Fitur

Kemampuan Bi Nguyen Mengubah ‘Rasa Sakit Menjadi Kekuatan’

8 Jul 2019

Bi “Killer Bee” Nguyen tidak sedikitpun menghindar saat membicarakan masa-masa kelam dalam kehidupannya demi membantu mereka yang mengalami hal serupa.

Selagi atlet keturunan Vietnam-Amerika berusia 29 tahun ini mempersiapkan diri menghadapi Bozhena “Toto” Antoniyar dalam ajang ONE: MASTERS OF DESTINY pada tanggal 12 Juli nanti, ia juga mengerjakan sebuah buku yang menceritakan kisah luar biasa tentang bagaimana melewati berbagai kesulitan.

Riwayat hidupnya mencakup rangkaian kekerasan domestik yang dialaminya selama empat tahun bersama mantan kekasihnya.

Saat Bi berusia 15 tahun, ia meninggalkan keluarganya di California dan tinggal bersama seorang teman di Houston, Texas dan bertahan menghidupi dirinya sendiri.

Sayangnya, ia juga menjalin sebuah hubungan dengan pria yang menghancurkannya berkeping-keping – baik secara fisik maupun mental – dan menjauhkan dirinya dari setiap orang yang ia kenal dan cintai.

“Jika anda dapat membayangkan menerima semua kekerasan verbal dan fisik, ini berarti anda harus menahan diri untuk tidak berbicara dan tidak melakukan apapun yang ingin saya lakukan secara fisik,” ungkap Bi.

“Apapun yang ingin saya lakukan harus saya tahan. Saya tidak nyata. Saya tidak memiliki teman, saya tidak memiliki keluarga, saya hanyalah sebuah cangkang bagi diri saya.”

Empat tahun penuh kekerasan yang dilaluinya akhirnya berakhir saat mantan kekasihnya itu ditangkap dan dipenjara karena kejahatannya. Bi mungkin tidak akan pernah lolos jika polisi dan sistem hukum di Amerika Serikat tidak mengintervensi kehidupannya.

Setelah melewati keadaan yang sangat buruk ini, Bi sekali lagi terpaksa bertahan hidup selagi berusaha untuk pulih dari siksaan fisik dan emosional yang dialaminya bertahun-tahun itu.

“Saat ia [mantan kekasihnya] dipenjara dan saya berdiri sendiri, ini adalah sebuah perjalanan kilas balik yang emosional, sebuah perjalanan kilas balik mental, perjalanan kilas balik finansial – juga secara fisik,” katanya.

Penyelamatan datang dalam bentuk seni bela diri saat ia menginjak sebuah sasana dan pertama kalinya ambil bagian dalam kelas Muay Thai.

Muay Thai memberikan jalan keluar bagi Bi untuk mengambil kembali kekuatannya dari penyiksanya, setelah ia merasa tidak berdaya dalam waktu yang cukup lama.

“Saya mengambil kelas Muay Thai untuk sekedar membela diri, tetapi juga untuk seuah pemberdayaan – mencoba mencari arah bagi diri saya,” jelasnya.

“Memukul samsak, secara fisik, tidaklah berbanding. Tetapi ini yang diminta oleh dokter. Ini sempurna – sesuai dengan apa yang saya cari pada waktu itu, dan hal ini masih sama sampai sekarang.”

Rangkaian sesi latihannya menjadi pengalaman menyakitkan, sekaligus menjadi terapi, yang akhirnya berubah menjadi tujuan baru yang menggairahkan.

Ia pun akhirnya menjalani pertandingan awalnya di dalam ring, sebelum seni bela diri campuran kemudian memberikan Bi sebuah karir dan kesempatan untuk bertanding di panggung dunia di depan jutaan penonton di berbagai negara, serta menjadikannya seorang panutan.

Atlet berumur 29 tahun terlahir kembali melalui kekuatan transformasi dari seni bela diri, tetapi ia merasa ragu untuk menyarankannya pada tiap orang yang juga melalui kesulitan berat. Sebaliknya ia berharap mereka dapat menemukan sesuatu, apapun yang dapat membantu mereka seperti apa yang ia dapatkan dari latihannya.

“Seni bela diri telah menjadi bagian terbesar [dari pemulihan saya], tetapi ini adalah sebuah perjalanan panjang. Hal itu memberi saya dasar dan keyakinan yang menjadikan saya seperti sekarang,” kata Bi.

“Ini bukan secarik kertas dengan arahan. Ini adalah sesuatu seperti, ‘Hei, lakukan sesuatu yang anda takuti, lakukan sesuatu yang anda kira tidak bisa anda lakukan.’ Saya langsung memilih seni bela diri campuran, dimana hal ini tidak harus dilakukan oleh wanita Asia dengan tinggi 149 cm.”

“Pesan saya adalah untuk melakukan sesuatu yang orang lain pikir anda tidak dapat lakukan, atau sesuatu yang anda pikir tidak bisa anda lakukan. Tidak harus mengikuti mengikuti jejak saya, tetapi anda dapat mengambil semangat yang saya miliki.”

Saat ini, setelah beberapa tahun lepas dari mimpi buruknya, Bi kerap berbicara tentang isu seperti kekerasan dalam rumah tangga karena ia ingin menjadi contoh bagi para wanita lainnya yang mungkin cukup lama hidup dalam rasa takut seperti dirinya.

Betapapun hal itu menyakitkan untuk dilewati, Bi merasakan kebahagiaan ketika berbagi pengalaman, karena ia yakin orang lain akan menyadari bahwa mereka tidak sendirian dan dapat mencari jalan keluar, sama seperti dirinya.

“Ini sangat luar biasa, dan saya tidak akan pernah merasa cukup untuk membicarakannya,” ungkapnya.

“Saya tidak pernah merasa cemas atau tidak percaya diri saat membicarakan pengalaman kekerasan yang saya alami, karena saat ini saya telah menang. Saya merubah rasa sakit saya menjadi kekuatan. Saya ingin para wanita lainnya mampu melakukan itu juga.”

“Terkadang, saat melihat kehidupan saya, saya tidak dapat menyangkal bahwa ini adalah jalan yang memang harus saya tempuh. Ini adalah cara saya menggunakan panggung yang tersedia.

“Saya adalah seorang wanita yang dahulu terbiasa dipukuli – pagi sampai malam – dan saat ini saya adalah seorang atlet bela diri campuran yang kuat dalam [organisasi] promosi yang terbesar di dunia, dan memiliki keberanian untuk membicarakan semua itu. Hal ini sangat luar biasa.”