantisipasi hal ini dengan mencabut kabel batere dari mobil tersebut. Saya berangkat dengan menaiki motor saya, menikmati sebuah perjalanan yang menyenangkan dan 20 menit keunggulan waktu.

Itu tidak cukup. Setelah Tokyo, saya merasa harus mendominasi Jonathan sepenuhnya dalam tantangan ini. Keinginan untuk menang sangat kuat dan mampu membuat saya meminta seorang asisten rumah tangga, yang tinggal bersama kami di Bali, untuk memasak makanan tersebut bagi saya.

Sementara kami bergegas melakukan persiapan, ia akhirnya secara tak sengaja menyayat jari saya dengan pisau daging. Saya tidak dapat menghentikan darah yang keluar. Hal itu tentunya telah dipotong dari episode yang ditayangkan, tetapi dengan tangan saya terbalut perban dari kertas tisu adalah sebuah momen paling tidak masuk akal di OWS.

Tetapi ini semua terbayar saat melihat ekspresi Jonathan yang tidak senang dan terkejut melihat sambal giling saya yang sudah tersedia saat ia kembali dari pasar. Tentunya, Rengga memenangkan tantangan ini, dan itu bukanlah sebuah akhir yang saya pikirkan untuk pembalasan dendam saya, tetapi itu adalah cerita yang ‘terhidang’ dengan baik pada akhirnya!

Walau begitu, momen ini membuat saya tersenyum tiap kali saya melihat kembali ke setiap koneksi yang kami bangun.

Terlebih lagi, OWS berada di dalam “bisnis yang melibatkan manusia,” dan diluar dari merekrut atlet berbakat, saya mendapatkan banyak sahabat di seluruh Asia sejak kami memulainya. Saya pastinya menantikan saat dimana kami dapat mengunjungi Rengga lagi di Bali.