Fitur

Dalam Tiap Kemenangan, Aleksi Toivonen Beri Kebanggaan Bagi Mentornya

Aleksi “The Giant” Toivonen kini mewakili Evolve saat tampil dalam organisasi bela diri terbesar di dunia, namun perjalanannya dalam olahraga tarung dimulai di Lahti, Finlandia, di bawah bimbingan pelatih lamanya, Jan Laitiainen.

Sebelum ia menghadapi penantang peringkat kelima divisi flyweight Reece “Lightning” McLaren di ajang ONE: REIGN OF DYNASTIES pada hari Jumat, 9 Oktober, Toivonen berbicara tentang sesosok pria yang memberi dampak terbesar dalam hidupnya – baik di dalam dan di luar arena.

“Orang tua saya menjadikan diri saya seperti saat ini, tetapi Jan juga telah menjadi figur ayah bagi saya,” kata pria berusia 28 tahun ini.

“Bertumbuh di berbagai sasana bela diri, Jan selalu membimbing saya melewati kesulitan dan kejayaan – seluruh waktu tersulit dan waktu terbaik dalam hidup saya – serta mengajar saya bagaimana cara menjadi seniman bela diri, petarung dan pria yang lebih baik.”

Namun itu tidak dimulai seperti itu.

Toivonen bertemu Laitiainen sebagai anak berusia 10 tahun, tepat setelah ia melepaskan olahraga hoki dan sepak bola untuk terfokus pada seni bela diri tradisional. Dan pada awalnya, atlet muda ini tak selalu mudah diatur oleh pria yang akhirnya menjadi mentornya itu.

“Ia berbobot kurang lebih 100 kilo – pria yang besar – dan memiliki tato dimana-mana. Ia selalu nampak marah dan kesal pada saya. Saya sangat takut pada dirinya,” kenang Toivonen sambil tertawa. “Tapi saat saya mulai bertumbuh besar, ia mulai membawa saya di bawah bimbingannya.”

Keduanya mulai membangun sebuah hubungan layaknya ayah dan anak, dimana kapan pun Toivonen merasa dirinya berada di luar jalur yang tepat dalam hidup dan seni bela diri, Laitiainen akan ada di sana untuk menegurnya dan membawanya kembali ke arah semula.

“Ia teramat sangat membantu saya dalam kehidupan saya, membimbing saya, serta mengajarkan bagaimana cara bersiap untuk kompetisi,” lanjut atlet flyweight ini. “Ia selalu ada di sana dalam tiap langkah saya, sejak saya masih anak-anak sampai pada momen ini.”

Dengan dukungan Laitiainen, Toivonen dua kali menjadi Juara Bela Diri Campuran Amatir Nasional Finlandia dan tiga kali Juara IBJFF No-Gi Eropa – semuanya sebelum ia memasuki usia yang ke-18.

Tak lama kemudian, atlet berbakat besar ini ingin menguji dirinya pada tingkatan profesional, maka ia mendedikasikan lebih banyak waktunya dalam dunia bela diri campuran.

Di bawah bimbingan pelatihnya, Toivonen segera meraih enam kemenangan di tanah kelahirannya, lima melalui submission dan satu TKO. Ia berkata bahwa kesuksesan itu sebagian besar diraih berdasarkan filosofi latihan dan kerendahan hati Laitiainen.



“Banyak pelatih yang berpikir mereka tahu yang terbaik, seperti mereka dapat mengajarkan anda segala sesuatunya, namun ia selalu mengatakan pada saya untuk berlatih bersama orang-orang lain dan mengambil yang bagus dari semua orang,” kata pria asal Finlandia ini.

“Saat terkait perkembangan teknis, ia selalu berpikiran terbuka.”

“Sama seperti saat terkait dengan grappling, jika saya menemukan spesialis kuncian leglock, saya berlatih dengan mereka. Jika saya menemukan para atlet yang memberi tekanan terbaik, saya berlatih dengan mereka. Petinju terhebat, kickboxer terhebat – cobalah memilih dan memilah guru-guru terbaik, kompetitor terbaik, serta cobalah meniru mereka dan menjadikan itu milik anda.”

“Ia selalu memberi saya saran untuk berkelana dan belajar dari semua orang untuk menjadi versi terbaik dari diri saya sendiri.”

Pada bulan November 2018, Toivonen mengambil saran tersebut dan memutuskan untuk mengikuti uji coba di Evolve Fight Team. Terlepas kesempatan luar biasa itu, ia mengetahui bahwa jika ia lolos ke dalam kelompok ini, itu akan membutuhkan pengorbanan – meninggalkan teman, keluarga, rumahnya, serta yang terpenting, Laitiainen.

Tanpa ragu, sang pelatih tetap memegang teguh filosofinya dan memberi izin bagi “The Giant.” Dengan itu, atlet flyweight ini meninggalkan cuaca dingin di Finlandia dan memasuki udara tropis Singapura untuk menjalani uji coba tingkat global yang pertama dari sasana besar itu.

“Ia selalu mendukung saya untuk menjadi diri saya sendiri, untuk mencari kesempatan, untuk menjadi lebih baik, serta untuk membangun karier saya,” kata Toivonen. “Maka, itu sudah pasti otomatis. Kami berdua berasumsi bahwa jika saya mendapatkan posisi itu, saya akan terbang [ke Singapura].”

Itulah yang terjadi saat para pelatih Evolve melihat betapa besar potensi yang dimiliki atlet Finlandia ini.

Kini, Toivonen yang tak terkalahkan telah mencetak nama besar bagi dirinya sendiri dalam dunia bela diri campuran. Dalam debut promosionalnya di ajang ONE: MASTERS OF DESTINY, sebagai contoh, ia menjaga tingkat penyelesaian 100 persen miliknya dengan meraih kemenangan submission pada ronde pertama atas atlet unggulan Jepang, Akihiro “Superjap” Fujisawa.

Namun saat kariernya itu mulai berkembang, Toivonen menderita cedera – yaitu ACL yang robek – sementara ia berlatih dan terpaksa berada di sisi ring selama rehabilitasi yang cukup panjang. Dan 15 bulan kemudian, ia pulih dan tak sabar menunggu laga bersama McLaren, dimana ia akan meneruskan misinya demi menjadi Juara Dunia ONE Flyweight dan meraih posisi di daftar Peringkat Resmi Atlet ONE.

Namun, sejauh apa pun kariernya membawa dirinya jauh dari rumah, dan tak peduli sesukses apa pun dirinya, bintang Finlandia ini akan selalu mengingat pria yang mempersiapkan dirinya untuk momen ini.

Di tiap wawancara, tiap laga, tiap kemenangan, itu semua selalu ada kaitannya dengan Jan,” tegas Toivonen.

“Tiap langkah yang saya ambil dalam karier saya, tiap pilihan, ia memiliki andil di dalamnya. Saya kira dalam kemenangan, ia mengetahui ada bagian miliknya. Saya kira itu membuatnya bangga.”

Baca juga: Aleksi Toivonen, Yang Tak Terkalahkan, Ingin Cetak Submission Atas McLaren