Opini

Shinya Aoki’s ONE 101: Seni Kuncian Sendi

Siapapun yang belum pernah berlatih atau mempraktekkan seni bela diri mungkin mengira kuncian sendi (atau Kansetsu-waza dalam bahasa Jepang) sulit dimengerti dan dapat menyebabkan cedera.

Karena saya telah cukup lama aktif dalam dunia bela diri, persepsi saya tentang cedera yang disebabkan oleh seni bela diri sangatlah berbeda dari pengertian publik pada umumnya.

Beberapa hari yang lalu, dalam sebuah diskusi santai, saya mendengar bahwa permainan bawah, atau ground work, sangatlah sulit dimengerti. Saya mengira jika mereka mengerti teori dan cara kerjanya, itu akan membantu mereka memiliki pandangan yang lebih dalam.

Ditambah lagi, ini akan dapat membantu mengurangi ketakutan akan resiko cedera dan mendorong banyak orang untuk mencoba seni bela diri. Oleh karena itu, saya ingin menampilkan topik berjudul, “Apakah kuncian sendi berbahaya?” dalam kolom ini.

Shinya Aoki celebrates his defeat of Honorio Banario at ONE: CENTURY

Pertama, marilah kita menjawab pertanyaan, “Dimanakah kuncian sendi dapat diaplikasikan dalam kompetisi bela diri?”

Dalam judo kontemporer, para atlet diizinkan mengaplikasikan kuncian sendi hanya pada siku. namun, dalam bela diri campuran, para penggemar dapat mengamati berbagai jenis teknik kuncian karena para atlet dapat menyerang berbagai sendi, seperti leher, pundak, lutut, pergelangan kaki dan tangan, serta sendi pinggul.

Lain lagi dalam pertarungan militer, yang terfokus pada menaklukkan musuh, kuncian sendi pada jari terkadang dilakukan, dimana dalam seni bela diri campuran itu akan melanggar peraturan karena sendi-sendi pada jari ini sangat rentan.

Jika para atlet diizinkan untuk memanipulasi seni jari, maka laga-laga ini tidak akan berjalan semestinya. Oleh karena itu, saya rasa itulah alasan mengapa kuncian tersebut dilarang, beserta dengan gerakan ilegal lainnya seperti colokan ke mata dan serangan ke selangkangan lawan.



Terlepas dari kekuatan yang anda gunakan, anda tidak akan dapat mengeksekusi sebuah kuncian sendi sebelum anda mengerti mekanismenya.

Kuncian sendi seluruhnya bergantung pada teori. Saat anda mengaplikasikan kuncian sendi, anda harus mengerti mekanismenya secara menyeluruh, atau anda hanya akan berakhir dengan pose yang mirip [tanpa dampak apapun]. Anda tidak hanya wajib mengerti seluruh teori tentang teknik tersebut, tetapi juga anatomi tubuh manusia.

Banyak atlet hanya mempelajari teori dari teknik-teknik ini, namun mereka yang memiliki keunggulan dalam kuncian sendi memiliki pengetahuan menyeluruh tentang tubuh manusia.

Walau seorang grappler dapat menderita cedera atau mencederai lawannya, seorang grappler akan dapat menebak tingkatan cedera dan waktu yang dibutuhkan untuk memulihkan diri. Saya rasa ini disebabkan karena mereka memiliki pengertian mendalam terkait struktur tubuh manusia.

Japanese martial arts icon Shinya Aoki locks in a triangle choke

Secara pribadi, saya belum pernah menderita cedera dari kuncian sendi, namun saya terkena cedera saat gagal mengeksekusi lemparan, atau saat saya tidak mampu bereaksi atas serangan lawan. 

Saya rasa resikonya lebih tinggi saat saya mempraktekkan judo karena itu melibatkan berbagai lemparan.

Kita mendorong diri kita sendiri untuk tetap berdiri dan menghindari lemparan. Sebagai hasilnya, percobaan ini kadang menyebabkan cedera. Saat seseorang terlempar di dalam judo, itu memberi poin atau ippon, yang dapat berakhir dengan kemenangan bagi lawannya.

Tetapi dalam seni bela diri campuran, kita dapat menghentikan kejatuhan kita dan tetap berlaga.

Ini adalah peraturan yang lebih aman, jika dilihat dari satu perspektif, dan di bawah peraturan bela diri global, adalah ilegal untuk melempar seorang lawan jika kepalanya membentur kanvas terlebih dahulu. Kita dapat mengatakan bahwa ini sangat memperhatikan keamanan para atlet.

Saat terkait dengan laga antara dua spesialis kuncian sendi, ini akan menjadi uji logika antara keduanya. Anda dapat mengamati serangan dan pertahanan mereka layaknya permainan catur.

Pada bulan Mei 2017, saya berkompetisi melawan Garry “The Lion Killer” Tonon dalam sebuah Pertandingan Super Grappling, yang terdiri dari satu ronde berdurasi 15 menit. Saya sangat menikmatinya karena itu seperti kami saling membaca pergerakan berikutnya.

Dalam laga ini, saya terpaksa melakukan tap out karena terkena teknik khasnya – kuncian heel hook.

Menuju akhir laga itu, Tonon mengambil posisi penting yang disebut sebagai “the honey hole,” dimana ia menyarangkan kakinya menyerupai angka empat, atau kuncian figure-four, yaitu sebuah teknik yang sangat menguntungkan untuk memanipulasi sendi kaki. Lalu, ia meraih pergelangan saya dan mengambil waktu sejenak sebelum ia menyarangkan kuncian submission itu.

Pada saat itu, saya menyadari bahwa saya tidak dapat membalikkan keadaan, maka saya memutuskan untuk tap out. Tonon melepaskan kuncian itu sebelum saya menderita cedera apapun pada pergelangan saya, oleh karena itu sama sekali tidak ada kemungkinan cedera.

Ini berlaku sama dengan kuncian sendi yang lainnya. Jika kedua atlet mengerti mekanisme dari teknik tersebut, mereka tidak akan terluka.

Dengan pengertian yang cukup atas mekanisme dan teori di balik seni kuncian sendi, anda akan melihat adu kepintaran yang terjadi saat banyak orang menyangka permainan ini sangat membosankan.

Japanese star Shinya Aoki makes his way to the Circle for his rematch against Eduard Folayang

Jangan takut berlatih seni bela diri atas asumsi bahwa anda akan cedera.

Ada beberapa ajang bagi penggemar bela diri dimana anda dapat mencoba berbagai teknik bersama para atlet

Jika mencoba hal ini secara fisik membuat anda tidak nyaman, maka anda dapat mempelajari dasar-dasar dari kuncian sendi yang akan meningkatkan pengalaman anda saat menonton seni bela diri campuran di masa yang mendatang.

Selama siaran langsung dalam tiap ajang ONE, para komentator selalu dengan sabar menjelaskan apa yang terjadi di atas kanvas. Ini dapat sangat membantu dan akan membuat anda lebih menikmati tiap laga yang disajikan.

Baca juga: Perjalanan Mitch Chilson Dari Circle Menuju Meja Komentator