Fitur

Bagaimana Danny Kingad Selamat Dari Kehidupan Jalanan

4 Mar 2018

Dari luar, Danny “The King” Kingad nampak seperti telah siap dan menemukan tujuannya.

Warga Baguio, Filipina itu berlatih di Team Lakay, dimana ia adalah juara wushu, serta baru saja menantang gelar Kejuaraan Dunia ONE Flyweight. Dan, pada usianya yang ke-22, ia baru mengawalinya.

Tetapi, kehidupan tidaklah selalu menjanjikan bagi atlet berbakat ini.

Saat Kingad masih remaja, ia terjatuh pada pergaulan yang buruk dan sangat terpengaruh untuk menjalani hidup yang sama sekali tak ia banggakan.

“Saya kehilangan arah saat itu saat saya masih di sekolah dasar. Saya terjatuh pada pergaulan yang buruk,” sebutnya.

“Saya dan teman-teman saya saat itu akan membolos sekolah. Saya dua kali dikeluarkan dari sekolah. Saya tak akan pulang, dan orang tua saya akan pergi mencari saya. Terkadang, mereka akan menemukan saya tertidur di jalanan.”

Seperti banyak pemuda kurang beruntung lainnya di Filipina, Kingad bertumbuh dewasa di keluarga miskin yang berjuang untuk menaruh makanan di meja setiap harinya. Keluarganya berusaha bertahan hidup hari demi hari. Kadangkala, hal menjadi sangat buruk, dan ia tak dapat memikirkan masa depan bagi dirinya kecuali minum-minum, merokok dan menjelajahi jalanan di kota.

“Saya tidak memiliki apa pun saat itu,” lanjutnya. “Saya bahkan tak memiliki seni bela diri.”

Hal itu menjadi semakin buruk. Ayah Kingad meninggal dunia saat ia berusia 8 tahun, dan ia teringat bahwa dirinya hancur pada saat itu. Anak ini sangat dekat dengan ayahnya, maka untuk kehilangan dirinya pada usia semuda itu sangatlah menyakitkan.

“Setelah kehilangan ayah saya, saya terjatuh pada banyak hal-hal buruk,” akunya. “Saya akan menjual barang-barang bajakan di jalanan. Saya bahkan terkejut melihat saya melewati sekolah menengah atas.”

Pada tahun ketiganya di Pinsao National High School, melalui bantuan dari sepupunya Roldan Sangcha-an, yang sudah menjadi anggota Team Lakay, “The King” menemukan gairah yang akan mengubah hidupnya.

Sangcha-an membantu Kingad untuk masuk dalam dunia wushu, serta benar-benar mendorongnya untuk mulai berlatih. Itulah saat ia mulai merasakan perubahan.

“Keluarga saya tak pernah menyerah pada diri saya. Mereka tetap mendorong saya bahkan ketika saya menolak. Saya tak ingin membuat mereka kecewa,” katanya.

“Saat saya kelas dua SMA, saya menemukan seni bela diri. Sejak itu, kehidupan saya berubah. Saya menyadari bahwa saya sedikit menyia-nyiakan kehidupan saya, dan tiba-tiba, terdapat seluruh hal positif ini yang datang dari seni bela diri. Saya perlahan memisahkan diri saya dari seluruh kenakalan itu dan membuang kebiasaan buruk saya. Itu tidak mudah, namun saya mendapatkan dukungan keluarga.”

Bakat alami Kingad dalam wushu dan dedikasinya untuk seni bela diri itu membawanya masuk ke University Of The Cordilleras, dimana ia menjadi anggota kunci dari tim kompetisi sekolah itu. Di bawah bimbingan pelatih Mark Sangiao, ia meraih kemenangan dalam kejuaranan wushu regional pada tahun 2015.

Sangiao, tentunya, juga menjadi kepala dari Team Lakay, tim bela diri paling terkenal di Filipina. Kingad bergabung sebelum ia meraih pencapaiannya dalam wushu, dan ingin memulai karier yang sukses dalam arena.

Daripada menjual barang-barang palsu, terlibat dalam kenakalan dan tidur di jalanan, “The King” kini menemukan dirinya menghabiskan sebagian besar waktunya di sasana. Ia bahkan mulai tidur di sasana, karena teman-teman satu tim lainnya melakukan itu juga.

“Saya akhirnya menemukan sesuatu yang membakar gairah saya, serta membuat saya tetap stabil dan rendah hati,” jelasnya.

“Saya ingin menjadi seperti mereka, [rekan satu tim saya]. Kami membantu satu sama lain. Saya tak ingin kembali ke kehidupan lama saya, maka saya juga memisahkan diri dari kumpulan yang buruk. Saya memiliki determinasi untuk tidak akan pernah kembali ke dalam kehidupan itu.”

Kini, dengan dedikasi penuh ke dalam misinya dalam dunia bela diri, Kingad memulai perjalanan untuk kembali ke perebutan gelar Juara Dunia divisi flyweight. Bakat muda ini berhadapan dengan Sotir “The Trouble” Kichukov di ajang ONE: VISIONS OF VICTORY hari Jumat, 9 Maret ini, di Axiata Arena, Kuala Lumpur, Malaysia.

Saat ini, ketika Kingad melihat kembali ke dalam kehidupannya dan semua yang telah dilewatinya untuk berada pada posisi ini, ia jelas merasa sangat beruntung – karena ia telah menemukan seni bela diri saat itu, serta merasa beruntung untuk memiliki sistem pendukung yang tak pernah menyerah akan dirinya.

Sayangnya, kenyataannya adalah bahwa anak muda lain yang mengalami kesulitan yang hampir sama dalam kehidupan mereka mungkin tak seberuntung dirinya. Bagi mereka, Kingad memiliki pesan.

“Untuk generasi berikutnya, saya hanya ingin mengatakan: temukan seseorang yang membuat anda sangat bersemangat, dan kejar itu. Itu akan menyelamatkan hidup anda, sama seperti seni bela diri menyelamatkan hidup saya. Seni bela diri mengubah segalanya.”

Ikuti perkembangannya

Bawa ONE Championship kemana pun anda pergi! Daftarkan diri untuk mendapatkan akses ke berita terbaru, berbagai tawaran spesial dan kursi terbaik dalam gelaran langsung kami.
Dengan mengirimkan formulir ini, anda menyetujui pengumpulan, penggunaan dan pembukaan informasi anda berdasarkan Privacy Policy kami. Anda dapat membatalkan (unsubscribe) dari jenis komunikasi ini kapan saja.